Belajar Ngentot Dengan Tante

Dekat, di Tebet Timur Dalam. Malam ini Tante mengenakan daster pendek tak berlengan, ada kancingkancing di tengahnya, dari atas ke bawah.

Tumben, kamu tidur siang

Iya Tante, tadi main voli di situ jawabku tangkas.

Kamu suka main voli ?

Di Kampung saya sering olahraga Tante Aku mulai berani memandangnya langsung, dari dekat lagi. Ih, bahu dan lengan atasnya putih banget!

Pantesan badanmu bagus Senang juga aku dipuji Tanteku yang rupawan ini.

Ah, Kalau ini mungkin saya dari kecil kerja keras di kebun, Tante Wow, buah putih itu mengintip di antara kancing pertama dan kedua di tengah dasternya. Ada yang bergerak di celanaku.

Kerja apa di kebun ?

Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen Buah dada itu rasanya mau meledak keluar.

Apa saja yang kamu tanam ? tanyanya lagi sambil mengubah posisi duduknya, menyilangkan sebelah kakinya.

Kancing terakhir daster itu sudah terlepas. Waktu sebelah pahanya menaiki pahanya yang lain, ujung kain daster itu tidak ikut, jadi 70 % paha Tante tersuguh di depan mataku. Putih licin. Yang tadi bergerak di celanaku, berangsur membesar.

Macammacam tergantung musimnya, Tante. Kentang, jagung, tomat Hampir saja aku ketahuan mataku memelototi pahanya.

Kalau kamu mau makan, duluan aja

Nanti aja Tante, nunggu Oom Aku memang belum lapar. Adikku mungkin yang lapar

Oom tadi nelepon ada acara makan malam sama tamu dari Singapur, pulangnya malam

Saya belum lapar jawabku supaya aku tidak kehilangan momen yang bagus ini.

Kamu betah di sini ? Ia membungkuk memijitmijit kakinya. Betisnya itu

Kerasan sekali, Tante. Cuman saya banyak waktu luang Tante, biasa kerja di kampung, sih. Kalau ada yang bisa saya bantu Tante, saya siap

Ya, kamu biasakan dulu di sini, nanti Tante kasih tugas

Kenapa kakinya Tante ? Sekedar ada alasan buat menikmati betisnya.

Pegel, tadi senamnya habishabisan

Di antara kancing daster yang satu dengan kancing lainnya terdapat celah. Ada yang sempit, ada yang lebar, ada yang tertutup. Celah pertama, lebar karena busungan dadanya, menyuguhkan bagian kanan atas buah dada kiri. Celah kedua memperlihatkan kutang bagian bawah. Celah ketiga rapat, celah keempat tak begitu lebar, ada perutnya. Celah berikutnya walaupun sempit tapi cukup membuatku tahu kalau celana dalam Tante warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas dan terakhir, ya yang kancingnya lepas tadi.

Mau bantu Tante sekarang ?

Kapan saja saya siap

Betul ?

Kewajiban saya, Tante. Masa numpang di sini engga kerja apaapa

Pijit kaki Tante, mau ?

Hah ? Aku tak menyangka diberi tugas mendebarkan ini

Biasanya sama Si Mar, tapi dia lagi engga ada

Tapi saya engga bisa mijit Tante, cuma sekali saya pernah mijit kaki teman yang keseleo karena main bola Aku berharap ia jangan membatalkan perintahnya.

Engga apaapa. Tante ambil bantal dulu Goyang pinggulnya itu

Sekarang ia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Aku mulai dari pergelangan kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Hampir seluruh tubuh Tante pernah kulihat, tapi baru inilah aku merasakan mulus kulitnya. Mataku ke betis lainnya mengamati bulubulu halus.

Begini Tante, kurang keras engga ?

Cukup segitu aja, enak kok

Tangan memijit, mata jelalatan. Lekukan pantat itu bulat menjulang, sampai di pinggang turun menukik, di punggung mendaki lagi. Indah. Kakinya sedikit membuka, memungkinkan mataku menerobos ke celah pahanya. Tanganku pindah ke betis kanannya aku menggeser dudukku ke tengah, dan..terobosan mataku ke celah paha sampai ke celana dalam merah jambu itu. Huuuh, sekarang aku betulbetul keras.

Aah teriaknya pelan ketika tanganku menjamah ke belakang lututnya.

Maaf Tante

Engga apaapa. Jangan di situ, sakit. Ke atas saja

Ke Atas ? Berarti ke pahanya ? Apa tidak salah nih ? Jelas kok, perintahnya. Akupun ke paha belakangnya.

Ampuuun, halusnya paha itu. Kulit Tante memang istimewa. Kalau ada lalat hinggap di paha itu, mungkin tergelincir karena licin!

Aku mulai tak tenang. Nafas mulai tersengal, entah karena mijit atau terangsang, atau keduanya. Aku tak hanya memijit, terkadang mengelusnya, habis tak tahan. Tapi Tante diam saja.

Kedua paha yang diluar, yang tak tertutup daster selesai kupijit. Entah karena aku sudah tinggi atau aku mulai nakal, tanganku terus ke atas menerobos dasternya.

Eeeh desahnya pelan. Hanya mendesah, tidak protes!

Kedua tanganku ada di paha kirinya terus memijit. Kenyal, padat. Tepi dasternya dengan sendirinya terangkat karena gerakan pijitanku. Kini seluruh paha kirinya terbuka gamblang, bahkan sebagian pantatnya yang melambung itu tampak. Pindah ke paha kanan aku tak raguragu lagi menyingkap dasternya.

Enak To, kamu pintar juga memijit

Aku hampir saja berkomentar :Paha Tante indah sekali. Untung aku masih bisa menahan diri. Terus memijit, sekalikali mengelus.

Ke atas lagi To suaranya jadi serak.

Ini yang kuimpikan! Sudah lama aku ingin meremas pantat yang menonjol indah ke belakang itu, kini aku disuruh memijitnya! Dengan senang hati Tante!

Aku betulbetul meremas kedua gundukan itu, bukan memijit, dari luar daster tentunya. Dengan gemas malah! Keras dan padat.

Ah, Tante. Tante tidak tahu dengan begini justru menyiksa saya! kataku dalam hati. Rasanya aku ingin menubruk, menindihkan kelaminku yang keras ini ke dua gundukan itu. Pasti lebih nikmat dibandingkan ketika memeluk tubuh mbak Mar dari belakang.

Ih, geli To. Udah ah, jangan di situ terus ujarnya menggelinjang kegelian. Barusan aku memang meremas pinggir pinggulnya, dengan sengaja!

Cape, To ? tanyanya lagi.

Sama sekali engga, Tante jawabku cepat, khawatir saat menyenangkan ini berakhir.

Bener nih ? Kalau masih mau terus, sekarang punggung, ya ?. Aha, daerah jamahan baru!

Bahunya kanan dan kiri kupencet.

Eeh desahnya pelan.

Turun ke sekitar kedua tulang belikat. Lagilagi melenguh. Daster tak berlengan ini menampakkan keteknya yang licin tak berbulu. Rajin bercukur, mungkin. Ah, di bawah ketek itu ada pinggiran buah putih. Dada busungnya tergencet, jadi buah itu terbuang ke samping. Nakalku kambuh. Ketika beroperasi di bawah belikat, tanganku bergerak ke samping.

Jarijariku menyentuh tumpahan buah itu. Tidak langsung sih, masih ada lapisan kain daster dan kutang, tapi kenyalnya buah itu terasa. Punggungnya sedikit berguncang, aku makin terangsang.

Ke bawah lagi, aku menelusuri pinggangnya.

Cukup, To.. Kedua tangannya lurus ke atas. Ia tengkurap total. Nafasnya terengahengah.

Depannya Tante ? usulku nakal. Lancang benar kau To. Tante sampai menoleh melihatku, kaget barangkali atas usulku yang berani itu.

Kaki depannya kan belum Tante aku cepatcepat meralat usulku. Takut dikiranya aku ingin memijit depannya punggung yang artinya buah dada!

Boleh aja kalau kamu engga cape. Ya jelas engga dong! Tante berbalik terlentang. Sekejap aku sempat menangkap guncangan dadanya ketika ia berbalik. Wow! Guncangan tadi menunjukkan eksistensi kemolekkan buah dadanya! Aduuh, bagaimana aku bisa bertahan nih ? Tubuh molek terlentang dekat di depanku. Ia cepat menarik dasternya ke bawah, sebagai reaksi atas mataku yang menatap ujung celana dalamnya yang tibatiba terbuka, karena gerakan berbalik tadi. Silakan ditutup saja Tante, toh aku sudah tahu apa yang ada dibaliknya, rambutrambut halus agak lurus, hitam, mengkilat, dan lebat. Lagi pula aku masih bisa menikmati sisanya: sepasang paha dan kaki indah! Aku mulai memijit tulang keringnya. Singkat saja karena aku ingin cepatcepat sampai ke atas, ke paha.

Lutut aku lompati, takut kalau ia kesakitan, langsung ke atas lutut, kuremas dengan gemas.

Iih, geli. Aku tak peduli, terus meremas. Paha selesai, untuk mencapai paha atas aku raguragu, disingkap atau jangan. Singkap ? Jangan! Ada akal, diurut saja. Mulai dari lutut tanganku mengurut ke atas, menerobos daster sampai pangkal paha.

Aaaah, Tooo . Biar saja. Kulihat wajahnya, matanya terpejam. Aku makin bebas.

Dengan sendirinya tepi daster itu terangkat karena terdorong tanganku. Samarsamar ada bayangan hitam di celana dalam tipis itu. Jelas rambutrambut itu. Ke bawah lagi, urut lagi ke atas. Aaah lagi. Dengan cara begini, sahsah saja kalau jempol tanganku menyentuh selangkangannya. Sepertinya basah di sana. Ah masak. Coba ulangi lagi untuk meyakinkan. Urut lagi. Ya, betul, basah! Kenapa basah ? Ngompol ? Aku tidak mengerti.

To panggilnya tibatiba. Aku memandangnya, kedua tanganku berhenti di pangkal pahanya. Matanya sayu menantang mataku, nafasnya memburu, dadanya naikturun.

Ya, Tante mendadak suaraku serak. Dia tak menyahut, matanya tetap memandangiku, setengah tertutup. Ada apa nih ? Apakah Tante .. ? Ah, mana mungkin. Kalau Tante terrangsang, mungkin saja, tapi kalau mengajak ? Jangan terlalu berharap, To!

Aku meneruskan pekerjaanku. Kini tak memijit lagi, tapi menelusuri lengkungan pinggulnya yang indah itu, membelai. Habis tak tahan.

Uuuuh desahnya lagi menanggapi kenakalanku. Keterlaluan aku sekarang, kedua tanganku ada di balik dasternya, mengelus mengikuti lengkungan samping pinggul.

Too . panggilnya lagi. Kulepas tanganku, kudekati wajahnya dengan merangkak di atas tubuhnya bertumpu pada kedua lutut dan telapak tanganku, tidak menindihnya.

Ada apa, Tante panggilku mesra. Mukaku sudah dekat dengan wajahnya.

Matanya kemudian terpejam, mulut setengah terbuka. Ini sih ajakan. Aku nekat, sudah kepalang, kucium bibir Tante perlahan.

Ehhmmmm Tante tidak menolak, bahkan menyambut ciumanku. Tangan kirinya memeluk punggungku dan tangan kanannya di belakang kepalaku. Nafasnya terdengar memburu. Aku tidak lagi bertumpu pada lututku, tubuhku menindih tubuhnya. Menekan. Ia membuka kakinya. Aku menggeser tubuhku sehingga tepat di antara pahanya yang baru saja ia buka. Kelaminku yang keras tepat menindih selangkangannya. Kutekan. Nikmatnya!

Ehhhmmmmmm reaksinya atas aksiku.

Kami saling bermain lidah. Sedapnya!

Aku terengahengah.

Dia tersengalsengal.

Tangan kananku meremas dada kirinya. Besar, padat, dan kenyal! Ooooohhhh, aku melayang.

He!, ini Tantemu, isteri Oommu!

Iya, benar. Memangnya kenapa.

Mengapa kamu cium, kamu remas dadanya.

Habis enak, dan ia tak menolak.

Dua kancing dasternya telah kulepas, tanganku menyusup ke balik kutangnya.

Selain besar, padat, dan kenyal, ternyata juga halus dan hangat!

Tibatiba Tante melepas ciumanku.

Jangan di sini, To katanya terputusputus oleh nafasnya.

Tanpa menjawab aku mengangkat tubuhnya, kubopong ia ke kamarnya. Uuuuuhhh lenguhnya lagi.

Ke kamarmu saja

Sebelum sampai ke dipanku, Tante minta turun. Berdiri di samping dipan. Aku memeluknya, dia menahan dadaku.

Kunci dulu pintunya Okey, beres.

Kulepas seluruh kancingnya, dasternya jatuh ke lantai. Tinggal kutang dan celana dalam. Buah dada itu serasa mau meledak mendesak kutangnya!

Kupeluk lagi dia. Dadanya merapat di dadaku.

Tooo, hhehhhhhhh katanya gemas seperti menahan sesuatu.

Kami berciuman lagi. Main lidah lagi.

Tangannya menyusup ke celanaku, meremasremas kelaminku di balik celana.

Eehhmmmmmm dengusnya

Dengan kesulitan ia membuka ikat pinggangku, membuka resleting celanaku, merogoh celana dalamku, dan mengeluarkan isinya

Eehhh Ia melepas ciuman, melihat ke bawah.

Ada apa Tante Tanyaku diselasela dengus nafasku.

Besar sekali

Ia mempermainkan penisku. Menggenggam, meremas.

Geli, geliii sekali.

Stop Tante, jangan sampai keluar. Aku ingin pengalaman baru, Tante. Ingin memasuki kelaminmu..sekarang!

Kutarik tangannya dari penisku. Untung Tante menurut. Aku tak jadi keluar

Kulepas tali kutangnya, tapi yang belakang susah dilepas. Tante membantu. Buah dada itu terbuka. Wow.luar biasa indahnya. Belum sempat aku menikmat buah itu, Tante memelukku. Meraih tangan kananku, dituntunnya menyelip ke celana dalamnya. Dibawah rambutrambut itu terasa basah. Diajarinya aku bagaimana jariku harus bermain di sana : menggesekgesek antara benjolan dan pintu basah itu.

Uuuuuuhhhhhh, Tooo..

Dilepasnya bajuku, singletku, celanaku luar dalam. Aku telanjang bulat. Kutarik juga celana dalamnya. Ia telanjang bulat juga. Luar biasa. Pinggang itu ramping, perut itu rata, ke bawah melebar lengkungannya indah. Rambutrambut halus itu menggemaskan, diapit oleh sepasang paha yang nyaris bulat. Seluruhnya dibalut kulit yang putih dan mulusnya bukan main!.

Ditariknya aku ke dipan. Ia merebahkan diri. Kakinya ditekuk lalu dibuka lebar. Dipegangnya kelaminku, ditariknya, ditempelkannya di selangkangan. Rasanya terlalu ke bawah. Ah, dia kan yang lebih tahu. Aku nurut saja. Tangannya pindah ke pantatku. Ditariknya aku mendekat tubuhnya. Sesuatu yang hangat terasa di ujung penisku.

Tangannya memegang penisku lagi. Belum masuk ternyata. Disapusapukannya kepala penisku di pintu itu. Sementara ia menggoyang pantatnya. Geliii, Tante. Aku manut saja seperti kerbau dicucuk hidung. Memang belum pengalaman! Didorongnya lagi pantatku. Meleset!

Pernah kupikir waktu pertama kali aku melihat kelamin Tante beberapa hari lalu, mana cukup lubang sesempit itu menampung kelaminku yang lagi tegang ?

Tante membuka pahanya lebih lebar lagi, mengarahkan penisku lagi, dan aku sekarang yang mendorong. Kepalanya sudah separoh tenggelam, tapi macet!

Kelaminmu besar, sih!keluhnya. Padahal barusan ia mengaguminya.

Ia menggoyang pantatnya danbless. Masuk separoh.

Aaaaahhh teriak kami berbarengan. Terasa ada sesuatu yang menjepit penisku, hangat, enak!

Pantatnya bergoyang lagi, tumitnya mendorong pantatku.

Blesss..masuk lagi. Makin hangat, makin sedap, dan geli.

Goyang lagi, aku dorong sekarang. Masuk semuanya

Seedaaaaaaaaap!

Tante bergoyang.

Nikmaaaaaaaat!

Tante menjepit.

Geliiiiiiiiiiiiiiii!

Kutarik pelan. Terasa gesekan, enak. Ya, digesek begini enak. Tarik sedikit lagi, dan kudorong lagi.

Idiiiiiiiiiiih, sedaaaaapp Too Tante berteriak, agak keras.

Geli di ujung sana. Tariik, dorooong

Makin geli..

Geli sekali

Tak tahaaaaaann

Tahan dulu, To

Tak mungkin, sudah geli sekali.lalu..

Aku melambung, melayang, melepas..

Aaaaaahhhhhhh teriakku. Nikmatnya sampai ke ubunubun.

Mengejang, melepas lagi, berdenyut, enak, melepas lagi, nikmat sekali..!

Genjot lagi, To teriaknya

Mana bisa.

Ayo, To

Aku sudah selesai!

Tante masih menggoyang

Aku ikut saja, pasif

Tooooo, ..

