Cerita Sex

My Story is Begin

Notif emailku di hp pun berbunyi. Aku masih mengantuk karena waktu masih subuh yang dingin di kaki Gunung Kawi, sisi barat Kota Malang. Kubuka notif itu.

Pintu Masuk Wisata Gunung Kawi

Selamat, anda diterima sebagai staf khusus Team K3

Memang benar, aku selama sebulan mendaftar dengan memenuhi persyaratan, akhirnya diterima. Ya, sejak setelah pemerkosaan Nadila, JOT membuka lowongan pengwal member JKT48. Oh iya, perkenalkan namaku Joel. Aku anak paling terakhir, ke-69 dari Shigeo Tokuda yang mengganti nama menjadi Sugiono. Waktu itu kami bersama bapakku berlibur ke Gunung Kawi untuk menginap di sini untuk menemani bapakku mencari pesugihan.

Baca Juga: Kisah Seks Menceritakan Pesona Sensual Seksku

Dengan diterimanya sebagai staf khusus team K3, aku nanti harus secepatnya ke Jakarta. Pagi itu juga aku memesan tiket pesawat rute Surabaya-Jakarta. Sialnya, tak ada tiket lagi. Walhasil aku memesan tiket kereta api melalui aplikasi. Untung saja ada 1 kereta yang masih menawarkan kursi kosong, yaitu KA Jayabaya yang berangkat jam 12 kurang seperempat siang.

Kuberitahu Ayah jika aku diterima sebagai staf khusus. Ayah pun menyetujuinya.

“Nak, Ayah lega kamu bisa bekerja, meski sebenarnya Ayah belum bisa menerima kamu harus berhenti kuliah”

“Ayah, sukses tak harus dari jenjang pendidikan, tapi kalo mau usaha keras pasti berhasil. Banyak sarjana nganggur”

“Ayah tau nak, tapi jika itu keinginanmu, Ayah mendukungmu” Ayah memelukku sebelum kami berpisah di depan pintu keberangkatan kereta jarak jauh di Stasiun Malang. Patung 3 Singa yang berdiri tegak di seberang stasiun seakan tetap menantikanku agar kembali lagi. Setelah melalui proses boarding, kunaiki rangkaian KA Jayabaya yang akan membawaku ke Jakarta. Aku ambil posisi di gerbong nomor 2 kursi 5D, dekat jendela. Perlahan, bagunan, batuan, pepohonan di sekitar pun mulai bergeser.

Interior KA Jayabaya

Butuh waktu sekitar 14 jam agar sampai di Stasiun Pasar Senen. Aku harus menunggu waktu lama sekali menuju theater di Fx Sudirman untuk menerima keanggotaan staf khusus karena sampai di sini jam setengah 2 dini hari. Entah berapa kalo ganti busway & tanya warga sekitar mengenai kendaraan umum menuju Fx Sudirman. Akhirnya, aku menemukan tempat itu. Mall yang menjadi jujukan nomor 1 fans idol group itu.

Theater dalam Fx Sudirman lantai 4

Aku agak kebingungan saat pertama kalinya masuk theater sebagai calon staf. Mulai dari wawancara, bahkan briefing di meja besar sekitar dekat pintu masuk ruangan theater. Yang aku tahu, biasanya untuk rapat DS atau apalah namanya itu.
“Perkenalkan, nama saya Teddy sebagai staf yang sering urus team K3. Jadi, status anda setara dengan manajer team. Hak & kewenangannya bebas” Ujar salah satu staf.
Hah? Bebas? Aku berpikir kalo kejadian Nadila terulang lagi dibolehkan? Ah tak peduli.

“Baik, saya akan bekerja sesuai dengan arahan”

“Jadi kalo ada komando baru gerak, oke? Gak usah kaku, anggap saya temanmu, panggil aja Bos”
Setelah briefing itu, aku rencananya cari rumah singgah untuk sementara waktu. Kalau tidak dapat rumah baru, setidaknya cari apartemen.

Tiba-tiba aku tak sengaja melihat gadis mengenakan celana hitam ketat & kaos tanpa lengan motif belang horizontal yang tertutupi rambut coklat gelap yang terurai. Sepertinya aku pernah mengenalinya. Dilihat dari ekspresi wajah sampingnya, ia sedang cemas, mungkin kurang uang untuk beli cappuccino.

