Cerita Sex

Menikmati Tubuh Gadis Di Kolam Renang

Pada saat itu saya mempunyai teman akrab yang bernama Deni. Saya dan dia sama–sama sekolah di sekolah yang sama, hanya berbeda kelas, dia di kelas II-E, sedangkan saya di kelas II-F, tetapi kami berteman. Deni adalah seorang anak yang berkecukupan dan bisa dibilang kaya.

Deni mempunyai dua rumah, rumah yang satu dipakai oleh kedua orang tuanya,

sedangkan rumah yang satunya lagi oleh orang tuanya dikontrakkan ataupun dikoskan kepada para pegawai atau mahasiswa, dan kebetulan sekali Deni diam di rumah yang dikontrakkan tadi. Dengan alasan biar tidak susah dan jauh dari sekolah dan ingin belajar hidup sendiri, maka Deni diperbolehkan tinggal di rumah yang satunya itu.

Memang kebutuhan hidup Deni selalu dipenuhi oleh orang tuanya, dimana kedua orang tuanya bekerja dan Deni mempunyai adik 2 orang, tetapi masih kecil–kecil. Di rumah Deni yang dikoskan tersebut, dari sekian banyak orang yang tinggal, ada seorang wanita yang bernama Eka.

Baca Juga: Mantan Istriku Yang Liar

Sebut saja Mbak Eka, Mbak Eka tersebut mempunyai bentuk tubuh yang aduhai, dengan ciri-ciri dia mempunyai tinggi sekitar 160 cm dengan badan ideal dan wajah imut–imut, kulit putih, pokoknya cantik dan rambut hitam panjang sebahu. Mbak Eka tersebut sudah keluar sekolah SMA telah 2 tahun dan pada waktu itu Mbak Eka bekerja di perusahaan swasta yang masuk kerjanya selalu kebagian masuk siang atau biasa disebut shift dua.

Deni dan saya sendiri suka pulang sekolah siang hari, kira–kira pukul 13:00 siang, karena saya sekolah pagi. Setiap pulang sekolah Deni selalu pulang ke rumah.
Yang ada di rumah hanyalah tersisa Mbak Eka saja, sebab yang lainnya bekerja berangkat pagi dan baru pulang sore hari. Setiap sehabis pulang sekolah, Deni sering sekali dan bahkan hampir tiap hari mengintip Mbak Eka yang sedang mandi untuk pergi ke kantor.

Kamar mandi di rumah Deni hanya satu, dan Deni tidur di kamar atas, sedangkan kamar mandi tersebut ada celah yang menembus dari atas. Kata si Deni biar cahaya matahari masuk ke kamar mandi untuk mengirit uang. Deni mengintip Mbak Eka yang imut–imut dan berbody mulus itu. Mbak Eka pun mempunyai payudara yang tidak kalah dari model–model majalah top Idonesia dan mempunyai bulu–bulu yang seksi di sekitar alat kelaminnya.

Pada saat mandi Mbak Eka sering sekali selalu seperti meraba–raba payudaranya sendiri, dan tidak jarang juga Mbak Eka suka seperti menggosok–gosokkan tangannya ke alat kelaminnya. Pernah juga Mbak Eka sepertinya memasukkan tangannya sendiri ke dalam alat kelaminnya atau goa hiro-nya itu dengan mendesah seperti kesakitan dan kenikmatan, “Eeh.. ehh.. uuhh.. uuhh.. iihh.. ahh..”

Karena Deni sering sekali mengintip Mbak Eka mandi pada siang hari untuk pergi ke kantor, Deni menjadi terobsesi untuk menyetubuhi Mbak Eka. Deni pun setelah mengintip Mbak Eka mandi, dia sering sekali langsung melakukan kocokan terhadap alat kelaminnya (loco–loco), karena Deni terangsang oleh bentuk tubuh sensual milik Mbak Eka.

Karena Deni sering melakukan hal tersebut, akhirnya Deni pun meminta foto-nya Mbak Eka dengan alasan buat kenang–kenangan. Mbak Eka pun memberikannya tanpa curiga sedikit pun. Rasa nafsu birahinya Deni pun semakin meningkat, sebab Deni melakukan onani terhadap alat kelaminnya sambil memandangi foto Mbak Eka.