Tante gelisah, goyangnya tak kubalas. Aku sudah selesai!

Eeeeeeeeehh keluhnya, sepertinya kecewa.

Bergerakgerak tak karuan, menendang, menggeliat, gelisah..

Penisku mulai menurun, di dalam sana.

Tante berangsur diam, lalu sama sekali diam, kecewa.

Tinggal aku yang bingung.

Beberapa menit yang lalu aku mengalami peristiwa yang luar biasa, yang baru kali ini aku melakukan. Baru kali ini pula aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kenikmatan berhubungan kelamin.

Nikmatnya susah digambarkan.

Hubungan kelamin antara pria yang mulai menginjak dewasa dengan wanita dewasa muda.

Samasama diinginkan oleh keduanya.

Keduanya yang memulai.

Berdua pula yang melanjutkan, keterusan dankepuasan.

Kepuasan ? Aku memang puas sekali, tapi Tante ?

Itulah masalahnya sekarang.

Aku menangkap wajah kecewa pada Tante.

Perilakunya yang gelisah juga menandakan itu.

Aku jadi merasa bersalah. Aku egois.

Aku mendapatkan kenikmatan luar biasa sementara aku tak mampu memberi kepuasan kepada lawan mainku, Tante Yani.

Terlihat tadi, ia ingin terus sementara aku sudah selesai.

Aku bingung bagaimana mengatasi kebisuan ini.

Aku masih menindih tubuhnya. Penisku masih di dalam.

Buah dadanya masih terasa kencang mengganjal dadaku.

Pandangannya lurus ke atas melihat plafon.

Aku harus ambil inisiatif.

Kucium pipinya mesra, penuh perasaan.

Maafkan saya, Tante

Tante menoleh, tersenyum dan balas mencium pipiku.

Sementara aku agak lega, Tante tak marah.

Kamu engga perlu minta maaf, To

Harus Tante, saya tadi nikmat sekali, sebaliknya Tante belum merasakan. Saya engga mampu, Tante. Saya belum pengalaman Tante. Baru kali ini saya melakukan itu

Betul ? Baru pertama kamu melakukan ?

Sungguh Tante

Engga apaapa, To. Tante bisa mengerti. Kamu bukannya tidak mampu. Hanya karena belum biasa saja. Syukurlah kalau kamu tadi bisa menikmati

Nikmaaat sekali, Tante

Tante diam lagi, mengeluselus punggungku. Nyaman sekali aku seperti ini.

To panggilnya.

Ya, Tante

Ini rahasia kita berdua saja ya ? Tante minta kamu jangan katakan hal ini pada siapapun

Tentu Tante, tadinya sayapun mau bilang begitu Tibatiba aku ingat sesuatu. Mendadak aku jadi cemas.

Tante

Hhmm

Gimana kalau Tante nanti .. Aku tak berani meneruskan.

Nanti apa ?

Akibat perbuatan tadi, lalu Tante ..

Hamil ? potongnya.

Ya

Engga usah kamu pikirkan. Tante sudah jagajaga

Saya engga mengerti Tante

To, lain kali saja ya Tante jelasin. Sekarang Tante harus mandi, Oommu kan sebentar lagi datang

Ah, celaka. Sampai lupa waktu. Aku bangkit hendak mencabut.

Pelanpelan To katanya sambil menyeringai, lalu matanya terpejam

Eeeeeehhh desahnya hampir tak terdengar, ketika aku mencabut kelaminku.

Kubantu ia mengenakan kutangnya. Buah dada itu belum sempat aku nikmati. Lain kali pasti!

Tante aku memanggil ketika ia sudah rapi kembali.

Kupeluk ia erat sekali, kubisikkan di dekat kupingnya

Terima kasih, Tante lalu kucium pipinya.

Ya jawabnya singkat.

Sana mandi, cuci yang bersih niih katanya lagi sambil menggenggam penisku waktu bilang niih

Ooohhh, nikmatnya hari ini aku.

Malam ini pertama kali aku ciuman dengan nikmat, pacaran sampai keterusan. Pertama kali penisku memasuki kelamin wanita. Pertama kali aku menumpahkan air ku ke dalam tubuh wanita, tidak ke perut atau ke lantai.

Lebih istimewa lagi, wanita itu adalah Tante Yani.

Wanita dengan tubuh yang luar biasa.

Bentuknya, potongannya, halusnya, padatnya, putihnya, bulunya..

Padahal wanita itu sudah 26 tahun, sepuluh tahun di atas usiaku. Tapi lebih padat dari Si Ani yang 17 tahun, lebih manis dari Si Yuli yang sepantaranku, lebih indah dari Si Rika yang seumurku.

Yang masih mengganjal, wanita itu Tanteku, isteri Oom Ton. Ya, aku meniduri isteri Oomku! Aku mendapatkan pengalaman baru dari isterinya! Aku memperoleh kenikmatan dari meniduri isterinya. Isteri orang yang membiayai sekolahku, yang memberiku makan dan tempat tinggal!

Betapa jahatnya aku. Betapa kurangajarnya aku.

Aku sekarang jadi pengkhianat!

Mengkhianati adik misan ayahku!

Tapi, keliru kalau semua kesalahan ditimpakan kepadaku.

Siapa yang menyuruh memijat ?

Okey, seharusnya memijat saja, kenapa pakai mengelus ?

Pakai meremas pantat ? Habis, siapa yang tahan ? Aku masih 16 tahun, masih sangat muda, tapi sudah matang secara seksual, mudah terrangsang.

Tante sendiri, kenapa tidak menolak ? Bisa saja ia menempelengku ketika aku mau mencium bibirnya di karpet itu. Bisa saja ia menolak waktu aku membopongnya ke kamarku. Dan aku, bisa saja memberontak waktu ia merogoh celana dalamku, waktu ia menggenggam kelaminku dan diarahkan ke kelaminnya.

Kesimpulannya : salah kami berdua!

Tapi, aku ingin mengulangi .!

***

Paginya, kami sarapan bertiga, Aku, Oom, dan Tante. Aku jadi tidak berani menatap mata Oom waktu kami berbicara. Mungkin karena ada perasaan bersalah. Sedangkan Tante, biasabiasa saja. Sikapnya kepadaku wajar, seolah tak terjadi apaapa. Tak ada pembicaraan penting waktu makan.

Tante bangkit menuangkan minuman buat Oom. Kupandangi tubuhnya. Aku jadi ingat peristiwa semalam. Rasanya aku tak percaya, tubuh yang ada di depanku ini, yang sekarang tertutup rapat, sudah pernah aku tiduri. Aku ngaceng lagi..

Susah sekali aku berkonsentrasi menerima pelajaran hari ini. Pikiranku ke rumah terus, ke Tante. Bagaimana ia menuntunku masuk. Bagaimana aku mulai belajar menggesek, terus keenakkan. Aku ingin lagi!

Tante bagaimana ya, apakah ia ingin lagi ? Aku meragukannya, mengingat semalam ia tidak puas. Janganjangan ia kapok. Tadi pagi sikapnya biasa saja. Mestinya sedikit lebih mesra kepadaku. Memangnya kamu ini siapa.

Lebih baik begitu, wajar saja, kan ada suaminya.

***

Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, kulihat ada mobil Oom di garasi. Apakah Oom Ton tak ke kantor hari ini ? Atau janganjangan Oom tahu kalau aku ..

Ah, jangan berpikir begitu. Dua hari terakhir ini sikap Oom kepadaku tak ada perubahan apaapa. Sikap Tante juga wajarwajar saja. Justru aku yang kelimpungan. Bayangkan. Setiap hari ketemu Tante. Aku selalu membayangkan dalamnya, walau pakaian Tante tertutup rapat. Lalu, terbayang, aku sudah pernah menjamah tubuh itu, dan terangsang lagi.

Selama dua hari ini aku betulbetul tersiksa. Terlihat paha Tante yang sedikit tersingkap saja, aku langsung naik. Ooh..! Aku ingin lagiiiiii.

Siang ini aku makan sendirian. Kamar Tante tertutup rapat. Oom pasti ada di dalam, mobilnya ada. Tante juga tentunya. Mungkin mereka sedang ? Siangsiang ? Biar saja, toh suamiisteri. Sekejap ada rasa tak nyaman. Tanteku sedang ditiduri suaminya! Aku iri! Memangnya kamu siapa ?

Baru saja aku selesai menyantap sendok terakhir makananku, kemudian mengangkat gelas, ketika tibatiba pintu kamar terbuka, Tante keluar, mengenakan baju tidur. Aku terpana. Tanganku yang sedang memegang gelas berhenti, belum sempat minum, terpesona oleh Tante dengan baju tidurnya. Kelihatan ia baru bangun tidur, melihatku.

Sudah pulang, To

Udah dari tadi Tante

Ia tutup pintu kamarnya kembali lalu mendekatiku, dan tibatiba mencium pipiku erat, lenganku merasakan lembutnya sesuatu yang menandakan Tante tak memakai kutang.

Hampir saja aku menumpahkan air minum karena kaget.

Ada kabar gembira.katanya berbisik. Sebelum aku berreaksi atas aksinya itu, Tante sudah beranjak ke belakang meninggalkanku.

Aku jadi penasaran. Penasaran pada benda lembut yang mendesak lenganku tadi, serta pada kabar gembira apa ?

Ketika Ia kembali lagi, aku berdiri untuk memuaskan rasa penasaran tadi.

Tante menempelkan telunjuknya ke mulut sambil matanya melirik ke kamar. Aku mengerti isyarat ini. Jangan ganggu, ada suaminya.

Sejam kemudian kulihat Oom Ton duduk di sofa ruang tengah bersama Tante. Oom Ton berpakaian rapi berdasi, seperti hendak ke kantor, sedangkan Tante mengenakan daster pendek tak berlengan berkancing tengah, daster kesukaanku. Terlihat segar, baru saja mandi, mungkin.

Tarto Oom Ton memanggilku.

Ya, Oom

Oom mau ke Bandung, dua hari. Kamu jaga rumah ya ?

Ini rupanya kabar gembira itu!

Baik, Oom, kapan Oom berangkat ?

Sebentar lagi, jam tiga

Dua hari Oom tak ada di rumah, tentunya dua malam juga. Dua malam aku menjaga rumah, bersama Tante.

Dua malam bersama Tante ? Bukan main!. Eit, jangan berharap dulu, ya. Kan tadi Ia bilang kabar gembira ?

Kok kamu yakin kabar gembiranya Tante adalah karena Oom ke Bandung ? Jangan sok pasti ya!

Aku melirik Tante, Ia biasabiasa saja.

Pak Dadan datang membawa tas di bahunya, masuk garasi menghidupkan mesin mobil.

Papa berangkat ya, Ma

Ya, Pa, hatihati di jalan, ya ?

Mama juga hatihati di rumah

Oom mencium pipi Tante, lalu menciumi Si Luki.

Jaga baikbaik, ya To

Ya, Oom

Seisi rumah mengantar Oom sampai depan pintu pagar, melambai sampai mobilnya berbelok ke jalan Tebet Timur Raya.

Semuanya masuk ke rumah kembali. Hatiku bersorak. Dadaku penuh berharap dan kepalaku penuh rencana.

Luki dibawa pengasuhnya ke rumah sebelah. Mbak meneruskan pekerjaannya di belakang. Aman. Tinggal aku dan Tante. Kuberanikan diriku. Kupeluk Tante dari belakang. Betul kan, Tante tak memakai kutang. Wah, sudah lama sekali aku tak menyentuhnya.

Tante sedikit kaget, lalu berbalik membalas pelukanku. Cuma sebentar, melepaskan diri.

Sabar, dong To

Tante Serak suaraku.

Nanti malam saja

Aha, rencana di kepalaku bisa terlaksana malam ini.

Kami duduk berdampingan di sofa, sedikit berjarak. Aku nonton TV, Tante membaca.

Aku tak tahan lagi, penisku sudah tegang dari tadi. Sekarang baru jam setengah empat sore. Berapa jam lagi aku mesti menunggu ? Oh, lama sekali.

Tante, tolonglah aku. Aku tak sanggup lagi menunggu.

Kulihat sekeliling meyakinkan situasi. Luki masih sama si Tinah di tetangga. Mbak Mar menyetrika di belakang. Aman!

Kupegang tangan Tante yang sedang ada di pahanya. Dengan begini aku bisa meremasremas tangannya sambil merasakan lembutnya paha. Ia sesekali membalas remasanku, tetap membaca.

Ditariknya tangannya untuk membuka halaman buku bacaannya, tanganku tertinggal di pahanya. Kesempatan.

Kuusap lembut pahanya. Paha itu masih seperti yang kemarin, padat, kenyal, halus, berbulu lembut. Masih tetap membaca.

Aku makin berani, tanganku bergerak ke atas menyusup dasternya. Kuusap celana dalamnya. Nafasnya mulai terdengar meningkat volumenya.

Diletakkannya buku itu sambil menghela nafas panjang.

To., kamu engga sabaran, ya ? katanya sambil memegang tanganku di bawah sana.

Maafkan saya Tante, saya.. saya ..engga kuat lagi Tante, saya ingin lagi, Tante Kataku terputusputus menahan birahi yang mendesak. Kelaminku juga mendesak.

Masih sore, To

Tolonglah., Tante, saya membayangkan terus setiap ..hari kataku setengah memohon. Aku yakin Tantepun sebenarnya telah terangsang, terlihat dari nafasnya dan aku merasakan basah di celananya. Aku sudah sampai pada titik yang tak mungkin surut kembali. Situasi sekeliling aman. Jadi, apa lagi selain berlanjut ?

Saya mohon, Tante kini aku betulbetul memohon.

Ditariknya tanganku dari paha, lalu dituntun ke dadanya. Permohonanku diterima.

Kuremas buah dada itu yang hanya ditutupi selembar kain daster.

Eeeeeeehhh desahnya.

Tiga hari lalu, waktu aku pertama kali meniduri Tante (memang baru pertama kali aku berhubungan sex), aku belum sempat menikmati buah dada ini. Waktu itu kami sudah samasama terangsang sehabis aku memijatnya. Aku baru sempat meremasnya, itupun dibalik kutang. Lalu ketika kutangnya sudah terbuka, Tante sudah keburu menuntun kelaminku memasukinya.

Sekaranglah kesempatan untuk menikmati dada itu.

Kubuka kancing dasternya, satu, dua, tiga.

Dada itu mengagumkan.

Putih, besar, menonjol, bulat, bergerak maju mundur seirama nafasnya, putingnya kecil agak panjang tegak lurus ke depan berwarna merah jambu.

Aku berlutut di depannya, kusingkirkan daster itu, kucium belahan dadanya yang seperti parit kecil di antara dua bukit.

Halusnya buah itu dapat kurasakan di kedua belah pipiku.

Mulutku bergerak ke kiri, ke dada bagian atas, terus turun, kutelusuri permukaan bukit halus itu dengan bibir dan lidahku. Sementara tangan kananku mengusapi buah kirinya. Luar biasa, kulit itu haluuus sekali! Tangannya mengusapusap belakang kepalaku. Penelusuranku berakhir di puncaknya. Kumasukkan putting itu kemulutku, kukemot.

Aaaaaaaahhh lenguhnya pelan sekali.

Tangannya menekan kepalaku.

Kukemot lagi, kuhisap, kupermainkan dengan lidahku, putting itu mengeras. Puting satunya lagi juga mengeras, terasa di antara telunjuk dan ibujari tangan kananku.

Ada kesamaan gerak antara mulut dan tangan kananku. Kalau mulutku mengulum puting, jarijariku memilin puting sebelahnya. Bila bibir dan lidahku merambahi seluruh permukaan buah yang sangat halus itu, telapak tanganku merambah pula. Seluruh permukaan dada itu demikian halus, sehingga ada sedikit yang tak halus di sebelah puting agak ke bawah menarik perhatianku.

Kulepaskan muluku dari dadanya, ingin memeriksa. Di sebelah puting dada kiri Tante ada bercak merah. Kuperhatikan dan kuraba. Seperti bekas gigitan. Oh. Aku ingat tadi siang waktu makan. Ini pasti hasil kerja Oom Ton di kamar yang terkunci tadi..

Akupun ingin. Betapa enaknya menggigit buah kenyal ini.

Dada kanan bagianku. Kucium puting itu kembali, geser sedikit, aku mulai menggigit.

Tibatiba Tante mendorong kepalaku.

Jangan, To. Kamu..mikir, dong katanya sambil terengahengah.

Ah, bodohnya aku. Kalau kugigit tentu nanti berbekas, jelas pemilik sahnya, Oom Ton, akan curiga!

Maafkan saya Tante, habis gemas sih.

Yahhh.engga apaapa. Kamu harus ingat, ini rahasia kita saja

Dipegangnya dadanya sendiri lalu disodorkannya ke mulutku. Gantian, sekarang dada kiri dengan mulutku, yang kanan dengan tangan kiriku.

Sudah saatnya untuk pindah ke kamar.

Aku bangkit berdiri. Tante masih tergolek duduk. Kancing tengah dasternya sudah semuanya terlepas, menyibak kesamping, tinggal celana dalamnya saja. Dada itu rasanya makin besar saja.

Kutarik kedua tangan Tante, tapi ia melepaskannya. Dibukanya gesperku, lalu kancing celanaku, dan ditariknya resleting dan celana dalamku. Penisku yang tegang itu keluar dengan gagahnya persis di depan mukanya.