“Lah mbak, kurang 20 ribu”

“Yah, mau gimana lagi, belum dapet kiriman”

“Pokoknya harus pas uangnya, gak terima duit kurang”

Tampak raut wajah gadis itu murung sekilas dari samping.

“Mas, nih duitnya, 20 ribu, ambil aja. Aku bayarin” Kataku sambil menghampiri & membayar kekurangan uang gadis itu.

“Makasih kak udah bayarin aku” Ucap gadis itu saat menoleh ke arahku & langsung mengambil segelas cappuccino.

“Eh, kak, aku pernah kenal kakak. Kak Joel kan?” Nat baru menolehkan wajahnya padaku & menatap agak lama.

Natalia

“Kok kamu tau Nat?” Ya! Aku masih ingat namanya, Natalia. Gadis asal Rangkasbitung yang tingginya agak sedikit di bawahku.

“Berarti kamu ingat itu kan?” Nat mengingatkanku pada adegan ranjang yang pernah kulakukan setelah konser tunggal team K3 di Malang, kira-kira 3 tahun yang lalu.

Aku dapat menebak arah pembicaraannya perihal memori kami 3 tahun yang lalu, tapi waktu itu belum jadian.
“Hahahah, jangan diceritain di sini lah, entar ketahuan” Kututup mulutnya dengan jari telunjukku.
“BTW kakak kok ke sini?”
“Masa gak tau, aku jadi staf khusus K3”
“Serius kak?”
“Tanya je o te lah Nat”
“Oh iya ada seleksi itu ya, terus tinggal di mana?”
“Belum dapet nih”
“Emm, nginep sementara di kosanku mau?”
Aku pun terdiam. Kalau ketahuan staf lainnya bagaimana jadinya.
“Kalo diem, ayuk bareng”

“Eh tapi…”
“Udah ah kak, gapapa kok, gak ada aturan buat tamu, asal gak bising aja sih” Ia memesan taksi online & memintaku menunggu di pintu utama Fx Sudirman.

Hampir 10 menit kami menunggu di pintu mall ini. Jalanan di sekitar Jalan Sudirman memang ramai lancar. Kupikir Nat membatalkan ordernya. Tak lama berselang, ada mobil Isuzu Panther hitam yang berhenti agak lama di depan pintu utama. Nat pun melihat layar HP sambil melihat nomor polisi mobil itu.

“Nah bener ini kak, yuk masuk”

“Maaf, atas nama Natalia?” Tanya driver cowok taksi online berambut sebahu.

“Bener mas, ini sama barengan”

“Ini alamatnya rumah atau apa?” Driver itu menunjukkan alamat tujuan Nat.

“Kosan mas”

Sementara itu, kumasukkan koper & ranselku ke bagian belakang. Dengan sigap driver itu membantu memasukkan barang bawaanku.

“Makasih gan”

Ia pun kembali ke dalam mobil.

Setelah barang bawaanku terangkut semua, kami menuju kosan Nat. Saat kulihat di Google Maps, memang agak jauh dari Fx Sudirman ke kosan Nat.

“Mbak, itu pacarnya ya?” Driver taksi online itu penasaran tentangku & menanyakannya pada Nat.

“Emm, bu…”

“Aminin aja deh mas” Nat memotong pembicaraanku.

“Nat, kita gak ada hubungan apa-apa” Kubisiki pelan Nat.

“Emm emang salah kak kalo cinta kakak?”

Aku hanya membalas menyenggol lengan kanannya. Driver hanya menggelengkan kepala melihat kami.

Kurang lebih 30 menitan, kami sampai tujuan. Kosan Nat sekilas seperti hotel, mulai penataan parkir rapi, sampai lorong antarkamar yang khas hotel. Kosan itu terletak di dalam kompleks perumahan elit.
“Silakan tiduran di sini kak, kalo mau mandi di situ deket lemari” Nat mempersilakanku saat membuka pintu kamarnya.
“Eh gak apa-apa cewek cowok di sini?”
“Ih, dibilangin tetangga kamarku pernah ngentot aja gak masalah”
Aku pun tiduran di ranjangnya yang cukup untuk 2 orang itu. Kulihat sekeliling kamarnya yang banyak pernak pernik berbau Kroya, eh Korea maksudnya. Beda denganku yang seleranya cadas.
“Mau dibikinin apa?”
“Jadi sungkan nih”
“Ah gapapa kak” Ucap Nat sambil melepas kaos ketat tanpa lengan & menggantinya dengan tanktop hitam super ketat & tiduran di sampingku. Lekukan tubuhnya terlihat jelas.
“Kak, mandi gih, jorok!”
“Jorok gini kamu sange tuh” Kugoda Nat.
Lalu aku dilempari dengan handuknya.
“Iya-iya kakak mandi” Aku ambil beberapa potong pakaianku, lalu beranjak ke kamar mandi.