Hampir tiap hari Deni setelah pulang sekolah selalu melakukan aktifitasnya seperti itu. Hubungan Deni dan Mbak Eka memang dekat, karena Mbak Eka pun kepada Deni sudah menganggap seperti adik sendiri, sedangkan Deni ingin sekali menjadi pacar Mbak Eka, apalagi berhubungan badan dengannya, itulah impian Deni.

Mbak Eka memang selalu hobby nonton film yang semi porno, seperti film remaja barat. Tidak jarang juga menonton bersama Deni di ruang tengah tamu. Bila ada film baru, Deni selalu membawa teman–teman kami, khususnya cowok dan kalau cewek sulit diajaknya, bahkan banyak yang bilang film yang kami tonton itu jorok.

Hingga suatu hari, Mbak Eka kebetulan libur dan Deni setelah habis pulang sekolah langsung bertanya kepada Mbak Eka, “Mbak kok belum mandi..? Enggak masuk kantor yah Mbak..?”

Dengan nada semangat Mbak Eka pun menjawab, “Enggak Den, kan Mbak hari ini libur Deni..”

Pada waktu itu munculah ide gila dibenak Deni.

Deni langsung pergi ke sebuah rental VCD yang letaknya tidak jauh dari rumah Deni. Waktu itu Deni sangat beruntung, Deni mendapatkan kaset vCD tersebut, dan film yang dipinjam Deni bukanlah film cerita tentang kehidupan remaja yang selalu dipinjam dan ditonton oleh kami. Film yang dipinjam Deni pada waktu itu film luar yang memang sebuah film yang bukanlah film semi, melainkan film vulgar atau blue film ataupun bisa dibilang film porno.

Setelah dari tempat penyewaan VCD, Deni segera pulang dengan perasaan sudah tidak sabar ingin menonton film tersebut bersama–sama Mbak Eka.

Sesudah sampai, Mbak Eka bertanya pada Deni, “Deni habis dari mana, kok kayaknya cape Den..?”

Deni langsung menjawab dengan nafas kelelahan, “Ohh.. oh.., i.. ini Mbak, habis pinjam film, Mbak mau nonton enggak..?” dengan hati yang berharap supaya Mbak Eka pun ikut menonton.

Dan Mbak Eka pun menjawab, “Emangnya film apaan tuh Den..?”

“Oh.., ini filmnya pasti deh okey, Mbak pokoknya pasti ingin nonton deh..!”

Mbak Eka pun akhirnya ingin tau juga apa film tersebut, “Oke deh Den, tapi Mbak Eka beres–beres dulu yach Den..!”

“Iyah deh Mbak, Deni tunggu di atas..”

Memang di kamar Mbak Eka tidak ada TV dan kebetulan di kamar Deni ada TV.

Setelah menonton Mbak Eka sangat terkejut melihat film tersebut.

“Den kok ini film-nya full gar amat, dan Kamu harusnya enggak nonton yang ginian Den..?”

“Ah Embak.., kan Deni udah gede Mbak, masa harus nonton film Doraemon melulu, bosankan Mbak.. lagian biar tidak jenuh.”

Mbak Eka pada waktu itu terlihat dirinya terangsang oleh adegan–adegan yang diperagakan di film tersebut, terlihat Mbak Eka saat menonton duduknya tidak mau diam dan sekali-kali Mbak Eka pun sepertinya menelan air ludahnya. Deni pun pada waktu itu sudah pasti batang kejantanannya sudah menegang, yang rasanya ingin juga melakukan adegan–adegan seperti di film tersebut, karena sang putri sebagai lawan mainnya sudah di depan mata dia.

Tapi setelah film kedua selesai, Mbak Eka langsung meminta ijin untuk pergi ke kamar tidurnya dan Deni pun membereskan kaset VCD tersebut. Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk ke kamar mandi, tetapi Deni pada saat itu tidak ingin lagi mengintip Mbak Eka, melainkan ingin sekali berhubungan tubuh bersama Mbak Eka.

Deni sambil menunggu Mbak Eka keluar dari kamar mandi, berpura-pura menonton TV di tengah rumah tersebut. Tidak lama kemudian terlihatlah Mbak Eka keluar dari kamar mandi yang hanya memakai handuk saja sehingga pada saat itu Deni pun semakin terangsang ingin sekali langsung menerkam Mbak Eka.