Uuuuuuuuuhhhh Tante melenguh pelan memegang kelaminku, dielusnya.

Kok besar sekali sih To, punyamu ini

Kuraih badannya, kubimbing ia ke kamarku sambil masih memegang senjataku, tertatihtatih kami berdua.

Kukunci pintu kamarku, kurebahkan Tante perlahan di dipanku, kulucuti pakaianku, dengan bertelanjang bulat kudekati Tante.

Dengan perlahan kupelorotkan celana merah jambu itu. Kembali aku bertemu dengan rambut halus hitam mengkilat itu. Ada cairan bening di sana. Kutindih tubuhnya lalu kakinya menjepit tubuhku. Kamipun berciuman, saling menggigit lidah. Lalu akupun tak tahan lagi.

Aku bangkit. Kubuka kakinya lebar. Lubang sempit itu terbuka sedikit, merah. Sekarang aku tak perlu dituntun lagi. Aku sudah tahu. Kutempelkan kepala penisku ke lubang sempit itu, lalu kudorong hatihati.

Aaaaaaaaaaahhhhh, To, sedaaaaaap

Kepalanya sudah masuk. Nikmaaaaaaaaaat!

Aku heran, lubang sesempit itu bisa menelan kepala penis besarku. Kenapa kupikirkan ? Yang penting enak.

Sambil memegangi kedua belah dadanya, aku mendorong lagi. Enakenak geli atau geligeli enak. Entah mana yang benar. Kudorong lagi, Aaah lagi, enak lagi, geli lagi.

Lagi kudorong, sampai habis, sampai mentok.

Idiiiiiiiiiiiiih, Toooo, enak sekali

Nyaman, sudah didalam seluruhnya.

Pinggul Tante mulai berputar. Aku tahu tugasku, menarik dan mendorong. Mulut Tante mengeluarkan bunyibunyian setiap aku mendorong. Melenguh, mendesah, kadang menjerit kecil, atau katakata yang tak bermakna.

Kejadian tiga hari lalu berulang. Baru beberapa kali tusuk aku sudah merasakan geli luar biasa. Nampaknya aku tak mampu menahan lagi. Ah, kenapa begini ? Aku tak bisa tahan lama. Aku cemas janganjangan Tante nanti kecewa lagi. Tapi bagaimana lagi, aku sudah hampir tiba di puncak.

Aku coba berhenti bergerak sambil menahan agar jangan sampai keluar dulu, persis kalau aku menahan kencing. Tapi begitu aku diam, pantat Tante langsung berputar. Seluruh bagian tubuh yang di dalam sana memerasmeras kelaminku. Oh, aku tak akan berhasil menahan diri. Langsung saja aku bergerak lagi, makin cepat malah. Ocehan Tantepun makin ngawur.

Aku jadi cepat, makin cepat dan semakin cepat, lalu . badanku bergetar hebat, mengejang, berulang, memuntahkan, mengejang lagi, muntah lagi

Tante berhenti berputar, lalu menjepit kakiku, menerima pelepasanku.

Rasanya aku mengeluarkan banyak sekali

Lalu akupun ambruk di atas tubuh Tante.

Aku selesai. Selesai menggetar, selesai mengejang, selesai melepas, selesai semuanya. Tanteku selesai terpaksa. Aku yakin ia kecewa lagi.

Tante, gimana Tante, saya engga bisa menahan lagi

Hmmm, To

Maafkan lagi saya, Tante. Saya gagal

Sudahlah, To

Saya hanya memuaskan diri sendiri

Tante bilang sudahlah, kamu lumayan tadi

Lumayan gimana Tante ?

Ada kemajuan dibanding yang lalu. Tante merasa enak, tadi

Tante bohong! Tante cuma menghibur saya

Benar, To. Memang Tante merasa belum tuntas, tapi kocokanmu tadi bisa Tante nikmati. Aku agak tenteram.

Ini karena kamu belum biasa, To. Tante yakin, lamalama kamu akan mampu. Barangmu kerasnya luar biasa

Gimana caranya supaya saya bisa lama, Tante ?

Nanti kamu akan tahu sendiri

Ajarin saya ya, Tante

Tante tak menjawab. Akupun berdiam diri. Lama kami berdua membisu.

Tante melihat jam, pukul empat sore, lalu bangkit mencaricari pakaiannya yang berserakan.

Tante mandi dulu, ya ?

Aku membantunya berpakaian.

Merapikan karet celana dalamnya, mengkaitkan kutangnya, mengancingkan dasternya. Ada sesuatu yang lain kurasakan. Aku merasa demikian mesra membantunya berpakaian. Aku serasa membantu isteriku!

Ya, barusan aku merasa meniduri isteriku.

Kupeluk Tante erat sekali, agak lama. Lalu kucium pipinya dalamdalam.

Tante

Apa, To ?

Tarto sayang Tante kataku tibatiba.

Dipandangnya mataku luruslurus.

Apa maksudmu To

Engga tahu Tante, pokoknya saya sayang sama Tante. Tante jangan kapok, ya ? Tarto ingin kita terus begini

Oh, itu maksudmu. Asal kamu bisa jaga rahasia

Bisa, Tante

Juga harus hatihati

Iya,Tante

Tanpa kusadari, penisku bangun lagi.

Sudah, mandi sana Tante ke luar kamarku

***

Malam itu aku nonton TV sendirian. Tante ada di kamarnya, tertutup. Aku kesepian. Aku mengharapkan Tante akan ke luar dari kamar menemaniku di sini. Kemudian aku mendekatinya, lalu ciuman, rabaraba, dan diakhiri dengan hubungan suamiisteri.

Heran aku, baru tadi sore aku dipuaskan oleh Tante di kamarku, malam ini aku ingin lagi! Aku ingin kenikmatan itu lagi. Aku tetap menunggu.

Jam 9 malam. Tante belum juga muncul.

Pukul 9.30, tidak juga.

Kemarilah Tante, aku merindukanmu.

Malam ini adalah malam pertama Oom tak ada di rumah. Ayolah Tante, ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan.

Atau kuketuk saja pintunya, lalu aku masuk ?

Ah jangan. Itu kurang ajar, namanya.

Tubuh indah itu sendirian di kamar.

Buah dada putih itu tak ada yang mengelusnya.

Kelamin berambut halus itu tak ada yang memasukinya malam ini.

Kenapa engkau tidak ke luar ?

Barangkali Tante memang tidak membutuhkannya. Paling tidak malam ini.

Ya, kalau ia butuh tentunya akan mendekatiku.

Jam 10, belum ada tandatanda.

Aku putuskan, malam ini memang Tante tak mau diganggu. Biar sajalah. Toh besok siang, sore, atau malam masih ada kesempatan. Oom Ton menginap di Bandung dua malam. Yah, besok sajalah.

Tapi aku ingin malam ini!

Aku ingin malam ini kelaminku masuk dan kemudian mengeluarkan cairan dengan nikmat!

Kemudian aku mengeluarkan penisku yang sudah tegang itu. Kata Tante punyaku ini besar. Entah benarbenar besar, aku tak tahu. Sebab aku belum pernah lihat punya orang lain.

Karena tidak ada Oom Ton, aku jadi makin berani menggoda Tanteku. Seperti waktu sarapan tadi. Aku mengeluselus bahu dan lengan atasnya yang terbuka di meja makan. Bahkan mencium pipinya.

Hatihati, To

Ya, Tante, Kan saya lihatlihat keadaan dulu

Mar ada di belakang katanya.

Tante

Ehm ?

Tarto sayang Tante

Aku udah ada yang punya, To katanya sambil mencubit pahaku. Aku senang.

Ya. Pokoknya saya sayang Janganjangan aku jatuh cinta benarbenar sama Tanteku ini.

Semalam Tante ke mana. Saya tunggutunggu

Ya. Tante tahu, kamu nonton TV. Kamu masuk kamar jam 10 kan ? Masa mau terusterusan. Aku lega, Tante tak tahu perbuatanku semalam yang menyelinap ke kamar Mbak Mar.

Iya dong. Mumpung ada kesempatan. Sekarang juga saya mau kataku nakal.

Gila, kamu To. Awas jangan sampai mengganggu sekolahmu!

Habis Tante betulbetul menggemaskan Aku ngaceng lagi!

Udah ah, berangkat sana, nanti telat

Tapi nanti lagi ya Tante, janji dulu

Lihat dulu nanti

Bagaimana tidak mengganggu sekolah, seharian aku ingat Tante terus. Membayangkan apa yang akan kuperbuat nanti bersama Tante.

Bercinta Dengan Wiwin Dan Anisa

Wiwin saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18 tahun. Keduanya memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan yang berukuran sedang nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Anisya memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang imutimut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai dalam bergaul dan ringan tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari para pria yang mendekati mereka.

Wiwin saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya, sedang Anisya yang baru menamatkan tahun pertamanya di kampus tersebut lebih memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhurahura.

Sesampainya di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan Anisya mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost mereka. Setelah membuka kamar, Wiwin begitu terkejut ketika dilihatnya kamar mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa segalanya, tibatiba kepala Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.

Wiwin tidak tahu apaapa sampai tubuhnya digoncanggoncang seseorang hingga tersadar dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara. Belum lagi lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu orang lagi juga berbadan agak gemuk, berambut acakacakan juga hanya mengenakan celana jeans.

Wajah mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wiwin kembali terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi bernama Thomas atau sering dipangil Liem. Mereka berdua adalah teman dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.

Memang beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh Henry kepada Asan dan Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan dan Liem ingin dikenalkan dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka berdua tertarik dengan kecantikan Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta mereka bertepuk sebelah tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk bertemu dengan Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir ranjang mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana dalamnya saja yang berwarna putih.

Anisya sambil menangis memohonmohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya jauh lebih besar itu tidak menghiraukannya, dia mulai meremasremas payudara Anisya yang baru sekepalan tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher Anisya. Pria itu lalu berkata, Diam, jangan macammacam atau kupatahkan lehermu, nurut saja kalau mau selamat..!
Setelah itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan bibirnya, Hmp.., cup.., cup.., begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.
Air liur pun sampai menetesnetes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam rongga mulut Anisya.

Sementara itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada Wiwin, Hei, elo sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baikbaik kalo sampe elo nanti engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..! sambil mengeluselus kepala Wiwin. Wiwin mau berontak tapi tidak dapat berbuat apaapa, Wiwin pun mulai pucat.

Lalu Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan berkata, Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenangsenang!
Dia menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya. Sambil menangis Wiwin memohon belas kasih, J.. ja.. angan tolong jangan perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!Belum selesai berkata, tibatiba, Pllaakkk..! si Asan menampar pipinya dan menjambak rambutnya.

Dengan paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, Masukkan ke dalam mulut elo, hisap atau gue bunuh elo..! Terpaksa dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya membuka celana Asan dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan tampaklah kemaluan Asan yang telah membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Asan segera memasukkan kemaluannya itu ke mulut Anisya yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memajumundurkan kepala Anisya. Hhmppp.., emphh.. mpphh..! begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan kemaluan Asan.

Liem juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya, menyuruh Anisya mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali kemaluan Asan dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Liem.
Emmhh.. benarbenar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..! kata Asan. Iya, kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..! timpal Liem.

Beberapa lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya mengejang, dan, A.. akh..! Asan akhirnya berejakulasi di mulut Anisya. Cairan putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Asan di kepalanya.

Setelah itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benarbenar telanjang bulat sekarang, tampaklah payudara dan bulubulu kemaluannya yang masih halus dan jarang. Waw cantik sekali anjing ini. ujar Liem sambil memandangi tubuh bagian dada dan bawah Anisya yang sedang terisakisak ketakutan.

Kali ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya berjongkok di depannya sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Anisya terpaksa menuruti kemauan Liem itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati ujung batang kemaluannya, sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si Asan mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang vaginanya sambil sesekali menusuknusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.

Seketika itu Anisya kaget dan, Ehhgh.., iihh iih.. eggmhh..! Anisya pun merintihrintih jadinya, badannya menggeliatgeliat akibat tusukan jarijari serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya. Ayo anjing.., kocok terus barang gue..! bentak Liem sambil menampar kepala Anisya. Kembali Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus meliakliuk karena kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Asan. Dari bibirnya pun terus terdengar suaranya merintihtintih.

Sekitar 10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu, sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem jadi gusar, dia lalu menjambak rambut Anisya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang. Pelacur anjing..! Kurang ajar, beraniberaninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..! bentaknya.

Asan pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikutikutan menampar Anisya.
Goblok..! Gue lagi asyik nikmatin mem*k elo. Elo jangan macemmacem ya..! bentak Asan. Anisya hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu. Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Wiwin merontaronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat membuat kursi itu bergoyanggoyang. Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata, Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang elo nggak bisa ngapangapain, jadi jangan macemmacem ya, ha.. ha.. ha..! Abis ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!

Mereka kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan merentangkan tubuh Anisya di tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan batang kejantanannya ke liang kemaluan Anisya. J.. jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..! pinta Anisya sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan dengan memegangi kedua tangan Anisya. Batang kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya terlihat dia menahan sakit yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.

Setelah hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Anisya, Asan mulai memajumundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat. Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian dari selasela kemaluan Anisya mengucur darah segar bercampur dengan cairan bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha Anisya.Aakkh.. aahh.. aaa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh.., begitulah erangan dan teriakan Anisya merasakan sakitnya.

Rupanya teriakan dan erangan Anisya menambah nafsu dan semangat Asan untuk terus memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Anisya pun terbantingbanting dan terguncangguncang keras. Anisya hanya pasrah mengikuti irama Asan dan kedua tangan Anisya pun kini sudah dilepas oleh Liem.

Selama beberapa menit disetubuhi oleh Asan, tibatiba badan Anisya menegang sampai secara refleks dia memeluk kepala Asan yang sedang asyik menggenjotnya. Dia rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Asan pun menyudahi gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina Anisya. He he he Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak engga, jawaabb..! bentak si Asan sambil menarik rambut Anisya.

Karena takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Anisya menjawab, E.. e.. enak, enak sekali..! Jawab lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..! kata Liem. I.. iya, s.. saya suka sekali bercinta. jawabnya dengan suara terbatabata. Tuh, kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..! ejek mereka pada Wiwin yang hanya dapat merontaronta sambil menangis di kursinya. Hatinya benarbenar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apaapa.

Kemudian si Asan mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Anisya gaya posisi anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke pantatnya Anisya hingga terbenam seluruhnya. Karena rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Anisya berteriak memilukan, Aaakkhh..! Lalu dia menariknya lagi, dan dengan tibatiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda panjang itu di pantat Anisya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan sampai matanya membelalak.

Ooughh..! Anisya mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan, Aahh ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!
Kini Asan meyodomi Anisya dengan irama yang keras dan cepat hingga Anisya menggelepargelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot oleh Asan.

Tidak beberapa lama Asan akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Anisya dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Anisya, sementara Anisya tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah, Aahh..! Namun Asan belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Anisya dan kembali Asan meniduri Anisya dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke lubang vagina Anisya yang telah lemas itu, dan kembali Asan menggenjot tubuh lunglai itu.

Tidak lama Asan pun berejakulasi di rahim Anisya. Lolongan kepuasan keluar dari mulut Asan disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber keluar dari selasela kemaluan Anisya. Anisya pun merintih lirih, dan akhirnya bersamaan dengan itu Anisya pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit yang tidak terhingga.

Dengan perasaan puas Asan pun merebahkan badannya di samping Anisya yang tergeletak tidak bergerak. Akhirnya gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..! ujarnya sambil mengehela napas dan melirik Anisya.

Sesudah itu kini Liem yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wiwin yang masih terikat lemas di kursinya. Hei, teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal, sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak, Mati elo..!
PLAAK..! sebuah tamparan keras menghantam kepala Wiwin hingga Wiwin yang masih diikat di kursi itu terjatuh bersama kursinya. Hmmph..! dengan mulut tersumbat Wiwin berteriak.

Kemudian dia menarik dan meletakkan tubuh Wiwin mengembalikan ke posisi semula. Dengan pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobekrobek baju kaos lengan panjang yang dikenakan oleh Wiwin. Nafas Wiwin tersentak ketika dengan cepat Liem dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya. Sekarang Wiwin hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat duduknya.

Hmph.., hmph..! Wiwin meronta sambil memandang Liem dengan putus asa, matanya memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi. Karena dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat. Diem brengsek..! kata Liem, PLAK..! sekali lagi tamparan kuat mendarat di pipi Wiwin, membuat kepala Wiwin tersentak.

Kemudian ia membuka ikatan Wiwin dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wiwin serta melebarkan kedua kaki Wiwin hingga posisi Wiwin kini seperti orang merangkak. Wiwin hanya dapat pasrah mengikuti kemauan Liem. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Wiwin dan Anisya untuk berdandan sebelum pergi kuliah.

Leim lalu merobek celana dalam Wiwin dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Wiwin dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya Liem sedang mengagumi dirinya.
Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo benerbener oke!Liem menampar pantat sekal Wiwin yang sebelah kiri yang membuat Wiwin menjerit kaget.

Lalu tanpa menunggu lagi, Liem yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Liem hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala Wiwin dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wiwin, mungkin ini dapat membuat nafsu Liem semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi, wajah Wiwin jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan temantemannya.