Aku teringat wejangan bapakku, Sugiono, sebelum aku pergi ke Jakarta:
“Ingat pesan bapak, gunakan kesempatan emas sebaik-baiknya”
Kesempatan yang mana? Aku tahu betul karena bapakku bintang JAV tertua di Jepang, pasti arah pembicaraan selalu ke body cewek.

Aku rendamkan diri ke bathub berisi air hangat. Sungguh menenangkan pikiran. Di sinilah aku selalu mendapat pencerahan. Sial! Aku lupa beli sabun, sehingga aku pakai sabun seadanya, sabun wangi punya Nat. Oh maafkan aku, hari ini saja aku pakai sabunmu.

Di bathub ini, aku memikirkan sesuatu. Aku memang sumpek dengan dunia perluliahanku. Terlalu banyak tugas & praktikum. Lagi pula, bapaklah yang menyuruhku. Setelah tahu keluh kesahku, bapak mengizinkanku mengundurkan diri, dengan catatan aku harus kerja.

Aku mendengar suara pintu yang terbuka…

Benar saja, pintu kamar mandi tak kukunci, & Nat menghampiriku hanya dengan BH & G-string.
“Kebelet?”
“Iya nih kak, udah lama nih”
“Harusnya kan bisa sama fans”
“Aku maunya sama kakak”
Aku langsung keringkan bath tub untuk mempermudah permainan.
“Kamu duduk di situ aja” Suruhku sambil melucuti dalamannya. Toket indah & memek yang rapi siap untuk dijadikan tumbal syahwat. Kuraba dadanya itu, lalu turun ke perutnya, & pasti ke memeknya. Kubelai lembut, lalu kumasukkan 3 jari untuk kukocok.
“Mmmhhh kaak, enak” Karena enak, Nat tak sengaja mengigit bibir bawahnya. Seranganku mulai ke lehernya. Benar saja, titik lemah Nat ada di leher.
“Mmhh kaaak, geli”
Kocokan di memeknya kupercepat & lebih kasar sambil kuremas toketnya.
“Ooohh kaak, ssshhh” Baru pemanasan Nat kejang. Tiba-tiba Nat memelukku kuat hingga. akhirnya,
“Kaak, keluar nih” Nat squirt banyak & melemas.

Kemudian aku berdiri & lakukan titfuck. Aku remas toketnya, Nat maju mundurkan bokongku.
“Ooghh Nat” Eranganku karena kontolku terjepit di belahannya. Berawal dengan tempo lambat, lama-lama cepat & brutal hingga toketnya memerah. Tak tega dadanya sakit, aku pindahkan kontolku ke mulutnya.
“Pasti kangen ini kan?”
Tak dijawab, Nat langsung membuka mulutnya & blowjob pun dimulai. Diciumi benda pusaka itu, Lalu ia masukkan ke mulut, & deep throat pun terasa nikmat. Ide jahat pun muncul. Aku iseng sodok keras.
“Mmmh, hukk hukk” Nat terbatuk-batuk sambil mengulumku. Ah tidak, kedua tangannya aktif mengocok & memainkan bijiku.
“Ssshh” Desahanku respon dari nikmatnya blowjob Nat. Aku menunduk & meremas toketnya lagi.
“Mmpphh” Erangan Nat yang erotis.

10 menit blowjob, pertahananku nyaris jebol. Aku terpaksa tak kasih tahu kalau akan ejakulasi.

Crot crot crot crot
8 tembakan pejuku penuhi mulut Nat. Nat kaget karena pejuku muncrat. Sebagian menetes keluar mulut. Kebanyakan Nat telah
“Ih, kakak gak bilang kalo crot”
“Tapi kamu suka kan?”
Nat tersenyum saja. Aroma peju di badan Nat menambah keerotisannya.
“Tiap hari kakak pejuin aja. Kamu cocok baumu gini”

Nat terdiam sebentar mengatur nafas, & berbisik…
“Love you kak”
“Tapi, golden…”
“Lupakan kak, backstreet yuk”
Kupeluk Nat mesra & nafsu.

