Cerita Sex

ShanjuStory – Aku dan Sisi Terliarku – Prolog

Gelisah, gundah, benar2 tak ada semangat, itu semua kurasakan bukan karena penyakitku, tapi karena mendengar kabar bahwa Angga, sepupuku akan datang menjengukku. Dialah satu2nya alasan aku sempat menjadi anak minder. Bully, aku mengenal kata itu beberapa tahun lalu, tepatnya saat mulai menginjak kelas 1 SMA. Namun, ternyata, kenyataan yg aku hadapi bukanlah sebuah bully, tapi sebuah pelecehan seksual. Kenyataan itu aku ketahui sejak aku duduk di kelas 2 SMA, guruku menjelaskan apa saja yang termasuk dalam pelecehan seksual. Pelecehan secara verbal, pelecehan secara penglihatan hingga pelecehan secara perbuatan. Ya, semua itulah yg Angga dan teman2nya lakukan saat aku masih SMP.

Jijik, sakit hati, dendam, itulah yg aku rasakan sejak saat itu hingga akhirnya dia pindah sekolah. Tapi saat kudengar namanya lagi, tiba2 saja seua perasaan itu timbul. “Mah, kenapa sih Angga harus dateng? Ntar aku tambah sakit lho”, aku mencoba membujuk mamahku, agar dia memberi alasan kepada Angga dan tak jadi datang menjengukku. “Gak boleh gtu sayang, gmanapun dia jg keluarga kita, lupain deh kejadian yg dulu, toh dulu dia masih kelas 6 SD, dan dia anak Yatim, jadi gak diurus ama org tua”.

Mmmmmm, sedikit jijik sih mau menjelaskan, nama lengkapnya adalah Angga Surya Lesmana. Usianya 2 tahun lebih muda dariku. “Ahhhh udah deh, gk perlu juga aku jelasin anak berandalan kyk gtu”.

Tapi gak adil jg klo tiba2 aku membencinya tanpa menjelaskan permasalahannya. Hmmmmm, nyesek jg sih, jadi waktu aku kelas 2 SMP, si Angga ini kelas 6 SD, aku tau klo dia sepupu aku tu dari ayahku sejak aku pindah ke Bekasi sekitar 5 tahun yg lalu. “Shaniaaaa, I love youuu, Shaniaaa I love youu, Shaniaaaa, I lovee youu”, terdengar suara teriakan dari gerombolan anak lelaki yg lewat di depan rumahku. AKu tau, itu pasti Angga dan teman2nya. Risih bgt, dasar anak kecil. Ini terjadi hampir setiap pagi saat mereka brgkt sekolah. Sekolahnya berdekatan sih ama sekolahku, tapi dari dulu udah ada stereotype sih klo sekolahnya Angga tuh sekolah buangan, cuma buat anak2 Kampung dan org2 miskin, sementara sekolahku tuh SMP favorit, jadi aku selalu jaga jarak ama anak2 dari SD sebelah. Mereka selalu berangkat pagi2 bgt, maklum org miskin, jadi jalan kaki. Upsss maaf, jadi kebawa emosi.

Baca Juga: Sensasi Wanita Berambut Panjang

Aku ingat, waktu itu pukul 2 siang, ayahku belum jemput. Aku berdiri di bawah pohon rindang di luar pagar sekolah di samping sebuah Baliho besar. Tempatnya sejuk sih, angin yg bertiup benar2 terasa mendesir mengenai pipi dan menyibakkan rambutku yg panjang. “Plaaaak”, “Aaaaaaaaa”, tiba2 aku berteriak saat ada yg mengangkat rokku dan kemudian memukul pantatku. “Hahahaha cawetnya warna putih, cawetnya Shania warna putih, cawetnya Shania warna putih”, kata2 dari Angga dan para berandalan kecil itu masih selalu terngiang di telingaku, huhhhh.

Dasar anak kecil sialan, awas aja klo lewat depan rumah, aku lempar dia. Aku orgnya periang, tapi agak tertutup sih. Kejadian waktu itu aku pendam sendiri aja. Suatu saat aku bakalan balas dendam.