Kemudian Liem menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wiwin lewat belakang. Ooh.., ampun Pak Liem. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..! Wiwin mulai menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
Sambil menoleh ke belakang dan memandang Liem, Wiwin mencoba untuk meminta belas kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Liem terus mengancam dengan pisau dapur yang masih digenggamnya.

Liem tidak perduli Wiwin memohonmohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Wiwin, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya. Setelah tangan si Liem memegang pinggul Wiwin, dengan satu gerakan keras penisnya bergerak maju. Arrgghh.., ahh.., Ampun..! Wiwin menjeritjerit ketika penis Liem mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya. Kaki Wiwin mengejang menahan sakit ketika penis Liem terus menembus masuk tanpa ampun menusuknusuk selaput daranya.

Bibir tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihanrintihan, Oohhh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!
Badannya pun tersodoksodok. Liem terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wiwin. Ketika kepala Wiwin terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wiwin sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wiwin kembali dapat melihat dirinya disetubuhi oleh Liem melalui cermin di depannya.

Kadangkadang Liem menampar pantat Wiwin berulang kali, juga dilihatnya payudara Wiwin yang tersentaksentak setiap kali Liem menyodok penisnya ke dalam vagina Wiwin dan dia hanya dapat pasrah mengerangngerang dan merintih. Tibatiba Liem mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wiwin langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.

Tapi tibatiba Asan yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Wiwin sampai ke pintu depan. Ahh, tolong! Tolompphh.., teriakan Wiwin dibungkam oleh tangan Asan, sementara itu Liem mendekat dan memukul Wiwin dengan keras. Wiwin pun jatuh terjelembab ke lantai.
Dasar Bandel ya..! ujar Liem.

Kemudian Liem mengikat tangan Wiwin menjadi satu ke depan. Setelah itu, Wiwin didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Liem memasukkan penisnya ke mulut Wiwin. Mmpphh..! Wiwin mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya. Sementara itu Liem dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Wiwin. Kedua tangan Liem memegang kepala Wiwin dengan kencangnya menggerakgerakkan maju dan mundur. Mata Wiwin tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan seperti ini.

Setelah beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wiwin, terlihat tandatanda Liem akan mencapai klimaksnya, gerakan memajumundurkan kepala Wiwin semakin cepat. Dan, Akkh Croot.., croot..! Liem berejakulasi di mulut Wiwin, sperma yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wiwin. Wiwin hanya dapat mendengusdengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang dimuntahkan Liem tadi, sementara pegangan tangan Liem di kepala Wiwin semakin kencang, sehingga sulit bagi Wiwin untuk menarik kepalanya.

Setelah semprotan sperma yang terakhir, barulah Liem mencabut kemaluan dari mulut Wiwin yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga ke bibirnya. Dengan napas puas Liem mencapakkan kepala Wiwin hingga telentang di kasur. Siap, siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal ini..! tibatiba terdengar suara Asan yang sudah berada di samping Wiwin. Wiwin memandang Asan dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Asan memperlakukan Anisya hingga pingsan.

Kemudian Asan menoleh ke Liem yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks tadi. Ja.. jangan, jangann.. Bang Asan.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..! ujar Wiwin memelas kepada Asan. He Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..! Asan menarik tubuh Wiwin hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggitinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnya.

Setelah itu dia membuka belahan pantat Wiwin lebarlebar. Ampun, jangan..! Sakit..! Ampun Bang Asan. Ampun..! Aakkhh..! Asan mulai mendorong masuk, sementara Wiwin mejeritjerit minta ampun. Wiwin merontaronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah Asan untuk terus mendorong masuk penisnya. Wiwin terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis Asan masuk ke anusnya. Ampun..! Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..! jerit Wiwin, ketika Asan mulai bergerak pelanpelan keluar masuk anusnya.

Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian! kata Asan sambil mengusapusap buah pantat Wiwin. Sementara itu darah segar terlihat mulai mengalir menetesnetes membasahi paha dan kasur.
Benerbener pantat kualitas nomer satu! omel Asan sambil terus memompa kemaluannya.

Tangisan Wiwin makin keras, Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak, ampun..!Sementara itu badannya mengejangngejang menggelepargelepar menahan rasa sakit yang teramat sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya. Gila, gue benerbener seneng sama pantat lo! ujar Asan sambil terus menyodomi Wiwin. Hingga akhirnya tubuh Asan mengejan keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman tangan di pinggang Wiwin pun semakin keras dan uraturatnya pun kini terlihat pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya.

Asan berejakulasi di lubang pantat Wiwin yang semakin kepayahan dan tubuhnya melemah. Asan pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Wiwin yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan.

Suara yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Wiwin, tangisan yang benarbenar menyayat hati, yang membuat Liem kembali bangkit nafsunya. Liem berjongkok membalikkan tubuh Wiwin yang tadinya telungkup menjadi telentang. Kemudian menarik kaki Wiwin, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya menyentuh buah dadanya.

Kini posisi Wiwin telah siap untuk disetubuhi, Liem meraih penisnya yang telah kembali tegang dan emeganginya, memandang ke arah Wiwin yang memalingkan wajahnya dari Liem, matanya terpejam eraterat wajahnya yang masih mengenakan topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Liem mengarahkan penisnya ke vagina Wiwin, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya, membantu membuka bibir vagina Wiwin. Wiwin mengerang dan merintih, tubuhnya kembali merontaronta, giginya menggeretak, Liem nampak menikmati jeritan Wiwin ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan cairan vaginanya.

Aahhgghh..! Liem mulai memperkosa Wiwin. Kaki Wiwin terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya. Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Liem mulai bergerak dengan keras di vagina Wiwin. Liem menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wiwin sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Liem semakin bersemangat mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wiwin.

Nafsu telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin cepat tubuh Wiwin pun lemas tergoncanggoncang dan tersodoksodok. Dan suatu ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wiwin oleh Liem, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wiwin. Kini pada setiap hentakan membuat rambut indah Wiwin tergeraigerai menambah erotisnya gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wiwin, bibir Liem kini dengan leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wiwin yang tidak tertutup topi dan menyedot salah satu sisi leher Wiwin.

Gerakan dan hentakanhentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras. Wiwin pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihanrintihan lemah dan teratur, Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..! sementara tubuhnya telah lemah dan semakin kepayahan. Akhirya badan Liem pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Liem berejakulasi di rahim Wiwin. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Liem nampak menikmati semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wiwin yang telah kepayahan dan lunglai itu.

Liem mengerang kenikmatan di atas badan Wiwin yang sudah lemah yang sementara rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak. Aauughh.. oh..! Wiwin pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan menyusul Anisya temannya yang terlebih dulu pingsan. Badan Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wiwin gadis mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu.

Senyum puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Wiwin yang tergelatak di bawahnya. Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan, akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Wiwin yang tergolek lemah.

Begitulah malam itu Asan dan Liem telah berhasil merenggut kegadisan dua orang gadis cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis cantik itu.

Pagi itu saat Asan dan Liem sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tibatiba Henry sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong teman Henry yang juga teman Asan dan Liem. Hei.., kalian disini rupanya. ujar Henry. Dan seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak. Wah eloelo abis pesta disini ya..? tanya Henry. Tanpa menjawab, Liem dan Asan dengan tersenyum hanya berlalu meninggalkan Henry dan Acong yang terbengongbengong.

Saat Liem dan Asan berjalan meninggalkan kamar kost, mereka sempat melirik ke belakang. Rupanya Henry dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Henry dan Acong yang berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu.

Memang ruparupanya Henry juga memendam cinta kepada gadisgadis itu dan kali ini dia dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadisgadis itu. Kembali tubuh Anisya dan Wiwin yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulanbulanan. Henry dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadisgadis itu sepuaspuasnya.

Kenikmatan Bersama Bapak Kandungku

Walaupun dia sibuk bekerja keras, dia pastikan ada wang belanja untukku and berikan wang belanja dapur yang patut. Ayah selalu pulang lewat hingga 2pagi dan kerana ini aku sering keseorangan pada siang hari di rumah. Aku sering melihat wajah arwah Ibuku dan Bapak dalam gambar sewaktu mereka baru sahaja berumahtangga. Kulit ibu bersih, putih melepak..mempunyai paras yang sangat cantik..seakan pelakon veteran Latifah Omar dan juga berbentuk badan yang gebu. Bapaku pula berbadan sasa, sama seperti kini, berambut ikal dan mempunyai rupa akan Jamal Abdillah. Kulitnya pula sawo matang.

Pasangan yang sangat ideal. Saat usiaku sudah cecah 15tahun, aku mula menjadi remaja nakal. Pulang sekolah sahaja aku dan berjumpa dengan teman lelaki di taman yang sunyi untuk bercumbu. Jika tidak, aku akan mengajak teman teman sekolah yang lain ke rumahku, kadang kadang membiarkan mereka yang berpasangan bersetubuh di bilikku.

Aku tidak tahu mengapa aku bersikap demikian.Barangkali sebab tidak ada orang yang boleh menegur perbuatan ku. Walaupun aku bersikap liar, aku masih belum bertemu seorang lelaki yang layak meragut daraku. Aku pernah cuba menghisap batang konek teman2 lelakiku yang lain tapi aku rasa seperti aku belum temui seorang teman lelaki yang mempunyai konek yang aku idamkan untuk aku rasai buat kali pertama. Pada satu hari, satu kejadian berlaku yang merubah segalanya.

Di saat itu aku sedang baru mula cuti sekolah dan seperti biasa teman temanku datang untuk berborak untuk melihat vcd lucah sementara 3 pasangan sedang hebat melakukan maksiat di bilikku. Aku memang selalu suka melihat teman2 bersenggama. Dalam pada masa itu aku akan belajar teknik mereka jadi bila tiba masa nanti aku akan sendiri mencubanya.Aku memakai baju terus jarang pada masa itu tanpa berpakai coli dan seluar dalam sebab cuaca panas tengahari. Tibatiba Bapak pulang mengetuk pintu. Aku terperanjat dan terus membuka pintu. Bapak mula meluru masuk ke rumah lalu ke dalam bilik. Di saat itu 3 pasangan temanku sedang masih di dalam lembah zina yang teramat masih sibuk melampiaskan cinta dan nafsu yang bergelora lalu tidak sedar yang Bapaku sudah di muka pintu bilik. Hoi!!! jerit Bapak.

Berambus korang dari rumah aku!!! . Dengan kilat teman2 aku semua melarikan diri, ada yang masih separuh bogel meluru keluar pintu rumahku. Aku terduduk ketepi pintu bilik dalam ketakutan. Bapak membeliakkan matanya sambil mula menutup tingkap dan pintu rumah. VCD lucah itu masih tersiar terpampang di kaca TV. Bapak mula mengherdikku Bapak hantar kau ke sekolah kat sini untuk apa hah!!!??, pekiknya.. Dah jadi perempuan apa engkau nie hah!! Tak tau terima syukur aku kutip kau balik!! Badan kau tu masih suci atau tidak!!!! jerit Bapak lagi.. Masih pak jawabku perlahan dengan perasaan serba salah.

Berani kau menjawab aku eh!!! Bapak terus menarik badanku lalu menolakku ke bilik. Di saat itu aku terhidu bau arak. Maaf pak, Yanti bukan menjawab.. kataku padanya lagi. Tanpa berkata apaapa, bapa mula membuka tali pinggang besinya lalu memmukulku beulang ulang. Ampun pak!!! Yanti tak buat lagi!!! kataku sambil menahan kesakitan. Ampun?!! Aku tak percaya kau tu masih dara!! Sudah berapa lelaki jamah badan kau hah!!!?!!! tengking Bapak lagi Yanti tak kasi pada sesiapa, Pak!!!! rayuku lagi Aku tak percaya!!! katanya. Dalam pada itu Bapak merobek baju jarangku. Di saat itu Bapak melihat tubuhku yang bogel. Sambil menangis aku memeluk lututku kerana malu dan masih dalam kesakitan dipukul bertubi2. Biar aku periksa!! Aku tak percaya kau masih dara!!kata Bapak lalu menolak badanku dengan kasar agar aku terlentang.

Jangan Pak.. Yanti malu rayuku lagi sambil nangis terisakisak Malu??!!! Dengan kawan kawan memantat depan mata kau tak tahu malu!!! herdiknya lagi. Kakiku dibuka terkangkangEntah mengapa sambil itu Bapak mula menbuka pakaiannya. Jangan Pak. aku merayu padanya. Kau diam !!! pekiknya lagi. Aku terlihat Bapak sudah bogel dihadapanku. Aku mula rasa semakin takut dengan apa kemungkinan Bapak akan lakukan pada diriku. Batang koneknya sangat besar dan panjang seperti mana aku inginkan sama seperti konek orang negro. Aku mula rasa tegang dan takut. Aku dapat rasakan dalam benakku Bapak akan meragut daraku. Bapak mula memeriksa lubang pukiku.. Matanya tak lepas melihat tubuhku dengan rakus.. Jangan PakYanti anak Bapak Diam!!!! katanya lalu Bapak mula mengeluarkan lidahnya sambil menjilat jilat lubang pukiku Oughhhhhh. Pak Jangan Bapak mula menjilat lubang pukiku dengan liar dan rakus.. Sebelum kau kasi lubang puki kau pada jantan tepi jalan, lebih baik kau kasi pada bapak sendiri!!! bentaknya lagi UghOhh Bapak. Ermmmm Nggghhh Bapak mula menggomoli badanku dengan lidahnya..

Terasa geli, sakit dan sedap bercampur aduk.. Tangan bapak meraba seluruh pelosok badanku. Arrgghhh. Bapakkkk .. Jangan!!!.. aku merayu dengan nada berserah. Akhirnya lidah Bapak bertemu lidahku.. Bapak mula menghisap bibirku dengan kasar. Bau arak jelas dirasa di bibirku. Arghhhh emmmmh..Pak.jangan.. Lidahnya mula melumati leherku yang paling sensitif..Aku sudah tidak terdaya untuk melawan nafsu shahwat bapak. Di saat dia melumati leherku, tangannya memeluk tubuhku dengan erat sementara sebelah tangannya menggetel biji kelentitku. Dia mula meramas kedua dua tetekku dengan kasar sambil menjilatku di leher lagi Pakkk .desahku …Arghhh. sedapnya pak Sedap eh.. nak tambah sedap lagi tak jawabnya sambil menggentel puting tetekku Ohhhhhh pakk.desahku Bapak mula mencium mulutku lalu melumati bibirkuTubuhnya basah dengan peluh itu menimpa tubuhku dan tangannya tidak pernah berhenti meraba tubuhku..

Di saat kesedapan disentuhi oleh bapaku sendiri, dia mula menjilati leher ku lagi, kali ini dengan kasar. Ouuhhhhh..Bapak Sedapnya.desahku lagi Kerana terasa diangkut dengan gelombang nafsu Bapak kandungku sendiri yang berusaha sungguh untuk menjamah tubuhku..aku berubah kali ini bereaksi mencium mulutnya yang berbau arak bertubi tubi Aku seperti hilang akal akibat dirundung shahwat yang tidak boleh terbendung itu.. Di saat itu aku rasa aku terlalu terhutang budi dengan Bapak.. Aku mula melawan ciumannya lalu merubah posisi. Kali ini aku yang membalas untuk mencium tubuhnya yang sasa itu bertubitubi Arrrghhhh.Yanti.teriak Bapak Ya.. pak jawapku sambil menjilat putingnya. Isap konek Bapak nakrayunya Tanpa berfikir aku terus memegang batang koneknya yang mula mencanakAku mula menjilat dan menghisapnya dengan rakus Wajah Bapak jelas terpancar rasa kesedapan akibat kelakuankuAku semakin berasa geram lalu mengisap dengan kasar batang koneknya kerana saiznya makin membesar sepanjang 15inci dan lebarnya sebesar buluh yang besar aku sudah tidak sabar Dengan tiba2 Bapak berdengus lalu membalikkan badanku Batang koneknya yang besar itu digesel2 di pintu lubang pukiku Gara2 perbuatan itu, air pelincir pukiku mula mengalirdan pukiku mula rasa gatal minta ditujah dengan batang konek

Pakk.Yanti rasa gatal pak.. rayuku menahan perasaan Bapak mula terasa marah .Kau dah rasa gatal eh perempuan sundal, Kau dah giankan rasa konek eh itu sebab biar aku yang rasa dulu baru temu buku dengan ruas.Perempuan sial Memang perempuan umur kau gini memang nak kena kasi konek tiap hari Kau ni macam arwah ibu kau, sentiasa mintak bersenggama.. Itu sebab kau tu bernafsu kuat! Puki gatal miang kata Bapak sambil masih menggeselkan koneknya dengan kasar di pintu lubang pukiku Pak jangan seksa Yanti macam gini Argghh. ermm. Yanti tak tahan.. rayuku lagi. Bapak mula mengesek masuk batang koneknya yang terhunus besar perlahan lahan ke dalam puki Aku rasa gian dan ingin merasakan batang konek ke dasar pukiku..Tapi Bapak seolah olah cuma mau masuk sedikit demi dikit semata2 untuk menyeksa perasaanku. Bapak menjilat leher ku lagi..seperti sudah tahu itu tempat pusat kelemahkanku.. Ohhh.Bapak.. Jangan seksa..Yanti camni.Argghh.desahku lemah Habis kau nak bapak buat apa???!!

katanya sambil melumati tetekku. Pak. Yanti tak tahanjawapku keresahan. Tak tahan nak Bapak buat apa? sambil menujah koneknya perlahan ke dalam pukiku. Masukkan. pak.kataku semakin berani. Masukkan apa??!!! herdiknya lagi MASUKKAN BATANG KONEK BAPAK DALAM PUKI YANTI!!! YANTI DAH TAHAN NIE!!!!!! herdikku Kali ini tanpa menunggu Bapak menujah lalu menerobos batang koneknya yang gagah itu ke dasar pukiku ARRRGHHH!!!!!! SAKIT!!!!PAKKKK!!!!! jeritkudarah mula mengalir dari pukiku tanpa dipedulikan Bapak Rasakan perempuan sial!!! nak rasa batang konek jantan sangat kan..Ambik kau!! jawab Bapak sambil mula memompa pukiku dengan kasar.. Sedapnya rasa pukiku ditujah dengan batang konek bapakAkibat saiznya yang besar,semua G Spot yang aku ada semuanya terasa megakibatkan aku terair lagi.. Nafsuku dan Bapak sudah tak terbendung lagi.. Aku tidak sangka perzinaan anak dan bapa kandung begitu hebatHubungan Sedarah sangat menghairrahkan pada waktu itu. Benda benda yang terlarang selalunya bila dicuba akan rasa sedap. Ayah menpunyai tenaga yang luarbiasa dan dia tidak berhenti sekejap pun untuk tahan nafasnya.. Barangkali sebab kerjanya kerja kasar. Batang koneknya yang hebat itu tertanam ke dasar pukiku dan setiap kali Bapak memompa ke dasar, terasa senak perutku dibuatnya..