Mbak Eka pun sambil jalan menuju ke kamar tidurnya bertanya kepada Deni, “Deni Kamu mau mandi juga..?”

Deni langsung menjawab, “Ah enggak Mbak..!”

Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk kamar, dan Deni pada saat itu langsung saja secara diam–diam ingin mengintip Mbak Eka. Hari itu adalah suatu keberuntungan bagi Deni, karena ternyata pintu kamar Mbak Eka tidak ditutup rapat. Pada waktu itu Deni yang tidak berpikir panjang langsung saja masuk ke dalam kamar Mbak Eka dan langsung menutup pintu Mbak Eka dan menguncinya. Mbak Eka sangat terkejut karena pada saat itu Mbak Eka sedang memakai CD-nya yang baru sampai ke pahanya.

“Deni.., Kamu apa–apaan Deni..? Kamu berani kurang ajar Den..?” kata Mbak Eka terkejut.

Tanpa dihiraukannya omongan Mbak Eka, Deni langsung menerkam Mbak Eka bagaikan harimau menerkam rusa. Langsung saja Mbak Eka berontak dan marah. Deni mendorong Mbak Eka ke kasur tidur dan langsung menutup mulut Mbak Eka agar bungkam seribu kata.

Deni pada saat itu memang sudah kemasukan setan, Deni langsung menyiumi bibir Mbak Eka sampai dengan payudara Mbak Eka sambil memegang kedua tangan Mbak Eka. Posisi mereka pada saat itu Deni di atas badan Mbak Eka yang hanya memakai CD sampai dengan pahanya. Mbak Eka pun berontak, sehingga Deni menyiumi bibir Mbak Eka tersebut merasa sulit. Setelah itu, Deni menyiumi bibir, leher dan sampai payudara Mbak Eka. Setelah ada 10 menit dengan gigitan kecil, akhirnya Mbak Eka sepertinya sudah pasrah akan tindakan Deni tersebut.

Karena terlihat di wajah Mbak Eka sudah pasrah dan tidak berontak lagi sambil meneteskan air mata, akhirnya Deni melepaskan bajunya dan celananya hingga Deni tidak memakai sehelai kain apa pun. Deni langsung saja melepaskan CD yang akan dipakai oleh Mbak Eka yang hanya sampai di pahanya. Secara sepontan Deni memegang kedua kaki Mbak Eka dan langsung menariknya sehingga alat kelamin Mbak Eka sudah di ujung pintu kenikmatan.

Tanpa basa–basi Deni memasukkan batang kejantanannya yang sudah menegang dari tadi dengan bantuan tangannya, tetapi anehnya batang kejantanan Deni sulit sekali dimasukkan ke dalam liang keperawanan Mbak Eka, sehingga Deni berusaha secara paksa.

Akhirnya Deni dapat menembus tembok sempit liang kewanitaan Mbak Eka, sehingga Mbak Eka langsung menjerit kesakitan, “Ahh.. ahh.. aawww..” karena pada saat itu kesucian Mbak Eka sudah hilang oleh batang kejantanannya Deni.

Karena mendengar Mbak Eka menjerit, nafsu birahinya Deni semakin bertambah. Deni terus mengayun batang keperkasaannya ke depan, mundur-depan-mundur untuk menuju gerbang kenikmatan yang diharapkan Deni pada klimaksnya berhubungan seks. Sekitar 15 menit kemudian, Mbak Eka merasakan liang senggamanya sudah lecet, sehingga Mbak Eka ingin sekali melepaskan batang kejantanan Deni dari liang kewanitaannya.

Tetapi Deni tidak melepaskannya, malahan menarik paha Mbak Eka agar tetap pada keadaannya. Hal ini mengakibatkan Mbak Eka terlihat lemas sekali dan tidak lagi berontak, karena memang sudah benar-benar lelah di 20 menit terakhir setelah perlakuan tidak senonoh yang dilakukan Deni terhadapnya. Tidak lama kemudian, batang kejantanan Deni pun terasa hangat, lecet, dan akhirnya terasa deyutan–deyutan seperti ingin mengeluarkan cairan. Dan akhirnya cairan penyumbur Deni pun menyempot ke dalam liang senggama milik Mbak Eka.