Hmmmm, tapi, itu adalah kejadian pertama Angga berani berbuat kurang ajar terhadapku, setelah itu? Dia makin kurang ajar. Suatu hari, di jam yang sama, di tempat yang sama pula dan ayahku belum datang menjemputku. Aku baru saja berjalan ke bawah pohon rindang. Setelah tiba, “Ehhhhh, ehhhh lepasin, lepaaaasiiiin”, aku berteriak cukup keras ketika secara tiba2, entah 2 atau 3 orang memegang tanganku dari belakang, kemudian Angga menyentuh dan meremas dadaku, kemudian berlari. “Shaniaaa punya susuuu, Shaniaa punya susuuuu, Shaniaaa punyaaa susuuuu”, kata mereka. “Ehhhh taiiiii, anjiiiiingggg”, kataku berteriak cukup kencang sambil mengambil batu dan melempar ke arah mereka. Tapi apa daya, tenagaku lemah, dan mereka sudah kabur. Akupun menangis tersedu2 karena kejadian itu. Tapi, ya sudahlah, aku tetap tak menceritakannya kepada kedua org tuaku.

Makin hari rasanya makin tersiksa, apalagi saat mereka berlari lewat depan rumahku sambil berteriak, “Shania punya susuuu, Shania punya susuuu”, saat itu ibuku sempat berlari keluar, melempar anak2 itu dgn tas belanjaan, “Woiiiii tante laporin org tua kalian nanti yaaa”, kata ibuku. Hmmmmm, cukup membuatku lega sih, saat melihat anak2 berandalan, miskin dan kotor itu lari tunggang langgang ketakutan karena melihat ibuku.

Ehhh, tapi, namanya berandalan, tetaplah berandalan. Suatu hari, kebetulan kelasku ada ekskul renang. Mmmmm tempatnya asik sih, luas bgt, cuma, agak dikit kumuh, tapi dikit doank, hehehe. Aku tertawa ama temen2ku, sampe akhirnya aku menjadi murung secara tiba2 setelah mengetahui trnyata sekolah Angga pun ada ekskul renang di tempat ini.

“Pak, kok tempat renang kita disamain sih ama anak2 kampung itu?”, kataku sambil menunjuk ke arah Angga dan teman2nya, “Gak boleh gtu Shania, biar org Kampung, mereka juga manusia, sama seperti kita”, jawab Guruku. Ihhhh najis, masak aku disamain ama anak2 Kampung itu, huuhhhhhh. Saat pengambilan nilai sih lancar2 aja, setelah itu kita dikasi waktu sekitar 30 menit oleh guruku untuk bermain di kolam renang. Waktu itu aku berbaur ama temen2ku, berenang walaupun gk terlalu pandai sih. Tapi asik main kejar2an. Aku benar2 tertawa saat melihat temanku teriak2 karena dikejar oleh temanku yg lain.

Tawaku benar2 lepas hingga akhirnya, “Plaaak”, sebuah remasan, ehh bukan sebuah, tapi 2, 3 atau lebih tangan meremas pantatku. Saat aku menoleh ternyata itu Angga dan teman2nya. Kesabaranku sudah habis, kukejar Angga, tapi dia terlalu cepat, namun ada salah seorang temannya yg tertangkap olehku. Entah apanya, namun yg kurasakan saat itu adalah, kukuku begitu keras mencengkeram kulitnya. “Aawwwwww”, dia pun berteriak dan melihat ada darah yg keluar dari kulit lengannya hingga dia pun menangis. Yessss, aku benar2 puas membuat salah satu berandalan kampung itu menangis. “Shania, apa2an sih kamu? Masak kamu berkelahi ama anak SD? Ayoo minta maaf”, kata Guruku. Aahhhhhhh, aku ingin berteriak, tapi mau tak mau akupun bersalaman dan minta maaf ama cecunguk itu.

Ya udah deh, paling nggak aku bisa melampiaskan kekesalan aku, walaupun ke satu orang doank. Aku berada di kolam saat Guruku memperingatkan kami semua untuk segera naik dari kolam dan bersiap2 untuk kembali ke sekolah.