Padan muka kau dara kau Bapak ambik asyik tengok gambar orang memantat aje kan?!!! mulai hari ini kau mesti nak layan Bapak kat bilik paham!!!! ujarnya lagi Kali ini rambut dijambak dan Bapak mula merubah posisi di belakangku lalu mula dengan posisi doggy Sedap tak perempuan sial? Sedap tak konek bapak kau sendiri? tanya Bapaku sambil membisik di telingaku sambil memompa.. Sedap pak Argh Nnghh .sszz.sss sedap.desahku lagi Mulai sekarang nak main batang orang lain tak? tanyanya lagi samibil memompa ke dalam pukiku lau biarkan ke dasar TttakPakk.jawapku kesakitan kerana rasa senak.. Habis konek sapa kau nak, betina jalang??kata Bapak, kali ini menjilat leherku. Arrrrgghhnak..konekBapak..sorangermm ..nghsh..jawabku yang sudah hampir tak bermaya. Ayah mula membalikan tubuhku terlentang laku memasukkan batangnya yang sedap itu ke dasar pukiku lagi Kali ini dia memeluk tubuhku dengan erat. Sambil memompa dengan kasar, dia memelukku dan mencium bibirku bertubi tubi Bapa sayangkan kau..bapak cintakan kau Yanti jangan takut.. ayah akan jaga Yanti dengan baik Yanti jangan berdegil dengan Bapak lagi bisiknya ke telingaku.. Yanti pun sayangkan BapakYanti rindukan Bapak Yanti tak mahu tinggalkan Bapak.

Ohhh.Yanti!! teriaknya sambil masih memompaku mendalam dengan kasar Aku sudah tidak tertahan akibat perasaanku yang terlalu lama tersimpangAku mula melihat wajah Bapak dengan penuh kasih sayang.. Bapak.. ambillah tubuh Yanti.. Yanti rela dikerjakan Bapak tiap hari sampai bila bila.. Yanti rela tubuh Yanti dijamah setiap masa dan tiap hari Yanti akan jadi hamba seks Bapak.. Orang lain tak perlu tahu..Saudara kita pun tak ambil kisah tentang kita. Yang penting Bapak sayang Yanti.. Buat pertama kalinya Bapak tersenyum dan ternyata dia kelihatan sangat kacak dan macho. Oh Yanti Sayangku.desah Bapak sambil memeluk san menciumiku bertubi2 lagi Dalam pada masa ini konek Bapak masih tertanam dalam dasar pukikuKami saling berpelukkan dan berciuman dengan kasarnya. Kami melampiaskan nafsu kami sepanjang tengah hari itu hingga waktu malam.. Aku sangat terpegun dengan kehebatan nafsu Bapak sebab setelah 8 jam kami bersetubuh, dia masih mampu bertahan. Batang koneknya kini sudah jadi milikku.. masih keras di dalamku.. Kali ini aku pula memainkan perananku.. Tiap kali Bapak mengepam koneknya ke dalam dasar pukiku, aku mula berlawan balik. Perbuatan ini membuatnya rasa geram denganku.. AhhYanti

Bapak nak lepaskan Bapak tak tahan lagikata Bapak sambil menahan. Baiklah Pak. arrhhmmm ermm Yanti dah tak tahan..desahku Arrrghhnnn Bapak lepas dalam!!! teriaknya Aku rasa cecair panas mengisi ruang lubang pukiku Sangat sedap rasanya Pak?. tanyaku manja sambil mengadap wajah Bapak yang mengadapku. Ya Yanti Yanti makan ubat perancang tau kataku selamba Ye ke Jadi? tanya Bapak Yanti nak memantat lagi?.Boleh?. tanyaku lagi seperti menggoda Haha sini kaujerit Bapak kecil lalu merangkulku lalu menindih tubuhku Ayah mula menjilat leherku untuk membangkitkan syahwatku.kami bersetubuhi berulang ulang kali pada malam itu seperti pengantin baru.

Rupanya aku baru dapat tahu bahawa Bapak diberhentikan kerja kerana syarikatnya tutup..Dia diberi wang pampasan sebanyak $60 ribu Akibat khawatir dia tidak mampu membayai wang sekolah aku dia pergi minum degan teman2 senasib. Sepanjang cuti sekolah itu kami tidak kemanamana Hanya pergi ke kedai untuk membeli barang dapur dan pil perancang. Kami bersetubuh sepanjang hari dan tiap2 hari dan berhenti untuk makan atau ke tandas.

Di rumah kami tidak berpakaian..Bapak lebih suka aku berbogel agar senang untuk kami bersetubuh apabila nafsu mendatang. Tingkap dapur dan bilik dan pintu sentiasa tertutup agar jiran tidak mengambil tahu. Bapak mempunyai nafsu seks yang buas. Tiap pagi kami bangun tidur selalu mula dengan memantat.. waktu aku masak sarapan Bapak akan menjilat leherku sengaja membangkitkan nafsuku. Selepas sarapan waktu mandi bersama, dia akan menjamah tubuhku dalam bilik mandi. Apabila masak waktu tengah hari, dia akan masukkan batang koneknya yang idaman aku itu, digesel gesel di bontotku saat aku memotong bawang. Selalunya perbuatan itu akhir dengan persetubuhan dan Bapak akan lepaskan air maninya ke dalam rahimku.

Pada waktu malam semasa menonton TV aku akan menghisap batang koneknya hingga keras lalu dipancutkan ke mukaku. Aku tidak pernah jemu disetubuhi bapakku sendiri kerana batang konek Bapak memang sudah jadi idamanku. Bapak pula pernah mengatakan bahawa perempuan muda remaja seperti aku perlu sering disetubuhi kerana perempuan muda lebih cepat resah kalau tidak dapat dipuaskan nafsunya. Bapak pula tidak pernah mencari perempuan lain setelah ibuku meninggal dunia. Kekosongnya dannafsunya tersimpan sehinggalah dia menyetubuhiku. Aku sedar perbuatan kami memang terkutuk namun kami berasa bahagia bersama. Aku sudah mengambil keputusan untuk berhenti sekolah jadi aku boleh luangkan masa bersama Bapak. Bapa pula akhirnya mendapatkan kerja malam agar boleh luangkan masa siang hari bersamaku. Hidup kami berterusan hingga kini.

Pengalaman Pertama ML Dengan Gadis Arab

Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemanamana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputarputar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadangkadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena suratsurat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.

Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tibatiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.

Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.

Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil dudukduduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.

Tibatiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.

Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya, katanya.

Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.

Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini, kata security itu.

Aku mau ke karaoke dulu, balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.

Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.

Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi, kata security tadi kepadaku.

Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw.

Anis, jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.

Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.

Sendirian saja nona atau , kataku mengawali pembicaraan.

Panggil saja namaku, ANIS, Anis, katanya.

kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.

Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena berAC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.

Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.

Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tandatanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahanlahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, Mau apa kamu, Jokaw ? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.

Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang lakilaki, kataku mulai merayunya.

Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.

Akhh, tidak.. Jangan.., rintihnya.

Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arabmu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam.

Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapiapi. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.

Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.

Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.

Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.

Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.

Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, Sllruup… Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.

Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.

Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka branya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang…

Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.

Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebarlebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.

Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan, rintihnya.

Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.

Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.

Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.

Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengusdengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.

15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.

Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku…

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.

Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acakacakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderakderak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.

Semenit kemudian..

Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh, Anis memekik.

Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.

Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!

Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.

Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga…

Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisasisa kenikmatan. ketika sisasisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.

Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa, katanya sambil mengelus dadaku.

Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar lakilaki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benarbenar sempit, kataku balas memujinya.

Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!

Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?

Nggak ah, asli Indonesia lho…

Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.

Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.

Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?tanyaku.

Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya. katanya enteng.

Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan lakilaki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.

Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.

Hmmhh.., ia bergumam.

Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin, kataku.

Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.

I want more, honey! kataku.

kami bersamasama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.

Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusapusap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.

Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.

Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw! ia berteriak.

Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.

Jokaw.. Maniak kamu.., ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.

Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.

Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjagajaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.

Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengekrengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremasremas payudaranya sendiri.

Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalamdalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremasremas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.

Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hatihati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengahengah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.

Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.

Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!

Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebarlebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hatihati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.

Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahanlahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.

Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.

Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.

Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi samasama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.

Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentarbentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.

Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langitlangit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.

kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.

Ouhh.. Anis, desahku setengah berteriak.

Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahanlahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.

Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.

Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencaricari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselangseling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalamdalam menyentuh rahimnya.

kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentakhentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.

Ouhh.. Sshh.. Akhh! Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.

Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu.

Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.

Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi! ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.

Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.

Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintihrintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.

Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.

Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerakgerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.

Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.

kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.

Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.

Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, OK baby, kini saatnya…

Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.

Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombanggelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakanakan saling meremas dan balas mendesak.

Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersamasama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.

Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!

Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!

Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya eraterat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PCku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PCku kugerakkan.

Napas dan katakata penuh kenikmatan terdengar putusputus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengalsengal yang berangsurangsur berubah menjadi teratur.

Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang lakilaki bernama Jokaw.

Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan siasia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.

Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.

Terima kasih Pak, katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.

Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi, bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.

Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.

Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis, arabian Girl who has passion as like as Arabian horse.

Aku Perkosa Gadis Pemalu

Bramata beristrikan seorang permaisuri yang cantik jelita.Berambut panjang sepinggang.Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih mulus tanpa cacat.Soal buah dada,hmmselalu membuat tamutamu istana gemas tangan untuk meremasnya.Membusung dan bagai hendak melompat keluar dari balik gaun kebesaran istana.Lalu beronanilah para tamutamu itu dikamar,seolaholah penis mereka ada diantara dua bukit menantang sang permaisuri.

Dan ini tradisi yang diajarkan sang ayah.Setiap akan berpergian keluar istana,apalagi dalam jangka waktu lama,maka permaisuri yang ditinggalkan harus mengenakan apa yang disebut celana kesucian.Seperti yang disebut diatas,celana itu terbuat dari besi.Sangat rapat.Hanya terdapat satu lubang kecil untuk kunci.Tentu menjadi pertanyaan,bagaimana cara

permaisuri melakukan kegiatan pangkal pahanya seharihari.Mulai kencing,buang hajat,atau pas kebetulan menstruasi?

Nah,ternyata raja menitipkan kunci segitiga besi itu pada ayahnda tercinta.Namanya juga tradisi dan..apa yang dapat dilakukan lakilaki tua renta dan lumpuh?!

Dugaan yang salah besar!

Malam itu permaisuri terbangun dari tidur. Kemihnya mendesak ingin dimancurkan,kencing.Raja sedang sidak kepenjuru negri,biasanya dua kliwon baru kembali.Seperti harihari sebelumnya,bergegas permaisuri menuju kamar ayah mertua yang pintunya berhubungan langsung dengan kamarnya.Kunci itu diletakkan dibawah bantal.

Maaf ayahnda,putri menantumu ingin pipispermaisuri berbisik pelan.Lakilaki tua itu tampak terlelap tidur.

Ambil sendiri Ambiyani,putrikukata sang ayah setelah terjaga.Memiringkan sedikit kepala,memudahkan permaisuri Ambiyani mengambil sesuatu dibawah bantal.Tercium aroma segar dari tubuh sang menantu.Ayah mertua menghirupnya dalamdalam,atraktif sekali.

Ah ayahnda,selalu seperti itukata permaisuri dengan senyum malu.

Bau tubuhmu menggairahkan,menantuku

Maksud Ayah?tanya permaisuri.Keningnya berkerut,berusaha mengartikan apa maksud perkataan lakilaki lumpuh itu.

Coba lihat kebawah putrikuberkata setengah memohon.Tangannya meraih pergelangan menantunya.Bagai terhipnotis,permaisuri mengarahkan pandangannya kebagian bawah tubuh ayah mertuanya yang terlentang itu.Seketika,merah padamlah wajah sang Ambiyani.Dibalik selimut tebal,ada sesuatu yang bergerakgerak dibawah perut ayah mertuanya.Bukan sulap bukan sihir.Itu pasti penis, dan mengacung.

Cerita Dewasa Besok malamnya Ambiyani tak dapat tidur.Terbayang kejadian malam sebelumnya.Gelisah.Antara percaya dan tidak,antara jijik dan penasaran.Tubuh mertuanya boleh telah lama lumpuh,tapi tidak dengan kejantananya.Ambiyani merekareka seberapa besarkah penis situa itu?kerasnya tak diragukan,terbukti mampu menggerakgerakkan selimut yang begitu tebalnya.Kewanitaan Ambiyani terus bertanya,dan jawabnya adalah denyut lubang intimnya makin menghebat.

Ayahnda,putrimu pingin pipisbisikan seperti kemarin.Tapi sebenarnya Ambiyani tak hendak buang hajat,bahkan sebaliknya,memasukkan hajat pada tubuhnya,pada lubang kenikmatannya.Dan sang mertua terlalu berpengalaman untuk menyadari apa yang diinginkan putri menantunya.Tatap mata sicantik redup tapi bukan berati tak mengundang.Tubuhnya diam bukan berarti tak berharap

Biarkan ayah yang membukanya,putrikumengambil kunci dibalik bantal dan berkata lagidan lepaskan bagian bawah gaunmu biar ayah mudah melakukannya

Terserah ayahjawab Ambiyani lalu jari lentiknya menarik ujung tali sutera yang melilit bagian pinggangnya.Terlepaslah apa yang diikat.Gaun bagian bawahnya meluncur begitu saja kelantai.Terpampanglah kemudian sepasang paha nan putih mulus,yang begitu kontras dengan segitiga besi yang kecoklatan itu.Nafas si tua mendengus.Tangannya gemetar memasukkan kunci pada lubangnya.Dan setelah berhasil terbuka,yang pertama terlihat adalah rambut kemaluan yang tidak terlalu lebat namun begitu hitam pekat.

Duhai putriku,alangkah menggairahkan milikmu inimemuji dengan mata berbinar penuh nafsu,sedang tangannya mulai merabaraba.Tak sabar tangannya bermain pada belahan yang kemerahmerahan dibawah rambut pekat itu.

Cerita Dewasa Ambiyani dalam penantian yang menyiksa.Lalu dia tak segan membuka pahanya lebih lebar,apalagi kalau bukan untuk memberikan kemudahan jari Ayahndanya menelusuri kedalaman lembah selangkangannya.

kamu sudah basah,putriku.Bolehkah Ayah menjilatnya?

Lakukan ayah!cepat Ambiyani menyahut.

Naiklah keatas wajahku

Tapi ayahkata Ambiyani ragu.Rasanya terlalu kurang ajar mengangkang diatas wajah mantan raja itu.Tapi bukankah dia sendiri yang meminta,dan memang posisi ini yang paling memungkinkan.Dia lumpuh,dan Ambiyani perlahan naik keatas pembaringan.Ditempatkannya wajah sang mertua tepat dibawah pangkal paha yang mengangkang begitu lebar.Lidah itu terjulur menyambut dan

sssh.Ambiyani mendesis.Lidah yang bergerak lincah pada organ wanitanya yang paling intim,mengelinjangkan tubuhnya.Matanya terbeliak kenikmatan.Apalagi ketika daging kecil yang tersembunyi diantara lipatan bibir luar vaginanya dihisaphisap,digelitik,lalu dihisap lagi

Auhh,ayahgigit saja..gigit saja!Ambiyani meracau.Begitu lihai permainan lidah mertuanya itu.Menjadikan nikmat dan menggemaskan tiada tara.Pinggulnya makin ditekannya kebawah,begitu rapat hingga tak ada ruang bagi mertuanya bernafas.Ia tak perduli walau hidung dibawahnya megapmegap,bahkan tangan Ambiyani meremas rambut yang beruban itu dan dijejalkan pada sumber kenikmatan ditubuhnya.

Angkat dulu Ambiyani.Ayah belum melihat payudaramu!