Kami pindah arena ke ranjang. Nat melingkarkan kakinya ke pundakku. Kontolku kugesekkan ke mulut memeknya.

“Ready honey” Tanyaku.
“Fuck me right now”
Kusodok keras & melesat menabrak mulut rahimnya.
“Ookhh” Nat pejamkan mata antara enak & perih. Memang akulah yang merenggut harta berharganya. Tusukanku kumulai dengan yang paling lambat, lalu sodokanku dibuat tak beratur agar Nat keluarkan suara erotisnya.
“Kaaak, mmmppphhh”
Sodokan kasarku membuat toket Nat bergoyang. Aku grepe saja toketnya & pentilnya kupelintir sampe kegelian.
“Emmmh, kimochii”
Kucipok brutal dia agar Nat keenakan bercinta. Memang susah cipokan saat hardcore begini. Aku yang mulai, Nat malah mendominasi pergulatan lidah ini.
“Kak, gantian”
Akhirnya aku mengalah & mulai WOT.

Tangan lembutnya menuntun kontolku agar kembali menancap ke memeknya, lalu Nat naik turun & menggigit bibir bawahnya. Kuraba bokongnya yang kenyal itu & kuremas.
“Oh, Nat…” Aku pun iseng masukkan jari tengahku ke anusnya.
“Kaaaak, terusin, mmmhhh kimochii” Rancauan Nat sambil meremas toketnya sendiri. Sambil mengobok anusnya, aku menampar pantatnya.
“Oogghh Kak, enak” Desahannya mengingatkanku saat first time aku merenggut keperawanan Nat.
“Oh kak, jangan kel… uarin di dalam, aku lagi subuur, mmmhh”
Iseng, aku sodokkan secara kasar sampai mentok.
“Kyaaa, kakak nakal…” Nat pun ambruk, secepatnya aku dekap dia agar tidak terlepas, lalu kami bercinta dengan saling berpelukan.

Tak lama…
“Mmhh, oohh, kak, aku, keluaaaaarrgghh” Nat orgasme hebat. Kedutan berupa jepitan terasa kuat & menekan kontolku yang masih terjepit. Oh nikmatnya.
“Kakak udah keluar?”
“Tenang Nat, kakak masih belum keluar”
Lalu kami sambil bercumbu di bawah timpaan sinar lampu kamar kosan Nat. Tubuh bohay Nat yang berkeringat & muka sangenya membuat keseksian Nat semakin sempurna. Kami sambil mengatur nafas agar bisa melanjutkan pertarungan ranjang ini.
“Lanjut atau gimana Nat?”
“Ih kakak belum crot kok minta udahan?”
“Katanya jangan crot di dalam”
“Ya emang, tapi udahan kalo kamu crot. Janji ya jangan sampe jadi bayi sebelum nikah? Kalo crot di dalam pas aku gak subur gapapa kok”
“Janji sayang” Ucapku sambil mencupit toket Nat.

Aku menyuruh Nat untuk doggy style, dia pun dengan senang hati menyerahkan bokongnya.
“Nyoba anal yuk”
“Takut kak…”
“Udah, jangan takut deh. Kakak pelan-pelan kok”
“Yaudah tusuk kak”
Pertama, kugesekkan kontolku ke lubang anusnya agar terbiasa. Begitu sudah terbiasa, aku sodokkan anusnya & blessh.
“Errghhhh, kaak perih…” Erangan kesakitan Nat saat first time anal.
“Nat, rileks dulu ah biar bisa aku sodok”
Nat pun mulai kendor sehingga kontolku bebas masuki anusnya. Justru analnya lebih sempit dari memeknya karena memeknya pernah aku hardcore dulu. Sesekali kutampar bongkahannya hingga merah.
“Ah, kak, terusin, tikam kak, mmmhhh” Desahannya menyihirku untuk menusuk analnya lebih kencang. Saat kupercepat temponya, Nat merintih & menunggingkan bokongnya. Kitoris di memeknya aku obok & memeknya aku kobel 3 jari. Serasa Nat mengalami double penetrasi.
“Mmmmhhh kaak, terus, ooohhh”