Karena deni melihat Mbak Eka sudah lemas, Deni pun segera mengambil tindakan langsung menggenjot kembali batang kemaluannya ke dalam dan keluar liang senggama Mbak Eka secara cepat. Dari mulai sempit hingga terasa liang senggama Mbak Eka semakin lebar.

Memang kali ini tidak menyempit lagi, laju jalannya batang kemaluan Deni tidak terhimpit lagi dan terasa saat itu pula terlihat adanya cairan yang dikeluarkan dari liang senggama Mbak Eka. Pemandangan ini membuat Deni bertambah semangat.

Mbak Eka pada saat kelelahan hanya bisa mengucapkan, “Ahh.. ahh.. iih.. uuhh.. aaw.. uuh.. iihh.. eehh..” saja.

Dan deni tidak berkata apa–apa karena terlalu nikmatnya perasaan yang dapat Deni rasakan saat itu.

Hingga ada 1 jam berlanjut, Deni akhirnya melepaskan batang kejantanannya dari dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Terlihat cairan mani yang bercampur antara yang dikeluarkan oleh batang keperkasaan Deni dengan air mani yang dikeluarkan oleh Mbak Eka. Mbak Eka hanya tergeletak setelah Deni tidak lagi menggagahinya.

Mbak Eka terhempas ke dalam penderitaan birahi dengan tubuh tidak tutupi apa–apa dan matanya sayu meneteskan air mata. Deni karena kelelahan juga tergeletak di samping Mbak Eka dan menikmati keberhasilan dirinya yang telah mencapai kenikmatan dalam berhubungan badan yang selalu diinginkannya.

Setelah beberapa lama, Deni dan Mbak Eka tergeletak di kasur. Deni segera bangun dan langsung menerkam Mbak Eka kedua kalinya dengan memeras payudara Mbak Eka, sehingga Mbak Eka kembali mengucapkan dHari saya, sekitaran 12 siang, saya barusan tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi hingga saya dapat memarkir mobil saya Pheew … saya pada akhirnya melepas kelelahan sesudah ambil satu minggu sepanjang UAS. Saya menginginkan ambil bebrapa waktu tenang saat, tanpa ada ditemani siapa juga, saya menginginkan menikmatinya sendirian ditempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota Jadi saya tambah baik nikmati privacy saya, jadi saya menyebutkan pada Pak Joko pulang ke tempat tinggal yang berada di desa sekitaran sini.

Tn. Ricardo mempunyai bekerja ditempat ini mulai sejak ayahku beli villa ini sekitaran 7 th. waktu lalu, dengan keberadaannya, vila kami tertangani baik serta belum juga sempat dirampok. Dia nyaris seperti bapak saya, 50-an lebih, tinggi serta kurus dengan kulit terbakar hitam. Saya sesungguhnya punya niat mengerjainya daridulu, tapi mengingat dia cukup setia pada ayahku serta sangat jujur, jadi kuurungkan niatku.

“Punten Neng, bila umpamanya ada butuh, Bapak juga akan pulang kok, tinggal dateng aja” pamitnya. Sesudah Pak Joko pergi, saya bersihkan semuanya barang bawaan. Saya menjatuhkan diri ke tempat tidur sembari menghela napas, lega sesudah dipisahkan dari buku kuliah. Cuaca hari itu cerah, matahari bercahaya dengan disertai angin sepoi-sepoi yang buat situasi merasa lebih enjoy. Saya jadi menginginkan berenang, terlebih sesudah saya lihat kolam air di belakang bersih sekali, perawatan tekun Pak Joko dari villa ini. Selekasnya saya ambil peralatan berenang serta menuju ke kolam renang.

Sesampainya ada penyusunan beda saya terasa begitu baik, demikian tenang, kalau cuma ada kicau burung serta gemerisik air angin tertiup. Mendadak kegilaan, Sampai kini, tenang kesepian, bagaimana bila saya cuma berenang telanjang, tetapi tak ada orang yang lain disini tapi saya anyway saya suka orang kagum pada keindahan badan saya. Jadi tanpa ada fikir panjang sekali lagi, saya melepas satu per satu semuanya pada badan saya, termasuk juga arloji serta perhiasan semuanya hingga betul-betul telanjang seperti waktu lahir. Sesudah keluarkan cincin paling akhir pada badan saya, saya segera melompat kedalam kolam. Aahh.. merasa demikian baik untuk berenang telanjang begini, badan merasa lebih enteng. Sekian kali saya bolak-balik dengan sebagian style terkecuali style punggung (karna saya tidak dapat, hehe..)