Ah mestinya ini lebih dulu yang Ayah kerjakan,bisik hati Ambiyani.Lalu sesaat tubuh Ambiyani telanjang penuh.Dua bukit tergantung indah didadanya.Bukit impian setiap lakilaki itu segera berada dalam permainan bibir mertuanya.Puting yang tegak kecoklatan dihisap rakus bagai bayi lapar.Dan letak tubuh Ambiyani memang bagai ibu yang meneteki bayinya.

Sekarang ganti Ambiyani beraksi.Menuntaskan rasa penasarannya,ditariknya selimut tebal itu seluruhnya.Dan Aww!monster itu ternyata tak memakai apaapa.Begitu garang.Botaknya tampak berkilatkilat dibawah cahaya perapian kamar.Ambiyani menggengam batang itu,besarnya hampir dua kali milik suaminya.Dia bergidik,membayangkan bila sang monster ini menyeruak dalam vaginanya.

ckk..ckk..ckk Ayahnda,akankah ini bisa masuk padaku?ujarnya bernada khawatir.Namun tangan halusnya malah mengocok,membuat penis itu makin pada puncak ereksinya.

coba dulu dengan mulutmu sayangpinta ayah mertuanya.

Kini tubuh keduanya pada posisi saling berlawanan.Bibir sang menantu mengulum sang monster sedang mertua melahap vaginanya.Tak berlangsung lama,karena keduanya sama tak sabar untuk memulai permainan yang sesungguhnya.

Aku takut akan merobekku,ayahmasih juga Ambiyani tampak khawatir,padahal saat itu vaginanya telah menyentuh ujung penis sang ayah.

Lakukan pelanpelan sayangkata sang ayah yang terlentang dibawahnya.Ambiyani yang berjongkok menggengam dan mengosokgosokkan ujung penis itu pada clitnya.Membuatnya geli dan gatal

AhhhkAmbiyani berteriak tertahan.penis itu telah memasuki dirinya.Seluruh dinding miliknya bagai terkoyak.Diam sesaat,meresapi keutuhan sensasi yang ditimbulkan,lalu ia mulai bergerak.Mencari lebih lagi.Walau terasa menusuk hingga rongga perut,ia makin giat.Tubuh meliuk dan hentakan pinggulnya begitu erotis.Nafas keduanya berkejaran.Tangan mertuanya tak tinggal diam,ia meremas kedua bukit payudara yang besar dan kenyal itu dengan selingan memilin putingnyaAmbiyani makin bergairah.Meski ada sedikit rasa sakit tapi nikmatnya jauh tak terkira

hhkkuhh..uhh

sshh nikmatnya sayang,teruskan,lebih keras!

Ambiyani makin memacu,kenikmatanpun makin laju.Ia kini bukanlah permaisuri,melainkan tak lebih dari perempuan binal.Gerakan tubuhnya bagai kerasukan,bagai hendak menghancurkan tubuh tua dibawahnya,dibawah kendalinya.

Serrrrrrrbyorrrrr.bendungan Ambiyani jebol.Membanjiri semuanya,tak tertampung hinggga merembes keluar lubang,membasahi rambut penis mertuanya danambruklah tubuh Ambiyani dengan bibir tersenyum penuh kepuasan.Sang ayah segera memompa dari bawah,lupa pada peran lumpuhnya.Ia ingin secepatnya mengejar orgasme dan ohhhhh..crooooot.Menyembur keatas,kedalam rahim menantunya.

Cerita Dewasa Kepuasan Ambiyani berulang dan berulang,hingga suaminya baginda raja Bramarta kembali keistana.Acara jamuan makan malam penyambutan sang raja telah usai.Permaisuri Ambiyani telah berada diperaduan.Berdebar jantungnya saat sang suami masuk kekamar ayahnda.Beliau hendak mengambil kunci celana dalam kesuciaan yang dititipkan pada sang ayah.Berbasa basi sebentar,kemudian mencium kening sang ayah

Bagaimana ayah?tanya sang raja dengan pandangan penuh arti.Kunci telah berada ditangannya.

Ayahnda sang raja membalas pandangan anaknya juga penuh arti,bibirnya tersenyum menampakkan kepuasan

Wahai anakku.istrimu memang..top banget!katanya sambil mengacungkan ibu jari.

Sudah tradisi kerajaan..

Ml Sama Dosen Kuliah Inggrisku

Berawal dari reuni SMAku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan dosen bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tibatiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kirakira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampulampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan temanteman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

Kenapa Jack

Ah.. tidak apaapa, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebardebar).

Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan, kata Ibu Shinta.

Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya, jawabku dengan raguragu.

Terima kasih Jack.

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, Oh my God what im doing, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malammalam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BHnya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahanlahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremasremas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

Mau apa kau sshh sshh, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku eraterat.

Ooo oh.. oh.., desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermainmain di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelanpelan mulai masuk ke dalam dengan gerakangerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkatangkat pinggulnya. Aahh Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh

Tanpa sungkansungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremasremasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa?

Pacarmu?, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BHnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.. Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremasremasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, bergulingguling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritanjeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

Gantian dong.. Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lamalama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lamalama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelanpelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. Ohh, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritanjeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyanggoyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. Ooo ahh hmm ssshh, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok! Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. Gaya apa lagi ini?, tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

Capek?, tanyaku. Kamu ini anehaneh saja. Sampai mau remuk tulangtulangku.

Tapi kan nikmat Bu.., jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas, kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaikturunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentaksentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyanggoyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apaapa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas.

Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh.. Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puaspuas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakapcakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya.

Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. Uuuhh.., mmmhh.., Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubunubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BHnya yang seksi, bergantiganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. Ehhh, mmmhh… Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

Ooohh.., aduuuhh… Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak.

Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengahengah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langitlangit, kubelaibelaikan di pipi Ibu Shinta. Mmmhh, mmmhh.., ooohhm… Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss, erangku.

Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus, teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., Creet.., suuurr.., ssuuur..

Oughh.., Jack.., nikmat.., erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu

kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, Crooot.., croott.., crooot.., banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.

Aaahkk.., ooough, ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesekgesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. Ohm, masuk.., augh.., masukin

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesahdesah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal.

Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jarijariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri.

Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengahengah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisasisa kenikmatan orgasme.

Nikmatnya Memek Adik Iparku

Panggil saja namaku Abi, aku berumur 27 tahun, aku adalah seorang direktur perusahaan swasta di Kendari. Aku baru saja menikahi wanita cantik berjilbab, namanya Olive. Olive mempuanyai seorang adik perempuan yang bernama Risma. Mereka adalah kakak beradik yang cantik dan manis, keduanya bertubuh mulus dan berbadan tinggi semampai, itulah salah satu motivasi aku menikahi Olive, karena tubuhnya yang indah. Namun akupun sangat tertarik kepada adiknya, Risma. Ia tidak berjilbab dan slalu mengenakan baju sexi dan mini, tak kala aku sedang menonton TV bersamanya di ruang keluarga aku slalu berusaha mencuricuri pandang ke arah tubuhnya yang terlihat mulus. Namun hasrat itu hanya bisa ku pendam saja.

Kala itu, aku sedang bekerja di ruangan kerjaku di perusahaanku, kebetulan perusahaanku sedang mengalami sedikit guncangan akibat dampak makin banyaknya perusahaan saingan di kotaku itu. Pada saat jam pulang kerja, tepatnya pukul 17.00 aku terdiam diri sendian di ruanganku karena memikirkan masalah itu. Kurang lebih 30 menit aku melamun, dan tibatiba terbayang sosok Risma fikiranku, aku membayangkan dirinya sedang bugil, pikiran kotorku semakin merajalela dan kontolkupun mengeras seketika. Ketika sedang asik menghayalkan tubuh indah risma terdengar suara ketukan pintu tok tok tok aku kaget dan tersadar, ketika membalikan badan ternyata Olive istriku datang untuk menjemputku, karena rencananya pulang kerja kami mau pergi makan malam bersama Olive dan adiknya juga. eh sayang. udah siap ni, cepet amat datengnya!! tegurku, ah iyah yang aku sengaja datang lebih cepat karena takut jalanan macet, sekarangkan malem minggu jawab olive. Mana Risma yang??? Katanya dia mau ikut dengan kita makan malam dan nonton?? oh iyah nanti dia nyusul katanya, soalnya dia mau ngembaliin buku ke temennnya dulu, gak lama lagi nanti dia datang ko jawab olive sambil duduk di pangkuanku, dan diapun menyadari penisku sedang keras, eh sayang, lagi pengen yah???? Itunya bangun tuh ledeknya. Iya ni yang aku lagi pengen, kita ML dulu yuk karayawan udah pada pulang ko, Cuma ada satpam, dia juga jam segini lagi pulang dulu, dia baru bakalan jaga lagi nanti jam 9 malem ajakku kepada Olive. ah jangan disini ah.. nanti kalo Risma dateng gimana??!! jawab olive. ahh. pasti Risma telpon dulu kalo dia mau nyampe sini, dia kan penakut, ga mungkin masuk ke kantor sendirian, apa lagi kalo sore kantor ini sepi. Akhirnya istriku mau menerima tawaranku tadi, Iya deh sayang. tapi aku ga lepas jilbab yah soalnya ribet pasangnya lagi kan kita mau jalan abis ini hehehh iya deh pakek jilbab lebih asyik kok akhirnya kamipun saling berpelukan sambil berciuman, aku lumat bibir kecil istriku, sambil tanganku merabaraba payudaranya yang tak begitu besar, perlahan tanganku melepaskan roknya namun bibirku masih tetap melumat bibirnya, semakin bernafsu aku lepas pula atasan baju istriku, dan ku remasremas dengan keras payudara olive yang masih terbingkus Bra, lalu aku lepaskan Branya dan aku lumat puting merah muda di puncak gunung kembarnya Olive, terdengar suara erangan Olive yang mendesah kenikmatan ahhh. sayang.. enak yang ahhh. terus nenenin tetek aku yang.!!! aahhh. semakin semangat saja aku menjilati tubuhnya, kini akupun berada di selangkangannya, tanpak pikir panjang, aku pun membuka celana dalam birunya, dan aku jilati kemaluan olive yang bersih dari bulu itu, kemudian aku buka mulut memeknya yang wangi dan masih terlihat selaput dara yang baru saja aku rusak di malam pertama kami 1 bulan yang lalu, kemudian aku jilati klitoris Olive, dan ahhhh sayang ahhh geli yank. ahh. aku serasa pengen pipis. namun aku tak menghiraukannya, aku terus saja menjilati klitorisnya sambil memasukan jari tengahku ke dalam mulut memek Olive, semakin cepat aku menusukan jari tengahku, semakin dahsyat desahan Olive, ahhh.. sayang ahhh ahhh aku mau dapet yang. ahhhhhh pantatnya nampak menggelinjang dan pahanya tibatiba menutup menjepit kepalaku, ternyata Olive sudah orgasme,

aku pun segera membuka celanaku, ketika sedang membuka kemeja, tibatiba pintu ruanganan ku terbuka, karena ternyata aku lupa menutupnya rapatrapat dan menguncinya, aku dan istriku langsung kaget, ternyata pintu itu terdorong oleh sesosok tubuh yang telah tak mengenakan baju sehelaipun, dan ternyata itu adalah Risma, yang ternyata sedari tadi ia mengintip kami, dan bermastrubasi sambil menyaksikan kami berdua ML, tanpa pikir panjang, aku langsung menarik lembut tangan Risma dan membisikkan di telinganya Ayo sini kakak puaskan bareng kak Olive dengan malumalu iya mengikuti tarikan tanganku, aku tak sadar bagaimana respon Olive yang sedang terkulai lemas di atas meja kerjakun karena orgasme pertamanya itu, namun setelah aku memandang wajahnya, Olive malah tersenyum dan senyum itu memberi arti bahwa Risma boleh ikut ML bareng, akhirnya Risma aku suruh jongkok dan aku pegangkan Penis kerasku, dengan malumalu ia mengocokngocok kontolku dengan pelan, tibatiba Risma langsung melumat dengan liar penisku, aku sedikit kaget karena ternyata ia sangat pandai menghisap kontol, aku hanya bisa menikmati sambil sesekali mendesah kenikmatan ahhh. ayo Risma sayang sepong terus kontol kakak uhhh ahhh. yes

Setelah puas aku disepong oleh Risma, aku langsung berbaring di atas meja dan menyuruh Olive menaiki badanku dan menduduki penisku, ah. enak yang. ahh aku goyang yahh ahh desah olive, sambil tanganku merabaraba Memek Risma yang berada di sebelah Olive. Dan tak lama Olivepun berhenti dari genjotannya itu sambil mendesah ahhh ahhh. dan terasa pantatnya kembali menggelinjang dan pahanya ia tutup rapatrapat. Kemudian aku bisikan kepada Olive, yang. aku coba punya Risma juga yah kemudian olive pun hanya mengangguk tak berkata apapun sambil beranjak dari atas badanku.

Kemudian aku suruh Risma menduduki penisku, dan tanpa ragu Risma duduk di atas badanku, sambil menuntun penisku ke dalam Memeknya, ohh.. walau sudah tidak perawan namun memek Risma sungguh nikmat, ahh kak ahh. enak kak genjot dari bawah kak!!! desahnya. Dan akupun goyangkan kontolku secara cepat sambil memandangi wajah dan tubuh risma yang menghadap ke arahku. Akupun terus menggenjot memek Risma dari bawah. dan beberapa saat kemudian, Risma mendesah ahhhh.. ahh. kak terus genjot. Risma mau dapet ni ahh.. akupun terus menggenjot dan karena saking bernafsunya menggenjot, akupun tak kuasa menahan ejakulasiku.

Namun sesaat sebelum aku berejakulasi, Risma mendesah ahh aku dapet kak sambil menggelinjang, dan akupun mengeluarkan lahar putihku di dalam memek Risma, adik dari Istriku. Sungguh nikmatnya memuncratkan sperma hangat di dalam memek yang selama ini aku hayalkan.

Akhirnya aku tersenyum puas sambil meandangi wajah kedua kakak beradik itu, kemudian Olive mencium bibirku, dan berbisik enak mana yang? Punya aku apa Risma?? aku hanya tersenyum, dan meremas payudara Risma yang masih terduduk di atas kontolku.

Di Mulai Dari Elusan Perut Tante

Yang saya rasakan ketika menunggu tante saya ini ada enaknya juga ada tidak enaknya. Saya ambil contoh saja yang enaknya dulu, saat tante mau pipis, saya pasti disuruh mengantar ke WC. Karena tangan tante sakit, dia menyuruh saya untuk membukakan CDnya dan saya bisa lihat dengan jelas kemaluannya yang tertutup bulunya yang agak lebat. Dan yang tidak enaknya ketika dia mau buang air besar, sudah deh jangan diteruskan, anda semua pasti tahu apa yang saya maksudkan..Â

Malam itu, saya sendirian menjaga tante di rumah sakit.
Tibatiba tante memanggil saya, Sony.., cepet kemari..! Tolong tante ya..? katanya.
Ada apa tante..? kata saya.
Perut tante sakit nich.., tolong gosokin perut tante pake minyak gosok, ya..? katanya sambil membuka selimutnya.
Dan terlihatlah tubuh tante yang molek itu, meskipun dia masih memakai BH dan CD. Tapi samarsamar puting buah dadanya dan bulu kemaluan tante terlihat agak jelas. Melihat pemandangan itu, batang kemaluan saya menjadi naik. Agar tidak terlihat oleh tante, saya mencoba merapatkan tubuh bagian bawah saya ke tepi ranjang.

Lho Son.., apa yang kamu tunggu..? Ayo cepet ambil obat gosok di meja itu. Lalu gosok perut tante, awas jangan keraskeras ya..! katanya.
Ya tante.. kata saya sambil mengambil obat gosok di meja yang ditunjuknya.
Setelah saya mengambil obat gosok yang ada di meja, Yang digosok bagian mana tante..? tanyaku.
Ya perut tante dong, masak memek tante.. khan nanti.. memek tante jadi sakit kepanasan. katanya tanpa merasa risih.
Akh.. tante bisa aja deh.. benci aku.. uhh..! kata saya.
Ayo dong cepet, tante udah nggak tahan sakitnya nich..! katanya sambil meringis.

Lalu saya gosok bagian perutnya yang putih mulus dan berbulu itu. Saya menggosok dengan lemahlembut seperti ketika saya sedang menggosok tubuh cewek saya.
Ya gitu dong, huu.. enak juga gosokanmu Son. Belajar dimana kamu..? katanya sambil mendesis.
Nggak kok tante, biasa aja. saya jawab dengan purapura.
Udahlah jangan bohong kamu.. Pasti kamu sering gosokin tubuh cewek kamu ya khan..? tanyanya mendesak saya.
Kan Sony belum pernah gosokin cewek Sony, tante..! kata saya purapura lagi.
Sekalian ya Son, pijitin kaki tante, bisa khan..? katanya manja.
Saya hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya yang membuat naik lagi batang kemaluan saya. Kakinya begitu dingin, mulus dan merangsang saya.

Lalu, Sudah tante, capek nich..! kata saya.
Lhoo.., yang di atas belum khan..? katanya.
Ah.., tante becanda ah.., Sony jadi malu.., kata saya.
Ayo cepet dong, kamu nggak bakalan capek lagi. Coba deh pijit disini, di paha tante ini. Ayo dong, kamu nggak usah malumalu, Sony khan keponakan tante sendiri, ayo cepet gih..! katanya manja sambil menarik tangan saya dengan tangan kanannya.Sekarang saya dapat melihat gundukan bukit kemaluanya yang menerawang dari balik kain tipis CDnya itu. Wajah saya langsung berubah merah menyala dengan pemandangan yang indah ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang saya rasakan, dia menyuruh mendekat masuk ke tengahtengah selangkangannya dan mengambil kedua tangan saya, meletakkan di masingmasing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit kemaluannya.