Akupun ganti baju di ruang ganti. Kata ibuku, abis renang, aku harus bilang tubuhku, jadi aku bawa sabun dan shampoo agar tubuhku gk terkena bakteri, apalagi anak2 kampung itu satu kolam dgnku tadi, cuiiihhhh. Ahhh sekalian aja aku mandi deh. Saat itu kutanggalkan seluruh pakaianku hingga aku telanjang bulat. Kuguyur tubuhku dgn air yg mengucur deras dari shower. Kolam renang ini memang menyediakan shower untuk siapapun yg mau membilas tubuhnya. Hmmmm, aku sempet bingung dan agak geli waktu aku liat ada bulu2 halus yg mulai tumbus di kemaluanku. “Ehhhhhhhh, ahhhhhh, ehhhh”, wah trnyata bukan cuma kemaluanku aja yg mulai berubah, tapi dadaku jg agak membesar. “Ehhhhhhh, ahhhhhhh”.

Pantas aja anak2 kampung itu mengatakan klo aku punya susu, trnyata mereka bener jg, “ehhhhhhh, ahhhhh”, hmmmm, perasaan dari tadi ada suara aneh deh? Seperti suara nafas yg terengah2, tapi di sini gak ada siapapun selain diriku. “Aaaaaaaaaaaaa”, akupun berteriak dgn sangat keras ketika melihat Angga dan teman2nya memanjat dinding kamar ganti wanita”, yg kulihat saat itu, Angga dan salah seorang temannya sedang memegang burungnya sendiri, tangan mereka maju mundur seakan2 sedang mengocok burung mereka. Aku benar2 shock saat itu. Untung saja ada yg berteriak dari luar kamar ganti, “Heyyyyy siapa itu?”, kata seorang ibu2 yg kemudian berlari masuk ke dalam. “Ada yg ngintip bu, mereka naik ke atas situ”, kataku sambil menunjuk ke dinding atas.

Hmmmm, skip cerita yg tadi. Itu pengalaman yg bener2 memalukan. Berarti selama aku memperhatikan bulu kemaluanku dan juga memegang dadaku, mereka memperhatikanku. Ahhhhhhh, anak kampung kurang ajar.

Aku gak habis pikir, apa sih yg mereka lakukan saat itu? Melihatku telanjang, lalu mengocok burung mereka sendiri. Ahhhh udahlah, menjijikkan bgt. Tapi, puncak dari kekesalanku bukanlah hal itu. Suatu hari, tepatnya saat hari Minggu di sore hari. Perutku benar2 mules, entah karena makan terlalu pedas atau karena apa, aku lupa. Tapi yg aku ingat saat itu, kamar mandi di dalam rumahku sedang terpakai semua. Karena bener2 gk tahan, terpaksa aku berlari menuju toilet yg letaknya di halaman belakang. Toilet itu ditutupi oleh seng dan beratapkan seng juga. Itu memang toilet dadakan yg dibuat oleh para pekerja bangunan yg bekerja di rumahku.

Daripada aku tahan dan berak di celana, ya udah deh, aku pake toilet seadanya itu aja. Kreeeeekkkk, Kreeeeekkkk, seng itu berbunyi saat terkena angin. Kreeeeek, kletek, kreeeeek, ahhh mungkin ada ranting yg jatuh mengenai seng. Lucu jg sih kalo diinget2 waktu itu, aku BAB di toilet jongkok, hehehe, agar ribet bagiku, apalagi saat cebok. Ahhh yg penting legaaa, semua beban terbuang, perutku normal kembali, hehehe.

Yahhhh, hari itu aku lalui tanpa ada gangguan apapun. Apalagi gangguan dari makhluk yg namanya Angga itu. Rumah Angga berjarak sekitar 50 meter dari rumahku. Dekat bukan? Iya, dekat bgt, makanya dia selalu lewat depan rumahku. Bahkan pernah tiba2 dia berada di halaman belakang rumahku, memanjat pagar tanaman yg memang tak terlalu tinggi. Parah bgt, dasar kelakuan anak kampung.