20 menit sepanjang saya ada di kolam renang, saya juga akan terasa haus serta menginginkan istirahat sebentar untuk berjemur di kolam renang. Saya lalu bangkit serta mengeringkan badanku dengan handuk, sesudah saya ambil sekaleng coca-cola dari kulkas, saya kembali pada kolam. Kurebahkan diriku di kursi enjoy disana serta saya menggunakan kacamata hitamku sembari nikmati minumku. Untuk melembutkan kulit putih tidak terbakar matahari, saya ambil oilku berjemur serta menggosok-gosok semua badan saya tampak mengkilap. Jadi cuaca lezat disini buat saya mengantuk, jadi janganlah terasa saya perlahan jatuh tertidur. Di dalamnya saya berbaring di kolam tanpa ada apa-apa yang menempel pada badan saya, terkecuali untuk kacamata hitam. Bila saja ada pencuri masuk serta lihat kondisi saya sesuai sama itu, sudah pasti saya diperkosa hingga mati.

Tengah tidur saya, saya terasa ada suatu hal yang meraba badanku, tangan itu membelai paha saya serta lalu menebar ke dada. Saat tangan menyentuh pangkal paha bibir mendadak buka mata saya serta saya terperanjat karna saya terasa itu tidak cuma mimpi. Saya lihat ada seorang yang mencapai saya serta jadi saya membangunkannya dengan sigapnya menyambar bahu saya serta dengan tangan menutupi mulut, menghindar saya dari menjerit. Saya mulai mengetahui orang, ia yaitu Taryo, penjaga vila tetangga, ia berumur 30-an, berwajah sedikit buruk dengan gigi bengkok, pipi cekung serta matanya benar lebar dimuka wajahku.

“Ssst .. Neng bisa dilewati Menurut menulis, di sini sudah ga ada orang lain, sehingga tidak berani!” Ancamnya

Aku hanya mengangguk, meskipun masih agak terkejut, lalu perlahan-lahan ia melepaskan saya dalam mulut bekapannya

“Hehehe .. waktu yang lama sekarang aku ingin Neng ngerasain sama telanjang!” Katanya, matanya menatap dadaku

“Telanjang ya telanjang, tapi dong sopan bertanya, memiliki pencuri tidak begitu kaya!” Aku berkata, marah.

Ternyata tanpa sadar dia sedang menonton saya dari berenang dari tuannya dan vila loteng bahwa ia sering tidak ketika seorang wanita daridulu berenang di sini. Mengetahui Pak Joko tidak ada di sini dan aku tertidur, ia sangat ingin memanjat dinding untuk masuk ke sini. Sebenarnya saya tidak dalam mood untuk seks karena mereka masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuat BT (birahi tinggi).

“Heh, ia ingin gua pemerkosa, mengapa tidak membuka baju juga yang terakhir pegang-pegang doang berani!” Saya menantang.

“Hehe, ya ini Neng Neng abis loh payudara, montok benar-benar lupa deh” katanya sambil melepaskan pakaian compang-camping.

Tubuh begitu baik, meskipun agak tipis dan kotor, penisnya yang sudah tegang cukup, tentang ukuran miliknya di Wahyu, tukang pipa yang memainkan dengan saya (baca Air Junior, Listrik, dan Konstruksi).

Dia duduk di pinggir kursi dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikagumi, sementara aku meraih penisnya dengan tangan saya sampai saya merasa dan kukocok penis semakin keras. Aku mendesis nikmat vagina dan membelai tangannya mengusap bibirnya.

“Eenghh .. terus .. Oohh Tar!” Desahku, meremasi rambut Taryo yang mengisap payudaraku.