Iya di situ Son.., katanya sambil mencoba melebarkan kakinya lebih lebar lagi.
Saya disuruh memijat lebih ke dalam lagi. Pikiran saya mulai terganggu, karena bagaimanapun meremasremas zone eksklusif yang sedang terbuka menganga ini mau tidak mau membuat batang kejantanan saya menjadi naik lagi.

Lalu, Son, kamu udah punya cewek..? katanya.
Ya tante.., kata saya berterus terang.
Ngomongngomong Sony udah pernah ngeseks sama cewek kamu, belum..?
Apa itu ngeseks tante..? kata saya purapura tidak mengerti.
Maksudnya tidur sama cewek.. katanya.
Ngmm.. belum pernah tante.. jawab saya berbohong.
Ah masak sih, coba tante lihat dan pegang punyamu itu..? katanya sambil menarik tubuh saya agar lebih dekat lagi, lalu dengan tangan kanannya dia meraba gundukan di celana saya.
Tante pengen tau kalo anumu bangunnya cepet berarti betul belum pernah.. katanya sambil merabaraba batang kemaluan saya lagi.

Entah artinya yang sengaja dibolakbalik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujuk saya. Mungkin karena saya masih berdarah muda, biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tetapi kalau dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batang kemaluan saya naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih mudah lagi buat dia.

Wihh, besar sekali gundukanmu Son.. boleh lihat dalamnya punyamu..? Ayo bantu tante untuk membuka celanamu..! katanya tanpa menunggu persetujuan dari saya, dia sudah langsung bekerja membuka celana saya dan membebaskan burung kaku saya.
Memang, waktu batang kejantanan saya terbuka bebas, matanya setengah heran setengah kagum melihat ukurannya. Terutama kepalanya yang menyerupai helm tentara NAZI.

Bukan main kontolmu Sony.. besar dan keras banget punyamu.. katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu nafsunya.
Tapi masak sih Son, benda seindah begini belum pernah dipake ke memeknya cewek. Kalo gitu sini tante boleh nggak ngerasain sedikit lagi biar bisa tante tempelin di sini. lanjutnya, lagilagi tanpa menunggu komentar saya, dia dengan sebelah tangan bekerja cepat melepaskan CDnya.
Terlihatlah hutan kemaluannya yang menggoda itu, lalu dia menyuruh saya untuk naik ke ranjang dan menyuruh saya untuk menempelkan kepala kemalua saya di mulut lubang senggamanya. Di situ Saya disuruh menggosokgosokkan ujung kemaluan saya di celah liang senggamanya.

Lalu dengan menggosokgosokkan sendiri ujung kepala batang kejantanan saya di mulut lubang senggamanya yang sudah terbuka lebar itu, menambah semakin tegang dalam nafsu diri saya.
Ahh.. aduh.., Son.. nikmatnya.., katanya menjerit geli.
Udah Son, tante nggak tahan. Sekarang giliran tante bikin nikmat kamu.., ok Sayang..? katanya menyuruh saya berdiri.
Lalu dia dengan satu tangannya langsung memegang batang kemaluan saya dan mulai menjilati seputar batangnya, sambil sesekali mengulum kepalanya.

Beberapa saat kemudian, dia menarik saya lagi, tubuh saya berlutut di atas ranjangnya, dan kembali liang senggamanya memperlihatkan celah kenikmatan yang siap untuk saya masuki. Dalam keadaan seperti itu, saya betulbetul sudah lupa bahwa dia adalah tante saya sendiri. Lalu, ujung batang kejantanan saya mulai saya tusukkan di lubang kenikmatannya yang segera saya ikuti dengan gerakan majumundur, putar kanankiri untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri ikut membantu saya dengan jarijari tangan kanannya. Dia memperlebar bibir kemaluannya agar semakin lebih terbuka untuk lebih mempermudah masuknya batang kemaluan saya.

Terus saya genjot batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya yang indah itu.
Dan akhirnya, Hghh.., oo.. Sonn.. yeess.., oohh..! dengan erangannya, dia membuka orgasmenya yang juga disusul oleh saya hanya berselang beberapa detik kemudian.
Gimana Son rasanya barusan..? katanya menguji saya sambil tangannya mengusap, menyekanyeka keringat di dada saya.
Aduh tante enak sekali, belum pernah Sony ngerasain yang seperti ini. Tapi tante sendiri, gimana rasanya..? kata saya balik bertanya.
Tante baru sekarang lho ngerasain digituin cowok dengan kelembutan, tapi juga tidak meninggalkan kejantanannya yang perkasa, seperti punyamu ini, Si Buta Dari Gua Memek, tante jadi melayang ke langit yang ke7. Ohh.. endangg..? katanya.

Begitu selesai, saya diajak tante ke kamar mandi. Dan waktu itu saya bantu tante membersihkan kemaluannya. Sambil menyiram kemaluan tante, saya mendekap dia dari belakang, dan tante yang sedang berdiri menjadi kegelian karena batang kejantanan saya menyentuh bukit pantatnya. Seketika batang kejantanan saya naik lagi karena yang saya lihat sekarang lebih terlihat montoknya. Dan seketika itu, tangan lembut tante memegang batang kemaluan saya. Saya gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa buat cowok perjaka seperti saya ini. Buah dada tante menjulang, menantang dan tegar, kelihatan poriporinya meremang karena udara sangat dingin di kamar mandi, apalagi ini sudah tengah malam. Dan bukit kemaluannya agak merekah merah terbuka bekas perbuatan yang tadi.

Saya tidak tahu harus berbuat apa selain meraba buah dadanya lagi yang kali ini dari depan. Tante menarik saya dan mencium bibir saya, saya menurut saja. Tubuh kami saling merapat. Tangannya terus menguruturut batang kejantanan saya. Dan saya meraba pantatnya yang bulat dan sintal kencang. Buah kejantanan saya pun diremasremasnya pelanpelan. Kemudian, tante mulai menaikkan kakinya yang sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi kemaluan saya ke liang senggamanya. Ngilu dan agak panas terasa di batang kejantanan saya.

Tante mulai bergoyang maju mundur dan pantat saya juga ditekannya dengan tangan kanannya agar saya bisa mengikuti irama. Saya ikut saja menggoyangkan sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya. Beberapa saat kami bergoyang samasama, tapi paha tante mulai pegal rupanya, dan dicabutnya batang kemaluan saya. Kemudian dia berbalik dan menungging sambil berpegangan dengan tangan kanannya ke bibir bak mandi. Saya gosokkan batang kejantanan saya ke bibir kemaluannya. Benarbenar terasa panas bibir kemaluannya itu.

Kemudian saya mendesak maju dan, Bless.. kepala NAZI milik saya masuk bergesekgesek dengan dinding lubang senggamanya.
Tante juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari ular. Aduh luar biasa sekali, saya merasa keenakan dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Pantat saya maju mundur, rudal panjang saya menggarukgaruk lubang kenikmatannya. Dari posisi ini, saya bisa melihat dengan jelas batang kejantanan saya basah kuyup dan bibir kemaluan tante tertarik keluar masuk. Tangan saya menjangkau ke depan, meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar, nafas tante mendengus desah.
Ohh.. yess..!
Akhirnya saya meledakledak lagi dan tante rupanya sudah lebih dulu mengalami orgasme.

Setelah itu saya mandikan tante saya tersayang. Mulai detik itu, saya punya tugas tambahan baru.

Ibu Muda Kamar Kos Sebelah

Tetangga sebelah kanan kiri kamarku adalah pasangan yang berkeluarga. Ada bapak dan bu Evi (karena anaknya namanya Evi) keluarga dengan satu anak perempuan disebelah kiri kamarku. Dan keluarga mas Anto dan mbak Diah (begitu aku memanggil mereka) disebelah kanan kamarku, keluarga muda dengan satu anak perempuan juga yang berumur sekitar 2 tahunan. Aku tidak begitu kenal dengan tetangga lainnya karena memang sangat jarang bertemu. Umumnya mereka mengurung diri dikamar entah apa kegiatan mereka. Aku sendiri bujangan yang baru mulai bekerja pada sebuah perusahan yang cukup bonafid. Hari hariku biasanya aku habiskan pergi sama teman teman, itu sebabnya aku jarang berinteraksi dengan tetangga kostku.

Bu Evi orangnya kecil mungil, kulit hitam manis tapi punya toked yang agak berlebihan sehingga kalo lama diperhatikan seperti menantang (dasar mupeng) sedangkan mbak diah, punya perawakan sintal, kulitnya putih bersih, wajahnya juga sangat mempesona (masuk katagori cantik), ramah dan banyak senyum. Aku sendiri sering dapat senyuman nya. Nggak tahu kenapa aku sering cari kesempatan untuk bertemu muka biar kecipratan senyum manisnya. Aku sendiri cukup akrab dengan mas Anto karena kantor kami bersebelahan. Mas Anto bekerja sebagai Security. Seringkali aku diminta bantuan sama mbak Diah untuk jagain si kecil Endah kalo dia lagi sibuk dengan pekerjaan rumahnya, dan aku dengan senang hati melakukannya. Sebagai imbalan biasanya aku nitip cucian barang sepotong dua potong. Merekalah dua wanita yang menjadi topic ceritaku nanti.

Episode Mbak diah.

Pada suatu hari aku pulang malam sekitar jam 2an, aku ingat sekali itu malam minggu sehabis jalan sama teman temanku, aku bermaksud mengambil jemuran dibelakang kamar yang sore tadi dicuciin sama mbak Diah, takut kena hujan nanti bau. Aku merasa ada yang tidak biasa. Didepan pintu kamar belakang mbak Diah aku melihat sepasang sandal yang aku yakin bukan punya mas Anto. Penasaran aku balik kedepan mencari motor mas Anto, hanya ingin memastikan kalo mas Anto benar tidak dirumah karena setahuku hari itu mas Anto tugas malam. Dan benar dugaan ku motor mas Anto tidak ada di tempatnya. Segera aku berbalik lorong belakang. Aku mencoba mencari celah untuk mengintip kedalam kamar mbak Diah. Tapi usahaku siasia karena terhalang dinding dapur. Hanya saja aku sempat mendengar lapat lapat desahan nafas dan sayup sayup suara erangan sehingga aku yakini sedang terjadi sesuatu didalam sana. Aku kembali kekamarku menunggu . Dengan suasana hati yang tak menentu, aku hanya berharap tahu siapa gerangan pemilik sandal yang telah mengisi malam sepinya mbak diah. Aku tak beranjak jauh dari pintu belakang kamarku dan sengaja kubuka sedikit sehingga masih bias mengintip kea rah pintu belakang mbak Diah. 15 menit berlalu aku mendengar suara daun pintu berderit meskipun sangat pelan tapi cukup membuatku segera mengambil posisi yang telah kupersiapkan. Aku melihat sosok mbak Diah keluar kemudian melihat kiri kanan mungkin memastikan keadaan aman, setelah itu kulihat dia memberi kode kedalam maka keluarlah sesosok lelaki yang sangat aku kenal.. Pak Evi tetangga sebelahku aku tersurut kaget benar benar tidak menyangka dan setengah tidak percaya dengan apa yang kusaksikan. Setelah keadaan tenang aku kembali ketempat tidurku. Ada scenario dalam kepalaku. Dan aku pun tersenyum sendiri.

Keesokan harinya seperti biasa aku telat bangun, maklum hari minggu. Masih terbayang peristiwa semalam dan rencana yang telah kususun. Aku bersemangat bangun dan langsung menuju lorong belakang aku berharap ketemu mbak Diah dibelakang, tapi aku harus kecewa. tak apalah masih banyak waktu. Dan aku segera menyambar handukku masuk kamar mandi sambil bernyanyi kecil. Habis mandi aku bermaksud membuang waktu dengan duduk di beranda kamar ku ngopi dan sekalian melihat keadaan tetangga tetanggaku. Heran aku juga tidak melihat bu Evi hari itu. Selang beberapa saat kulihat mbak Diah datang, rupanya dia baru habis belanja di warung.

Eh dik Hadi .. udah bangun ya Sapa mbak diah ramah seperti biasanya.
Iya mbak, mas Anto masih tidur? tanyaku balik
Iya dik, mas Anto baru pulang pagi, kan tugas malam katanya menerangkan
oh iya mbak gak ada acara nyuci hari ini? Nitip doong
boleh, tapi ntar ya abis masak, tapi jagain Endah ya
Siip kataku

Aku pun mengambil alih endah dari mbak Diah, aku setelkan dia lagu anak anak dari DVD portable ku maka endah pun bernyanyi nyanyi sendiri di kamarku. Selang beberapa lama kudengar mbak Diah memanggil lewat pintu belakangku.

Dik Hadi mana cuciannya?
itu mbak yang dibelakang, udah tak rendem dari semalem sahutku menimpali.

Aku segera beranjak kebelakang, saatnya memulai rencana. Perlahan kudekati mbak Diah. Memberi kode agar dia mendekat. Mbak Diah menghampiriku.
Semalam aku melihat sesuatu disini bisikku. Sengaja membuatnya terkejut. Dan reaksinya memang seperti yang kuharapkan. Diapun lebih mendekat.Lihat apa? mbak Diah ikutan berbisik.

Ada deh.. godaku. Merah padam mukanya mbak Diah. Tapi dia segera menguasai diri. Dia taruh telunjuknya di atas bibir.Nanti aja diomongin bisiknya lagi
Siip kataku sambil mengangkat jempol.

Aku memulai hayalanku ditempat tidur dengan perasaan menang, yakin akan mendapat sesuatu. Pikiranku sedemikian jauhnya sampai tak sadar aku tertidur dan lupa makan. tok tok.tok setenagah sadar aku mendengar pintu kamarku di ketok.

Aku bangkit dari tempat tidur dan yang pertama kurasakan adalah perutku yang minta diisi. Kulirik jam bekerku, ah.. rupanya sudah jam setengah tiga, pantesantoktok kembali kudengar pintuku di ketok.

Aku bergegas membuka pintu, kiranya mbak diah yang sedari tadi mengetok pintu.ya mbak ada apa? tanyaku

ini mau nganterin makanan , tadi mbak masak lebih, mbak liat dari tadi kamu gak keluar rumah.. pasti belum makan katanya sambil mengulurkan sepiring nasi komplit dengan lauknya.iya juga mbak, aku ketiduran, mas anto udah bangun?
udah tuh lagi pergi sama endah kerumah temennya
ooh berarti udah aman ya kataku sambil mengedipkan mata
kamu itu bikin mbak penasaran, memang liat apa semalem katanya masih berpura pura.

ntar aku cuci tangan dulu, tak ceritain sambil makan ya aku bergegas menaruh makanan di meja kecil di beranda dan masuk untuk cuci tangan, kubiarkan mbak diah penasaran menungguku.
ayo ngomong liat apa semalem mbak diah langsung menyerangku begitu aku muali menyantap makanan, aku hanya senyum senyum sambil ayik menghabiskan makanan ku.cepetan dong, ntar mas anto keburu pulang pintanya memelas.

Akhirnya aku pun menceritakan apa yang kulihat, termasuk mengetahui siapa adanya lelaki pemilik sandal. Lama mbak diah terdiam sampai akhirnya
Di, kamu bisa pegang rahasia ini kan?, mbak gak mau mas anto sampai tahu, kmu pasti tahu akibatnya buat mbak lagi lagi dia meminta dengan memelas.
tenang aja mbak, aku bisa jaga rahasia kok. Tapi aku juga bakal minta sesiuatu dari mbak jawabku
kamu jangan memeras mbak ya, kamu kan tahu mbak nggak punya uangaku nggak minta uang kok selaku
trus kamu minta apa

aku minta sesuatu yang mbak punya dan bisa kasi kataku sambil memberi kode ke arah dadanya
hah kamu mau sama mbak?knapa? Mbak nggak mau ngasih
Bukan gitu, mbak kan udah punya anak emang kamu mau?
ah aku kan pingin yang berpengalaman kataku cekikikan.
ya deh kalo itu mbak bisa kasi, tapi jangan dipaksain ya liat keadaan, jangan sampai mbak celaka

oke, aku juga pasti menjaga mbak kok.. tenang ajaomong omong bu evi kemana? Koq pak evi nya bisa lepas?

ooh, biasa tiap sabtu mbak evi nginap di rumah orang tuanya karena harus gantian ama saudaranya jagain orang tuanya yang udah tuaitu sebabnya ya he..he..
ya biasanya sabtu dianterin sama pak evi, minggu dijemput lagi

ngerti deh kataku sambil mengejapkan mata, dan mbak diah pun tersenyum malu.ntar malam mas Anto shift malam lagi gak? tanyaku
iya knapa? Kmu mau ntar malem?
kalo boleh sih
liat keadaan ya..
oke
Begitulah akhir dari transaksiku, aku tinggal menunggu hadiah yang dijanjikan tiba.