Keesokan harinya, saat pukul 2 siang, aku berjalan ke bawah pohon rindang di samping baliho. Aku membawa sebongkah batu, persiapan jika Angga ataupun teman2nya mengganggu aku lagi. Hmmmmmm, pandanganku sangat awas saat itu. 5 menit berlalu, 10 menit, 15 menit, ayahku belum menjemputku. Ehhh, sepertinya ada yg aneh? Angga dan teman2nya tak satupun datang menggangguku. Seharusnya aku senang, tapi aku jadi penasaran. Aku mencari tau, berjalan mengitari taman di luar pagar sekolah, hingga akhirnya menemukan mereka berempat sedang duduk sambil melihat ke arah HP yg dipegang oleh Angga. Celakanya, Angga dan seorang temannya kembali memegang dan mengocok burung mereka. Ahhh apa2an ini, aku penasaran.

Sebenarnya aku takut, aku ingin menghindari mereka. Tapi dadaku terasa panas, jantungku berdegub kencang karena benar2 penasaran. Akhirnya aku memberanikan diri melangkah dgn cukup lambat dan tanpa bersuara. Mendekati mereka, hmmmm melangkah, terus melangkah, dan, Eaaaaaaa, akhirnya berhasil kurebut HP yg dipegang oleh Angga. Eh, tapi ada yg aneh, Angga dan teman2nya tak berontak, tak mengejarku, tak berusaha mengambil HPnya. Mereka hanya terdiam sambil melihat ke arahku. Sempat kulihat burungnya masih berdiri tegak dan menggantung keluar dari celana pendeknya.

Namun, tiba2 badanku terasa terbakar, ternyata yg mereka tonton di HP milik Angga adalah sebuah video yg sangat menjijikkan. Video saat aku sedang BAB di toilet halaman belakang. Entah bagaimana cara Angga mendapatkannya. Mereka sungguh keterlaluan. Kubanting HP Angga, kuambil sebongkah batu yg ada di sebelahku, lalu kulempar ke arahnya. Namun luput.

Tangisanku benar2 tak berhenti. Angga sempat mengambil HPnya lalu berlari entah kemana. Begitu juga dgn teman2nya. Tangisanku begitu pedih, begitu dalam, bahkan ketika tiba di rumah pun. Ayah dan ibuku menanyaiku, hingga akhirnya aku menceritakan semuanya. “Udah, aku mau datengin tuh anak”, kata Ayahku benar2 emosi. Ibuku pun emosi dan ikut mendatangi rumah Angga.

Setelah itu aku lupa kejadiannya bagaimana, yg pasti Angga pindah sekolah. Ibunya pindah kontrakan, dan teman2nya sudah tak pernah terlihat lagi. Mungkin mereka kena hukuman dari sekolahnya. Ahhh bodo amat. Benar2 menyakitkan. Hmmmmmm, tak terasa, kejadian itu sudah berlalu 5 tahun yg lalu. Dendamku sempat reda saat aku mulai melupakan Angga. Tapi hari ini, dia akan datang menjengukku.

Tok Tok Tok, hmmmm, siapa yahh yg datang siang2 begini? Yg pasti bukan Angga, karena rencananya dia akan datang malam hari. Kreeeeeekkkk, pintupun dibuka, dan, Oh shit, itu Angga, kenapa dia dateng jam segini? Mana gk ada org lagi di ruanganku. “Heyy Shan, apa kabar?”, tanya Angga kepadaku, “Yaaa beginilah”, jawabku dgn nada yg ketus dan cuek. “Udah lama kita gk ketemu nih, udah gak dendem ama aku kan?”, tanya Angga sambil tersenyum ke arahku. Tapi, suara Angga sudah berubah, kulitnya jadi lebih bersih, dan, hmmmm, duh mual sih mau ngomongnya, tapi, dia terlihat makin ganteng. “yg dendem siapa?”, kujawab kembali dgn nada yg ketus. “Ohh, syukur deh, nih kubawakan buah2an segar, dimakan ya”, kata Angga sambil meletakkan parcel berisi buah2an segar. Aku masih berpikir keras, apakah ini benar2 Angga? Mengapa ia begitu berubah? Maksudku dari segi fisiknya … Hmmmm, ahhh udah lah, kejadian itu udah lama terjadinya, mngkin sifatnya jg udah berubah.

Related Post