Lalu kepalanya perlahan-lahan merayap turun dan berhenti di pangkal paha. Aku mendesah semakin tak menentu karena lidahnya bermain-main di sana ditambah dengan jarinya bergerak masuk dan keluar. Saya harus memeras payudara dan menggigit jari-jari saya tidak akan terus sendiri karena rasanya yang lezat kesemutan, kesemutan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan melepaskan vaginanya hangat. Dengan Taryo melek rem Aku meraih rambutnya menyeruput vaginaku. Perasaan yang terus berlanjut sampai saya merasa cairanku tidak keluar lagi, lalu kepala Taryo off dari sana, mulutnya tampak basah dengan cairan cinta.

Belum beres saya set berburu napas, mulut saya dilumatnya dengan ganas. Saya merasa aroma cairan cinta saya sendirian di mulutnya tertutup cair. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalah napas sedikit bau, baik bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit saya bisa beradaptasi yang baru, permainan lidah dilunasi sampai lidah kami saling terkait dan mengisap. Kami juga berpagutan cukup lama, dia juga menjilati wajahku yang halus dengan jerawat tidak sampai wajahku basah oleh air liur.

“Gua ga Tar lagi, di sini saya punya lu semut” kataku.

Para Taryo segera bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih berbaring di kursi santai, saya memegangnya, dan kujilati kukocok sejenak sebelum saya dimasukkan ke dalam mulut.

Mulutku penuh dengan penisnya, itu bukan 3/4nya sepenuhnya dimasukkan hanya menampung saja. Aku memainkan lidahku di kepala penisnya adalah helm-suka, kadang-kadang saya menjilat lubang kencing nya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah keenakan sebuah desahan. Satu tangan memegang kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.

“Eemmpp .. emmphh .. nngg ..” Saya mendesah tertahan karena hampir kehabisan napas, tetapi tidak peduli. Penis kepala berulang kali terhadap tenggorokan dinding. Lalu aku merasa ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan, tapi karena lelehan cairan di mulut saya. Semburannya belum selesai, dia mengeluarkan penisnya, sehingga semburan berikut disekujur mendarat di wajahku, kacamata hitam saya juga semen basah disemprot.

Aku melepas kacamata saya, maka saya mengusap wajah saya dengan tangan saya. Sisa-sisa sperma di kujilati jariku melekat sampai akhir. Ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Mr Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua sedang telanjang. Saya sendiri terkejut dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan ini pada ortuku.

“Eehh .. maaf Neng, Ayah hanya ingin Bapak ngambil uang di dalam ruangan, tahu ini ga Neng gituan lebih” dia tergagap.

Karena aku harus bertahan, aku akan menawarkan diri putus asa dan berjalan ke arahnya.

“Ah .. Pak oke ga itu, tindak memperbaiki Mr yuk aja!” Godaku.

Lihat keluguan jakunnya naik turun tubuhku, meskipun agak gugup matanya terpaku pada payudara saya. Aku membelai batangnya dari luar membuatnya terangsang.

Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.

“Neng Neng payudara besar terlalu baik .. Mr diginiin juga baik?” Berjabat tangan terus meremasi payudaranya.

Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, maka saya menurunkan celana kolornya juga. Ternyata ayam hitam menggantung, jari-jari saya mulai memegangnya. Saya merasa di tanganku bergetar dan mengeras. Perlahan-lahan saya mulai berjongkok di depannya, tanpa basa-basi saya menempatkan batang di tanganku ke mulutnya, dan kuemut kujilati-semut untuk pemiliknya mengerang keenakan

“Yah, Pak Joko sama majikan malu sendiri menulis,” seru Pak Joko Taryo yang memperhatikan sedikit gugup untuk menikmati seks oral bagi saya.

Taryo kemudian mendekati kami dan meraih tanganku untuk menjabat kemaluannya. Bergantian mulut dan tangan untuk melayani penis yang menegang. Tidak puas hanya untuk menikmati tangan, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, membuat tubuh saya beristirahat di lutut dan tangan. Aku mulai merasakan sebuah benda didorong ke dalam vagina. Seperti biasa, mulutku terbuka turun melingkupi masalah inci gemerisik oleh penis inci ke vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, menusuk, kepala merayap ke ketiaknya ke mulutnya di atas payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigit dengan gemas, pada penis Pak Joko kocokanku lebih bersemangat.

Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia selesai memperkosa mulut saya begitu bersemangat untuk memajukan pinggul seakan sialan dukungan. Kepala saya dekat dengan dipeganginya dengan kesempatan untuk menghirup udara segar aku tidak ada. Akhirnya saya hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, tembakan satu sama lain menyebabkan penis ke tubuh saya semakin menembus. Perasaan ini benar-benar sulit untuk menjelaskan, saat penis Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis menyentuh tenggorokan Pak Joko, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Saya merasa seperti layang-layang terbang dilakukan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Seiring dengan bahwa genjotan Taryo merasa lebih kuat. Kami juga mencapai orgasme bersamaan, aku bisa merasakan air mani yang menyembur deras dalam diriku, dari persenggamaan selangkangan saya lelehan cair.

Setelah cukup lama untuk mencapai orgasme, tubuhku berkeringat, mereka tampaknya mengerti situasi saya dan menghentikan aktivitasnya.

“Neng, mungkin ga Mr masuk ke hal nya Pak Neng-begitu?” Kata Mr Joko lembut.

Aku hanya mengangguk, dan kemudian dia berkata lagi, “Tapi Neng istirahat menulis pertama, Neng kaya lelah pula.”

Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diri. Mereka berdua juga turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan kanan saya Pak Joko. Kami mengobrol sambil memulihkan kekuasaan, di mana tangan-tangan jahil atau mereka selalu hanya meremas dada, paha dan bagian sensitif lainnya. Yang satu mendorong yang lainnya mendarat di sisi lain, lama-lama jadi saya biarkan saja, setelah semua, saya benar-benar menikmatinya.

“Neng, Bapak masuk sekarang aja yah, sudah ga tahan daritadi porsi tidak Neng hal itu” kata Mr Ricardo mengambil posisi berlutut di depan saya.

Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia mengarahkan, kontol panjang keras ke vagina saya, tapi dia tidak segera menusuknya di bibir tapi selangkangan menggesekannya jadi saya menggelitik dan meremas penis Taryo berkelejotan menjilati bagian leher bawah telinga .

“Aahh .. Pak cepet enter dong, sudah kebelet ya!” Desahku tak tertahankan.

Aku meringis saat ia mulai menekan masuk penisnya. Sekarang vagina saya telah diisi oleh benda hitam panjang dan objek mulai bergerak keluar untuk memberi sensasi kenikmatan ke seluruh tubuh.

“Wow .. Neng pus benar-benar lamban, jika gini sudah tahu dari dulu Bapak entotin” ceracaunya.

“Persetan Anda juga, sudah bercucu Piktor masih, saya kira Anda belajar” kataku dalam hati.

Setelah 15 menit dia mengayuh booting saya dalam posisi itu, ia melepas penisnya dan duduk membungkuk dan mengangkat saya ke penisnya. Dengan refleks saya akan memegang penis saya sambil menurunkan itu sampai jatuh ke dalam celana saya. Dia memegang pantatnya sepotong padat berisi itu, bersama-sama kita mulai gemetar tubuh kita. Desahan kami berbaur dengan suara air kolam percikan, tubuh saya bergerak-gerak tak terkendali, saya menggelengkan kepala di sana-sini, dua payudara yang memantul tidak luput dari tangan dan mulut. Pak Joko memperhatikan penisnya keluar dari vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tidak bisa memahami bagaimana untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah tidak terasa.

Goyangan kami berhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong kembali sehingga pantat saya dan payudaranya semakin tertekan semakin menungging untuk menghadapi Pak Joko. Taryo membuka dan mengarahkan penisnya ke pantatku ada

“Aduuh .. Tar perlahan, sakit tahu .. aww!” Rintihku waktu dia mendorong ke penisnya.

Saya lebih rendah karena itu ramai sekali dijejali dua ayam besar. Kami bergoyang kembali, rasa sakit aku merasa perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat menjalari tubuh saya. Saya menangis tak terkendali ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, sehingga ia kuomeli sedikit lebih lembut. Alih-alih mendengar, Taryo menggenjotku bahkan lebih ganas. Pak Joko melumat bibirku dan lidah dalam mulut saya untuk bermain jadi saya tidak terlalu berisik.