Waktu yang kutunggu pun tiba, dari balik pintu kamarku aku mendengar suara motor mas anto menjauh, dan mbak diah berdiri di beranda melepas suaminya berangkat kerja. Setelah motor gak terlihat aku keluar kamar. Mbak diah menoleh kearahku sambil berbisik..

endah belum tidur, ntar mbak kasi kode sambil menganggukkan kepala, aku pun mengerti. Menunggu sekitar 30 menit kudengar tembok di ketok , inilah kode nya pikirku, dan aku bergegas ke arah belakang. Aku tidak mau kecolongan seperti pak evi, jadi kudekati pintu belakangnya mbah diah tanpa sandal.. he..he langsung kubuka pintu perlahan yang ternyata tidak terkunci. Pemandangan yang disuguh kan didalam kamar sungguh membuatku terpana, mbak diah tiduran ditempat tidur dengan mengenakan baju tidur yang amat tipis, ikatan tali dipinggangnya tak cukup menutupi dadanya yang terbuka tanpa mengenakn BH, sehingga terpampanglah belahan bukitnya yang indah. Aku sudah sering melihat belahan dadanya ketika sedang menjemur pakaian ataupu menyapu di halaman, tapi malam ini sungguh sangat menggairahkan. Mbak diah hanya tersenyum.
sudah puas melihat ini katanya sambil menunjuk ke arah dadanya

mungkin aku harus memegangnya gurauku sambil mendekat. Langsung saja kubuka bagian atas bajunya dan langsung kunikmati dada montok yang telah menantiku itu. Pelan kuremas sementara bibirku mencari cari putingnya yang lain. Aku puaskan diriku menciumi buah dada mbak diah, sementara diapun mulai merintih pelan.
di, aku pingin liat barangmu bisiknya disela sela pergumulan kami.
penasaran ya?

mmh tangan mbak diah langsung meluncur kearah selangkangan ku, dia berhenti ketika menggenggam penisku dari balik celana yang masih kupakai, digenggamnya beberapa kali , mungkin membanding bandingkan milikku dengan suaminya atau pak evi.kayaknya gede juga ya katanya
kalo mau liat aslinya buka aja mbak, aku gak keberatan kok kataku

Mbak diah langsung membalik posisi, dia diatas menindihku, kemudian sedikit demi sedikit menurunkan wajahnya kearah perutku. Akhirnya mencapai tonjolan selangkanganku.. dia meraba dengan halus membuatku jadi merinding dan tentu saja adek kecilku langsung melonjak, dia mulai menggenggam perlahan dan seperti sangat menikmati, perlahan disingkapnya celanaku, tanpa basa basi penisku melonjak keluar. Mbak diah tersenyum kearahku, mulai diciumnya penisku pertama dengan ujung hidung, kemudian berlanjut dengan bibirnya. Serasa meledak mendapat perlakuan sopan seperti itu. Perlahan bibir mbak diah terbuka, diarahkannya kepala penisku kemulutnya, pintar sekali dia mebuatku melayang. Sekarang penisku sudah sepenuhnya dalam kulumannya, terasa jilatan lidah mbak diah sesekali menyentuh ujung penisku aku sudah lupa diri. Tiba tiba dikeluarkannya penisku dari dalam mulutnya. Ahh aku langsung sadar kembali.Besar juga bisiknya
Aku hanya tersunyum puas dengan ucapannya.
mbak buka dong
sabar sayang, kita banyak waktu koq
ya mbak.. tapi aku dah mau meledak nih mbak diah tertawa kecil mendengar kataku.

kamu yang buka ya sekali lagi aku membalik posisi, kali ini mabak diah tidur dengan pemandangan indah nya. Aku mulai membuka baju tidurnya perlahan sambil sesekali mengecup outing mbak indah yang sudah sedemikian menantangnya. Aku hanya mendengar desahan desahan yang semakin membangkitkan nafsuku dari bibir mbak diah. Sekarang yang tampak adalah tubuh tanpa sehelai benang yang siap menantiku. aku terus melanjutkan gerilya mulutku di sekujur tubuh mbak diah, tanganku mulai melepas celanaku dan langsung kulemparkan tanpa peduli jatuh dimana. Kugesekkan penisku diselangkangan mbak diah. Kali ini aku sengaja mengulur waktu bermaksud membuat mbak diah penasaran. Pinggul mbak diah mulai bergerak liar. Tampak dia berusaha mencarikan lobang untuk penisku yang kini sangat tegang.
ayo di. Masukin sayang, mbak udah nggak tahan
bantuin dong mbak kataku pula.

Mbak diah mulai mencari penisku lagi, setelah dalam genggamannya, dia mulai mengarahkannya ke liang kenikmatannnya. Aku mengimbangi dengan melakukan sedikit penekanan. Agak susah masukknya.kok susah masuknya mbak
punyamu kegedean, mmmh pasti nikmat nih dia mendesis

Akhirnya dengan bantuan tangan mbak diah penisku mulai memasuki vaginanya mbak diah yang hangat dan basah. Aku tidak mau terburu buru, jadi kugerakkan perlahan penisku dalam vaginanya mbak diah sambil menikmati setiap gesekannya, desahan mbak diah juga memberi sensasi tersendiri. Mbak diah pun selalu memberi gerakan pinggul yang menambah kenikmatan yang kurasakan malam itu. Aku bertahan dengan gaya itu beberapa saat sampai akhirnya

aduh di mbak mau keluar, kasi mbak keluar dulu ya katanya tanpa memberi kesempatan aku untuk menjawab, tangan mbak diah menekan pinggangku sampai seluruh penisku terhisap kedalam vaginanya, dia terus meracau tak jelas, tapi aku tahu dia sedang dalam puncak puncaknya. Aku merasakan dinding vagina mbak diah berdenyut denyut seperti mencengkram penisku kuat kuat. Aku biarkan dia menikmati sesaat sampai pegangan dipinggangku agak kendor.maaf ya di.. mbak gak tahan, habis penismu enak banget, vagina mbak rasanya penuh katanya
gak apa mbak kan bisa di ulang

pasti mbak layani, mbak bikin kamu puas di, lagian penismu enak

Begitulah malam itu kami melanjutkan petualangan, ternyata mbak diah type wanita yang agak hyper. Malam itu dia keluar sampai 7 kali sementara aku dapat 2 kali. Dari dia pula aku tahu kalo mas anto tidak begitu kuat di ranjang, paling hanya bisa memberinya sekali sementara mbak diah punya keinginan lebih dari itu. sedang dari pak evi katanya dia bisa dapat 2 sampai 3 kali meskipun penisnya tidak sebesar punyaku. Aku puas malam itu dan kembali ke kamar dan tertidur pulas sampai pagi.
Episode Bu Evi

Mungkin karena kelelahan atau terlalu puas, pagi itu aku bangun agak terlambat. Aku mandi dengan terburu buru. Dengan hanya handuk melilit tubuh aku kebelakang kamar mencari pengganti CD, tak peduli keadaan sekeliling aku ganti CD di belakang kamar. Tiba tiba aku mendengar suara seseorang menjerit. Rupanya bu evi baru keluar dari kamarnya dan hendak menjemur pakaian kaget melihatku telanjang. Aku juga kaget, handukku jatuh dan CD yang mau kupakai baru sebatas lutut. Lama tertegun aku lupa kalau penisku masih bergelantungan. maaf bu, kirain gak ada orang kataku iya.. iya tapi kok gak buru buru ditutupin, mau pamer ya wah aku tersentak dan langsung merapikan CD ku. Untung bu evi gak marah dan malah menggodaku. anu bu, aku kesiangan jadi gak konsen, maaf ya bu kataku lagi gak apa apa, mbak juga gak nyangka dapat pemandangan gituan pagi pagi katanya tersenyum sambil menatap ke arah penisku. Aku jadi kepingin iseng menggoda, maklum aku juga suka dengan body bu evi yang selalu mengundang terutama toketnya. kalo mau bukan cuma pemandangan yang bisa dinikmati, barangnya juga bisa kok yee. Udah sana ntar telat kerjanya katanya mengingatkan.

Ternyata dia gak marah, dan menurut feelingku kayaknya dia ada minat dengan penisku setelah apa yang disaksikannya. Aku bergegas masuk kamar dan cepat cepat berpakaian sekenanya, sebelum berangkat aku mencoba mengisengi bu evi sekali lagi. ntar dilanjutkan ya mbak (aku mulai memanggil mbak) kataku sambil melongokkan kepala dari pintu kamarku. hus cepat kerja sana bu evi memonyongkan bibirnya sambil tersenyum manis dan menurutku itu sangat menggoda. Aku gak konsentrasi di tempat kerja, bayangan godaan bu evi gak bisa lepas dari otakku. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, aku minta ijin bosku untuk pulang dengan alasan nggak enak badan. Aku hanya ingin segera menyelesaikan urusanku dengan bu evi. Memasuki rumah kost, yang pertama kucari adalah motor pak evi, meskipun aku tahu dia biasa kerja pagi tapi aku harus memastikan. Yakin aman, aku masuk kamar dan langsung membuka pintu belakangku. Sepi. Jam jam segini orang sedang kerja, kalaupun dirumah paling mengurung diri dikamar, Mbak diah pasti masih ngurus suaminya yang baru bangun habis kerja malam.

Aku melangkah kepintu belakang bu evi, perlahan ku ketok pintunya. Dan aku juga sudah mentyiapkan alasan jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Pada ketukan kedua aku mendengar langkah kaki mendekati pintu. Ada apa dik hadi tanya bu evi dengan tersenyum. itu. mau melanjutkan yang tadi kataku kamu nekat ya pasti bolos ya cecarnya tapi dengan suara berbisik kan udah janji aku menyahut bodo bodohan. kamu serius? ya.. iyalah, masak nggak aku udah kepalang menjawab Bu evi memperhatikan sekeliling. masuk sini, nanti diliat orang katanya. Aku berjingkrak gembira. Ternyata apa yang aku pikirkan tidak meleset. Bu evi memberi jalan kepadaku. ssst jangan keras keras, evi lagi tidur bisiknya kamu mau apa? kan mbak udah ngerti masak dijelasin lagi kataku nyengir Lama bu evi terdiam. Tapi akhirnya dia tersenyum lagi. rahasia kita berdua ya jangan sampai orang lain tahu katanya iya lah mbak masak aku mau bikin perkara sama ingat ini cumin buat senang senang saja, tidak ada perasaan. Aku nggak mau dipaksa paksa ya.. ya mbak, saya setuju Dengan demikian mulailah petualangan baru dengan bu evi hari itu. Sejak lama aku mengagumi toket bu evi ini, maka tak kusia siakan hari itu untuk menikmati sepuasnya. Aku menyusu seperti anak kecil hanya bedanya diiringi dengan desahan desahan kecil bu evi.

Tubuh hitam manis itu sudah ku miliki sekarang . aku membenamkan wajah ku di belahan toket bu evi. Kunikmati aromanya, aku sangat bergairah. Begitupula bu evi. Kami telah telanjang bulat dan aku bersiap mencari akhir dari permainan ini. Genjotan ku selalu mendapat perlawanan dahsyat. Bu evi bertahan cukup lama, beda dengan mbak diah. Lubang memeknya lebih lengket tidak terlalu banyak cairan. Yang lebih dari memek bu evi ini adalah aku merasa penisku susah dicabut ada yang menyedot dari dalam, dan senyum bu evi pun tak henti hentinya terpampang. aku diatas ya.. tiba tiba dia menghentikan gerakanku. Dan tanpa menungggu persetujuanku dia berguling, dengan posisi diatas dia mulai mengatur rithme genjotan. kamu diam saja, nikmati saja ya katanya dan akupun hanya mengangguk. Bu evi mulai dengan gayanya sendiri, kakiku diluruskannya dan meninggalkan penisku tegak, perlahan dia mengangkangi penisku. Dengan bantuan tangannya dimaukkannya penisku kedalam vaginanya, pelan tapi habis sampai ke pangkal. Dia mendesah. Aku merasa ujung penisku ada yang mengganjal. Mungkin mentok. Kembali bu evi tersenyum. Dia mualai bergerak naik turun.

Aku dapat memandangi seluruh tubuhnya sekarang. Toket besarnya ikut naik turun mengikuti irama gerakan pantatnya. Hanya beberapa menit aku bertahan seperti itu. Aku merasa penisku panas dan terasa laharku sebentar lagi akan menyembur. mbak aku udah mau keluar aku memperingatkan. iya sayang aku juga mau kita sama sama ya nafas bu evi mulai memburu, dia mempercepat gerakannya, dan aku berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak muncrat duluan. Aku ingin member kesan bahwa aku tidak kalah dari dia. Aku kaget ketika bu evi menghempaskan tubuhnya keatas dadaku sambil berkata.. aku keluar.. aku keluar didiringi dengan dekapan yang sangat erat dia mengejang beberapa kali.

Dan aku berniat segera menyusulnya. mbak aku keluar aku bermaksud mencabut penisku tapi dia menahanku. lepaskan didalam saja sayang aku mau merasakan kehangatan sperma kamu katanya Kutarik wajah bu evi, dan aku melumat bibirnya, sementara penisku mulai memuntahkan isinya dalam memek bu evi. Dia benar benar tahu apa yang harus dilakukan. Dia memutar pantatnya seperti hendak menguras habis isi penisku. Aku tersenyum puas. makasih mbak mbak hebat sekali kamu juga hebat sayang kamu memberiku kepuasan yang berbeda hari ini, lain kali mbak boleh minta kan? dengan senang hati mbak jawabku sambil member kecupan dibibirnya.

Aku mengahiri hari itu dengan senyuman, dan beristirahat dengan lelap. Aku bermimpi membawa kedua wanita tetanggaku kedalam kamarku dan kami main bertiga. Aku jalani kehidupan seks dengan dua wanita tetangga sekitar satu tahunan lebih, dalam seminggu aku bias bermain 3 sampai empat kali. Jadwal yang baik mebuat mereka tidak tahu satu sama lain kalau aku mengencani mereka berdua. Mbak diah yang putih, cantik dan hyper memberiku kebanggaan sebagai lelaki karena dia sering memberiku pujian atas permainanku. Sedangkan bu evi selalu memberiku kenikmatan lebih saat kami bercinta, memeknya yang hangat dan kering serta sedotannya tidak ku dapat dari wanita manapun.

Satu persatu mereka pindah dari tempat kost yang banyak memberi kenangan. Keluarga bu evi pindah terlebih dahulu karena membeli rumah saudaranya dengan harga murah dan sekarang tinggal lebih dekat dengan keluarganya. Sedangkan keluarga mbak diah menyusul dua bulan berikutnya karena mas anto membeli rumah disebuah komplek perumahan. Namun demikian kami masih tetap berkomumikasi dan sesekali melakukan pertemuan diam diam dan melanjutkan petualangan kami. Hanya saja tidak bisa sesering ketika masih bertetangga. Sekian dulu ya kawan ceritaku, lain kali aku juga pingin cerita tentang petualangan lanjutan baik dengan bu evi ataupun mbak diah yang kayaknya seru untuk diceritakan. Aku tutup cerita ini karena tanganku sudah pegal.

Ah Perih Banget

Istri sudah punya anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada awalnya aku cuma iseng iseng saja. Lamalama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang. Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan.

Dari perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak lakilaki berusia 8 tahun dan seorang anak cantik berusia 3 tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan. Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini bisa terjadi karena keisenganku, bermainmain api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu. Awalnya aku cuma iseng2 main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis2 cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari lakilaki hidung belang.
Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat sintal seksi, kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagulagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian. Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malumalu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini. Sendirian aja nih.., Omm.., sapanya dengan senyuman menggoda. Eh, iya.., sahutku agak tergagap. Perlu teman nggak..? dia langsung menawarkan diri. Aku tidak bisa langsung menjawab.
Sungguh mati, aku benarbenar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya. Semula aku memang canggung, Tapi lamakelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani merabaraba dan meremasremas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka. Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali ke masa remaja. Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benarbenar lupa pada anak dan istri di rumah.
Aku bersenang senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh. Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputarputar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas. Entah kenapa, tibatiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak ketika aku mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan. Jarijariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciumanciuman yang membangkitkan gairah.
Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. Aku tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara. Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu aku melucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat di tubuh Reni yang padat berisi. Reni mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya.

Â

Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jarijemariku bermainmain dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni menggelinjang dan semakin bergairah. Tergesagesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun tangan gadis itu ke arah batang penisku. Entah kenapa, tibatiba Reni menatap wajahku, saat jarijari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian melepaskannya.
Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya. Jangan, Omm.., desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya. Kenapa? tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya. Aku.., hmm, aku.. Reni tidak bisa meneruskan katakatanya. Dia malah menggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak merekah. Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan berdenyutdenyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat geliat sehingga membuat batang penisku jadi sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa leluasa menggerakgerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.
Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang penisku melesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga Reni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruh uraturat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak kaget, aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di dalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku, saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya bahwa malam ini aku juga mengambil keperawanan dari gadis yang begitu aku sukai ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masih perawan. Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benarbenar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begitu berkobar kobar.
Aku mulai menggerakgerakan tubuhku, agar penisku dapat bermainmain di dalam lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakangerakan maju mundur penisku seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi. Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku memandangi bercakbercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya. Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula.., kataku mencoba menghibur. Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi.
Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan. Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain. Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya. Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan kecupan yang membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali. Pelanpelan, Omm. Perih.., rintih Reni tertahan, saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya.
Renny menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai menggerakgerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur. Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara gerakangerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan aku merasakan denyutandenyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyutdenyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan kejatankejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Renny. Akupun akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukan dengan Reni malam itu