Tak lama, serasa kontolku ingin mengeluarkan sesuatu.
“Nat, aku hampir sampe”
“Barengan kaaak, uaaaaaahh”
Kami pun orgasme barengan. Nat squirt & aku ejakulasi di anusnya, lebih dalam lagi. Aku ambruk di punggung Nat.
“Kak, cabut”
Aku mencabut kontolku & meninggalkan sisa lubang anus yang menganga & memerah mungkin karena agak robek sedikit.
“Thanks kak, tidur bareng yuk, udah hampir jam 12 malem”
“Masa? buruan tidur gih, besok kamu ngampus kan?” Aku tak sadar sejak jam 6 sore. Saking enaknya, sampai aku lupa waktu. Padahal, aku baru saja datang ke Jakarta langsung ke theater untuk wawancara & briefing menjadi pengawal team.
“Iya, bangunin dong besok”
“Iya iya, selamat tidur” kuciumi jidatnya.
“Oyasumiloveyah kak”

Aku terpana wajah cantiknya saat tidur, ditambah dengan keseksian lekukan tubuhnya meski perutnya agak buncit karena kegendutan. jujur saja aku baru terasa lelah saat ejakulasi di anus Nat, perjalanan panjang & briefing di theater pun tak merasakan apa-apa. Kami pun tidur tanpa mengenakan sehelai benang pun & saling berpelukan. Aku rela jadi gulingnya. Biarkan ranjang ini menjadi saksi bisu serunya hubungan seksual 2 orang yang banyak memiliki perbedaan. Tapi, perbedaan itu kami lupakan saat kedua senjata kami bersatu & saling bergesekan hingga terpuaskan.

Aku terbangun kira-kira jam 4 subuh karena ada SMS dari Pak Bos, manajer team.
“Bro, besok jam 5 sore ajak satu team jenguk Nadila di RS XXX”
Aku lalu balas “Siap bos”
Aku mau tidur lagi, tapi nanggung. Kulihat sebelahku. Nat, pacarku yang binal masih bugil. Ah tidak aku bernafsu lagi. Masa iya ngentot waktu dia tidur?

Dengan hati-hati, aku coba masukkan kontolku ke memek Nat. Kugenjot dengan pelan & kuremas toketnya dengan lembut. Kecepatan genjotanku kupercepat sedikit. Untungnya, Nat masih tertidur, namun nafasnya tak teratur. Itu kulakukan kira-kira 20 menit, sampai akhirnya aku ingin ejakulasi. Shit! Aku ingat Nat dalam masa subur. Terus aku keluarkan di mana? Aku punya pikiran jahat untuk crot di mukanya. Kucabut segera kontolku, lalu kuarahkan ke mukanya.
“Oh Naaat, mmhhh” Desahku sambil berbisik. Tak kusangka, aku banyak sekali keluarkan peju ke muka Nat tanpa merasa bersalah. Aku pun bersihkan diri.

Oh iya, jadwal kuliah Nat masuk pagi. Alarm berbunyi jam setengah 6. Aku pura-pura tak tahu jika aku bercinta saat Nat tertidur.
“Bau apaan sih? Ih kakak jahat, masa ngecrot di muka?”
Aku cuma bisa ketawa saat Nat sedikit jengkel.
“Sini kamu! Tiduran, cepet!” Shit! Nat marah. Ternyata, Nat menyiksaku dengan blowjob mautnya yang membuat mangsanya lemas. Tak lama, aku crot lagi. Nat bernafsu menyedot sisa permainannya.
“Ampun Nat”
“Hahahah, kalo mau main, bilang dulu dong, aku juga pengen”
“Oh iya, nanti sore jam setengah 6 satu team disuruh jenguk Nadila”
“Iya kak, temen-temen udah tau. BTW kakak mau dimasakin apa?”
“Gak usah repot-repot, biar aku cari di luar”
“Yakin gak mau nyicipin masakan calonmu kak?”
Aku akhirnya mengiyakan saja.

Rupanya, Nat masak nasi goreng sosis. Memang dia kebetulan masak itu karena simpel.
“Silakan kak, gimana?”
“Amatir tapi jago. Mantap”
Nat semakin sumringah karena sukses memasak.
“Emm ke kampus udah order ojek?”
“Enggak ah, kan ada kakak”
“Sehari aja belum pernah keliling Jakarta Nat”
“Nanti aku tunjukin”
“Yaudah” Kataku sembari menghabiskan sarapanku.

Kami sudah bersiap diri, saatnya mengantar Nat ke kampusnya. Ah kampus lagi.
“Kak, aku ngampus dulu ya”
“Sampe ketemu di RS nya Nadila ya”
“Jemputin dong” Nat memintaku dengan nada manjanya.

“Hmm, yaudah”

Nat pun girang saat aku pasrah.

Related Post