Ini berlangsung sekitar 20 menit lama sampai saya merasa tubuh saya seperti meledak, saya bisa lakukan hanya berteriak dan memeluk Pak Joko erat panjang punggung dan menggaruk kuku. Untuk beberapa detik sampai tubuhku menegang dalam pelukannya lemas kembali Pak Joko. Tapi mereka masih peduli padaku memompaku tanpa ini sudah lemah. Erangan yang keluar dari mulutku terdengar lebih dan lebih berdaya. Tiba-tiba mereka merasa lebih erat memeluk untuk membuat sulit untuk bernapas, mereka juga serangan lebih kuat, putingku disedot keras oleh Pak Joko, dan Taryo rambutku. Lalu kurasakan hangat menyembur cairan di vagina dan anusku, air muncul sedikit cairan putih susu yang melayang-layang. Mereka berdua terkulai lemas antara tubuh saya masih terjebak dengan penis.

Setelah sisa-sisa terakhir kesenangan mereda, saya akan mengundang mereka untuk datang. Menyeka tubuh saya basah kuyup, aku berjalan ke kamar mandi. Eh .. mereka diikuti dan bergabung dengan mandi. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Aku hanya duduk di sana, mereka siram, gosok, dan tentu saja menyabuniku membelai dirinya. Alat kelamin dan payudara bagian yang paling panjang mereka sampai aku menyindir sabuni

“Mengapa .. mengapa ada lathered-neraka menulisnya, kamar mandi untuk membersihkan ga dong, dingin nih” disambut tawa kami.

Setelah itu, akulah yang mencuci giliran mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, saya akan kembali bekerja di kamar mandi.

Hari itu saya dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka tinggal dan tidur dengan saya di tempat tidur, spring bed. Sejak itu jika ada partai seks di vila, mereka selalu diundang untuk istilah-istilah ini jangan biarkan kebocoran rahasia. Aku senang karena ada sarana untuk memuaskan keinginan, mereka dapat merasa senang karena tubuhku dan teman-teman kuliah saya yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu bermain teman-teman orang yang sama di kampus.

“Ahh.. ahh.. Den jangan.. diterusin Denn.. jangann.. Denn..!”

Deni tidak menghiraukan ucapan Mbak Eka tetapi justru langsung Deni meraba–raba dan sekali-kali memasukkan tangannya ke dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Mbak Eka menjerit kesakitan karena liang senggamanya seperti dirobek–robek oleh tangan nakal Deni.

“Aaawww.. awww.. iihh.. uuhh.. aauuw..!”

Seteleh itu keluarlah cairan yang hangat dari liang senggama Mbak Eka. Deni langsung menjilati cairan tersebut dari liang kewanitaan yang sudah banjir milik Mbak Eka. Mbak Eka pun anehnya tidak kesakitan, tetapi justru kegelian.

“Den.. Den.. aduh.. geli.. Den.. geli.. Den..!”

Karena batang keperkasaan Deni masih sangat tegang tetapi Deni juga melihat Mbak Eka sudah benar–benar kelelahan. Akibatnya, Deni langsung mengocok (mengonani) batang kejantanannya dengan tangannya dengan frekuensi yang sangat cepat, sehingga Deni ingin mengeluarkan air maninya.

Tanpa memberi aba-aba, Deni langsung menyodorkan kemaluabnnya tepat di mulut Mbak Eka. Tidak lama kemudian air mani menyempot ke mulut Mbak Eka dan langsung Deni menyusut-nyusutkan batang kejantanannya ke mulut Mbak Eka yang masih tergeletak kelelahan di kasur.

Deni langsung mengambil tangan Mbak Eka dengan bantuan tangannya sendiri untuk memegang batang keperkasaannya yang sudah loyo. Deni menyuruh Mbak Eka untuk memegang dengan kepalan yang keras dengan bantuan tangan Deni dan langsung mengayunkan keluar ke dalam hingga Deni merasa puas pada saat itu.

Setelah kejadian tersebut, hubungan Deni dan Mbak Eka menjadi renggang. Dan beberapa minggu sesudah itu, akhirnya Mbak Eka pindah kontarkan. Tidak lagi di rumah Deni. Dan akhirnya Deni sangat kehilangan Mbak Eka karena memang secara diam–diam Deni pun mencintai Mbak Eka.

Related Post