Cerita Sex

Cerita Panas (HOT STORY)

Bagi anda para pemuda dan pemudi atau yg pernah muda(i) pasti taukan yang namanya Cerita Panas? ada yang jawab iya, manggut-manggut dan ada yang penasaran. Nah pada tulisan ini saya akan  memaparkan beberapa cerita HOT yang asli Hot dan pastinya akan mengusik ketenangan batin anda sekalian, daripada penasaran silahkan dibaca aja dan selamat menafsirkan sendiri.
Suatu hari kami semua berada di kampus, tepatnya disalah satu kampus ternama di kota metropolitan di South Sulawesi ini. Sembari menunggu salah seorang bapak dosen yang terhormat kami berbincang dilobi. Bukan tanpa alasan sedari pagi kami sudah berdiri di lobi jurusan, semua itu semata-mata hanya untuk sebuah nilai yang tak kunjung juga diberikan setelah kami telah menjalani ujian untuk mata kuliah beliau dan pada hari ini kami bertekad akan tetap menunggu sang dosen dan akan melakukan apapun yang belia perintahkan agar nilai tersebut dapat diberikan.
Setelah menunggu cukup lama jam di dinding pun menunjukkan pukul 11.30 wita, pak dosen yang kami tunggu telah menyelesaikan kegiatan mengajarnya hari ini. Senyum semanis mungkin kami kembangkan plus kata-kata manis dan sedikit merengek manja dengan harapan beliau mau memberikan nilainya hari ini. Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya belia memberikan tawaran untuk mengikutinya kerumah karena alasan beliau nilai tersebut ada di rumah dan kalau harus diambil hari ini artinya kami mau tak mau serta sedikit terpaksa harus ke rumahnya. Berat hati kami manggut-manggut saja seperti sapi di cocok hidungnya, dengan polosnya sepolos-polosnya mahasiswa yang masih imut dan ranumnya kami setuju. Beliau tersenyum menang dan seakan ada rencana lain yang ia persiapkan untuk kami di rumahnya. sembari melihat detak jarum jam di pergelangan tangannya, beliau berkata “kalian bawa kendaraan sedirikan?ikuti saja saya ke rumah, ok.” seperti tersihir kami semua kompak menjawab “baik, pak”.
Berangkatlah kami menuju rumah sang dosen yang pada hari ini menentukan nasib nilai kami. Tekad untuk melakukan apapun demi mendapat nilai hari ini membuat kami harus menguatkan hati apapun yang terjadi. Kami beriringan dengan mobil sang dosen. Kiri kanan,kiri kanan, wah rupanya rumah belia berada dalam sebuah kompleks yang tak begitu jauh dari kampus hanya saja blok nya harus berbelok-belok saking lajunya mobil beliau kami sempat kehilangan arah dan kesasar. Setelah bertanya kesana-kemari akhirnya kami menemukan rumah beliau. Suasana di komplek hari itu sangat hening bahkan mendekati senyap seakan tidak ada penghuni pada setiap deretan rumah-rumah di sini.
Pak dosen telah berdiri depan pagar rumahnya, tersenyum sedikit berbeda. Apa yang ada dalam pikirannya. “Dari mana?kok lama sekali nyampenya?,”tanya sang dosen. “kesasar pak sampai kebelakang, maaf pak.”
“oh begitu, eh tadi mau minta apa?nilai yah? tapi tunggu sebentar yah!” kata beliau dari balik pagar rumahnya, kemudian berlalu masuk ke dalam rumah tanpa mempersilahkan kami masuk meski hanya di bernaung di teras rumahnya. “Tunggu saya di situ sebentar, awas jangan kemana-mana,”pesan beliau lagi sebelum seluruh tubuhnya menghilang dibalik pintu rumahnya,kami hanya mengangguk mengiyakan. kami semua menunggu dibawah tiang listrik, tak ada pilihan tempat bernaung selain berjongkok dibawah tiang listrik yang berdiri kokoh tepat di depan pagar rumah sang dosen.
Jarum jam telah bergeser dari angka 12.00 menuju 13.00 sudah sejam. Cuaca hari ini sangat tidak bersahabat, tidak ada hembusan agin sepoi-sepoi hanya hembusan angin berdebu yang membuat dada sesak saat menghirupnya.  Matahari hari itu seakan berKloning menjadi dua, sangat panas, keringat membasahi setiap kemaja kami. Gersang dan senyap lagi hanya pemandangan itu yang kami dapat. Kemana perginya pak dosen tadi tidak ada tanda-tanda pergerakan dari rumah beliau. Kulit rasanya terbakar dan sangat lepek (bergetah) bahkan penderitaan ini akan semakin ganas bila hari ini adalah salah satu dari hari pada bulan ramadhan. Kering ditenggorokan, nada perut yang tak lagi beraturan semakin menambah beban ini apalagi nilai yang tak kunjung diberikan.
Pukul 13.45 wita, tanda-tanda nilai dan juga sang dosen keluar dari rumah bercat putih dan membuka pagar besi itu tak juga ada. 5 menit kemudian pintu terbuka, kami semua mulai tersenyum lagi memasang wajah cerah dibalik kesemrautan tadi, tapi ternyata yang melalui pintu itu bukan sang dosen melainkan bocah laki-laki yang kemungkinan anaknya. Bocah itu memegang amplop berwarna coklat. Tanpa membuka pagar rumahnya si bocah menyodorkan amplop coklat tadi sambil berkata “ini nilai ta’ kak, katanya bapak setor saja ke kampus, bapak dari tadi sudah tidur,” ringan bagai kapas tertiup angin namun skali lagi bukan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan tapi lebih menyesakkan dari angin berdebu, ini angin berpasir.
Bodohnya kami mahasiswa yang polos nan lugu ini menanti sambil tetap berjongkok di bawah tiang listrik di naungi sengatan terik mentari yang seakan melumat kulit. Mengesampingkan kondisi tenggorokan yang sudah kering, usus di perut mengkerut, bahkan cacingnya pun mati kelaparan. Kemeja telah basah karenah peluh berjam-jam. “jangan kemana-mana” hohoho kenapa kami tidak makan atau minum dulu di tempat lain. Panass… panas…hot banget bukan hanya karena cuaca yang mataharinya ada 2 tapi hatipun PANASSSSS karena menanti berjam-jam tapi yang di tunggu asik bermimpi di kasur empuknya. Maka bersabarlah hai kau para kaum mahasiswa yang budiman, karena itulah bagian dari proses pendewasaan.
Hehehe bagaimana panas kan ceritanya hehehe…
panas…panassss…kepala ini….
pasti anda lebih panas lagi PISSS…

Related Post